Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Muhibbuddin Abdulmuid Yassin Marthabi

Saya manusia biasa yang makan dan minum…bisa lapar dan haus..yang bisa senyum dan sakit…bisa gembira selengkapnya

Amerika Serikat Akan Kalah Melawan Taliban

OPINI | 09 October 2010 | 10:30 Dibaca: 4797   Komentar: 6   1

Taliban dengan peralatan kuno dan sederhana

Taliban dengan peralatan kuno dan sederhana

Perang Amerika dan NATO melawan Taliban lebih lama dari Perang Dunia I dan Perang Dunia II, tetapi hasil yang sesuai diharapkan tidak kunjung tiba. Tulisan ini bukan sebuah dukungan salah satu pihak, Amerika Serikat atau Taliban, tetapi sedikit membuka tabir yang selama ini kita seolah dibius dengan pemberitaan-pemberitaan yang membesar-besarkan kehebatan tentara Amerika Serikat di medan tempur, khususnya pandangan terhadap sepak terjang tentara Amerika di Afghanistan yang semakin hari, terlihat semakin sempoyongan dan tidak terarah dalam menumpas milisi Taliban. Ribuan rakyat biasa sudah menjadi korban kebringasan tentara Amerika di Afghanistan, sedangkan bertambah tahun, taktik yang diinisiasikan oleh pakar perang dan pakar strategi perang Pentagon, juga tidak secepat dalam khayalan; menumpas habis milisi Taliban.

Panglima Jenderal Stanley McChrystal yang akhirnya dipecat karena komentar menghina terhadap petinggi pemerintah AS dalam wawancara denga majalah Rolling Stone, merupakan sosok berpengaruh yang ungkapannya tersebut juga menjadi bukti tentang menurunnya semangat untuk menang dan berperang menghabiskan waktunya di Afghanistan. Komentar Sang jenderal tersebut mengindikasikan bahwa kalutnya perencanaan lanjutan mengalahkan Taliban, dan menggambarkan kehebatan pasukan sekutu ternyata tidak sehebat dalam berita dan cerita.

Entah apa yang sebenarnya ada dalam angkatan bersenjata Taliban, mengapa sehingga hari ini keberadaannya semakin menambah deretan kekalutan panglima Amerika Serikat.

Berbagai jenis pesawat tempur dan peralatan canggih dikerahkan, berbagai taktik dan analisa perang juga muncul dalam rangka menundukkan dan memusnahkan milisi Taliban, ditambah pesawat kendali jarak jauh (pesawat tak berawak), kemudian berbagai satelit di angkasa juga dilibatkan, namun, setelah sembilan tahun perang sejak tahun 2001, belum juga membuahkan kemenangan bagi Amerika Serikat, yang kini kondisi perang Afghanistan menghadapi tahap kritis. Kendati waktu penarikan pasukan seperti yang dijanjikan AS semakin dekat, kemajuan di daerah itu belum memenuhi ekspektasi.

Bahkan pada bulan Juli 2010 lalu, Jenderal David Petraeus, panglima tertinggi misi di Afghanistan mengatakan bahwa pertempuran yang dihadapi lebih sulit dari yang diperkirakan. Petraeus memimpin 150 ribu pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Afghanistan, setelah ada penambahan pasukan tempur baru.

Perkembangan selanjutnya rupanya belum ada kejelasan, bagaimana ujung dari cita-cita Amerika di Afghanistan. Lebih buruk lagi setelah adanya informasi dari Wikileaks, yang menyebutkan berbagai perilaku tentara NATO/Amerika yang menunjukkan kondisi fatalisme akut dan keputusasaan melawan milisi Taliban, sehingga berperilaku seolah sebagai orang yang tidah sehat mentalnya.

[/caption]

Taliban yang dahulunya merupakan sekutu Amerika, pada saat peperangan Afghanistan melawan Uni Soviet, dipimpin Mullah Omar, hanya bersenjatakan peralatan kuno dan tidak seberapa canggih. Pada awal peperangan tahun 2001, banyak yang mengira bahwa akan mudah mengalahkan Taliban. Dengan pesawat supercanggih Amerika ditambah pasukan NATO, menyerang dengan gegap gempita sambil menyanyikan lagu-lagu kemenangan. Al hasil, beberapa hari saja, memang pemerintahan Taliban tumbang dan pejabatnya banyak yang menyerahkah diri dan ditangkap. Tetapi ternyata dugaan bahwa mudah mengalahkan Taliban, menjadi berbalik arah, sebab sehingga hari ini, setelah berbagai peralatan canggih dikerahkan, dana milyaran dolar dihabiskan, ribuan tentara penjajah mati, hingga detik ini Taliban belum dapat ditumpas sampai tuntas.

Taliban bahkan masih menunjukkan eksistensinya yang gemilang beberapa kali memenangi pertempuran secara tak terduga di beberapa sebagian wilayah Afghanistan.

Bisa dibandingkan seandainya hanya Amerika sendirian yang menyerang Taliban, maka akan semakin kocar-kacir tidak karuan.

Kemungkinan bom nuklir untuk menyerang Taliban?

Setiap peperangan oleh Amerika dipastikan sudah ada planning dan draf penyerangan menggunakan bom nuklir, senjata andalan Amerika, sebagaimana sudah mampu mengalahkan Jepang dalam Perang Dunia II. Akan tetapi realisasi menggunakan bom nuklir tentunya mengestimasikan sebuah kemenangan, sehingga bom yang dijatuhkan tepat sasaran dan tidak justru membuang sisa radioaktif tanpa hasil memuaskan.

Amerika bukan negara yang memiliki pertimbangan kemanusiaan jika sudah berbicara soal bom nuklir. Jadi pertimbangan mengapa sampai detik ini tidak menggunakan senjata nuklir tentu bukan alasan kemanusiaan dan perlindungan terhadap lingkungan sekitarnya terkait jejak bom nuklir yang bisa merusak alam sekitarnya, tetapi ini berdasarkan kemungkinan kecil mencapai kemenangan meskipun menggunakan senjata nuklir melawan Taliban. Kenyataan ini menjelaskan bahwa arsitek perang Amerika dan NATO melawan Taliban juga tidak melihat ada kemenangan walaupun bom nuklir dijatuhkan di Afghanistan, berdasarkan beberapa pertimbangan sebagai berikut (menurut penutis):

  1. Senjata bom nuklir hanya mampu mengalahkan sasaran yang terkonsentrasi dalam satu lokasi seluas kurang lebih 50 mil. Zona terluas yang mampu dijangkau bom nuklir sebesar 20 megaton adalah 35 mil. Zona 40 mil merupakan zona aman dari radiasi dan jangkauan ledakan nuklir. Jadi 50 mil dari pusat ledakan bom nuklir lebih bebas dari efek nuklir
  2. Pasukam milisi Taliban merupakan pejuang yang sudah mempertimbangkan kondisi adanya kemungkinan serangan bom nuklir ini, sehingga sudah dipastikan akan membentuk koloni-koloni kecil dalam setiap radius 50 mil.
  3. Serangan 20 megaton bom nuklir tidak mungkin dijatuhkan hanya untuk membunuh sebuah koloni Taliban yang berisi milisi Taliban dalam jumlah kecil.

Perang adalah perang, hanya ada dua pilihan menang atau kalah. Bagi Amerika, semenjak jatuhnya pemerintahan Taliban, selalu mengisi hari-harinya dengan mimpi dan khayalan tentang kemenangan dan kehebatan tentaranya, sedangkan di daerah-daerah di Afghanistan semakin menguat dan menunjukkan tidak adanya kata menyerah dalam berperang melawan tentara modern sekelas Amerika dan NATO.

Haruskah Amerika akan bernasib sama seperti pada saat melawan tentara Vietkong di Vietnam, dengan mundurnya pasukan Amerika dari Afganistan dengan memalukan dan terhina? Terima atau tidak, saat itu akan menjelang juga.

Pertimbangan lainnya, melihat kembali Uni Soviet dalam perang di Afghanistan, di mana pada puncak penghabisan melawan tentara Afghanistan ketika itu, Uni Soviet telah mengerahkan 320 000 pasukan di Afganistan selama usaha yang dilakukannya untuk menduduki Afghanistan pada tahun 1980an. Pada akhirnya, Uni Soviet meninggalkan wilayah itu dengan dipermalukan dan dikalahkan. Marsekal Sergei Akhromeyev, panglima angkatan bersenjata Soviet ketika itu, menyimpulkan invasi itu dalam laporannya di politbiro Uni Soviet di Kremlin pada tanggal 13 November 1986 bahwa: “nyaris hampir tidak ada bagian penting tanah Afghanistan yang belum pernah diduduki oleh salah satu prajurit kita suatu waktu atau lainnya, “kata komandan itu. “Namun demikian, sebagian besar wilayah itu tetap berada di tangan para teroris. Kami mengontrol pusat-pusat propinsi, tetapi kami tidak dapat mempertahankan kontrol politik atas wilayah yang kita merebut.” Dia menambahkan: “tentara kami tidak bisa disalahkan. Mereka telah berjuang dengan luar biasa berani dalam kondisi buruk. Tapi untuk menduduki kota-kota dan desa-desa untuk sementara waktu hanya memiliki nilai yang kecil dalam negeri yang begitu luas, di mana para pemberontak bisa menghilang begitu saja ke atas bukit.”

Amerika akan mengubah bahasa Kekalahan melawan Taliban dengan bahasa lain

Di bawah ini beberapa kemungkinan Amerika akan menggunakan bahasa lain untuk menggantikan bahasan “kekalahan melawan Taliban”:

  1. Amerika akan menggantikan “kekalahannya di Afghanistan” dengan “penyerahan kekuasaan Afghanistan kepada pemerintah demokratis Hamid Karzai”
  2. Amerika akan merubah kekalahannya dengan kalimat “peperangan sudah usai, sebab Taliban sudah tidak memiliki pendukung di seantero Afghanistan”.
  3. Amerika kekurangan anggaran untuk alokasi perang
  4. Amerika sudah berganti pemerintahan
  5. Amerika akan menyalahkan Pakistan dalam perang melawan Taliban
  6. Amerika akan menyalahkan Iran dalam hal ini
  7. Amerika akan mundur dari Afghanistan untuk berkonsentrasi melawan Iran

Sumber :

http://www.reuters.com/places/afghanistan-pakistan

http://www.eramuslim.com/berita/dunia/hebatnya-taliban-bisa-bikin-as-bangkrut.htm

http://arrahmah.com/index.php/news/read/9446/rudal-as-bunuh-mujahidin-di-pakistan

http://www.antaranews.com/berita/1279509904/gurkha-penggal-taliban

http://www.voa-islam.com/news/afghanistan/2010/02/15/3321/konvoi-helikopter-terbesar-dalam-sejarah-perang-afghanistan/

http://hariansib.com/?p=144960

http://www.suaramedia.com/berita-dunia/asia/28979-lancarkan-propaganda-as-galang-perang-radio-lawan-taliban-.html

http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/internasional/10/07/27/126870-bocornya-dokumen-perang-semakin-sudutkan-obama

http://jamaahmasjid.blogspot.com/2010/07/afghanistan-sedang-di-ambang-gerbang.html

http://wikileaks.org/wiki/Afghan_War_Diary,_2004-2010

http://moebsmart.co.cc/?p=1064

http://bataviase.co.id/node/282673

http://musadiqmarhaban.wordpress.com/2007/08/14/kekuatan-nuklir-selesai/

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=26358

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Rembug Provinsi, Ajang Dialog Menata Jakarta …

Nur Terbit | | 26 November 2014 | 15:41

Nangkring bareng Litbang Kementerian …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 19:25

Minta Maaf Saja Tidak Cukup, PSSI! …

Achmad Suwefi | | 26 November 2014 | 11:53

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Maaf Anang, Aurel Tak Punya Suara dan Aura …

Arief Firhanusa | 4 jam lalu

Ini Kata Menpora Terkait Gagalnya Timnas …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Teror Putih Pemecah Partai Politik …

Andi Taufan Tiro | 9 jam lalu

Pak JK Kerja Saja, Jangan Ikutan Main di …

Hanny Setiawan | 10 jam lalu

Kisruh Golkar, Perjuangan KMP Menjaga …

Palti Hutabarat | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Nyawa Golkar Tinggal Seperempat …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Review “Attila Marcel”, Fantasi Komedi …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Tak Masalah Seberapa Pelannya Kamu Nak, Asal …

Tri Lovianti | 8 jam lalu

Potensi Ekonomi Fatahillah …

Azis Nizar | 8 jam lalu

Sertifikasi Pemain Timnas Indonesia …

Tri Adriyanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: