
Dibaca: 256
Komentar: 3
Nihil
Kita tentunya masih ingat dengan seorang polisi, Briptu Norman yang populer setelah video lipsync-nya muncul di situs video Youtube. Tak berselang lama setelah video itu muncul, Briptu Norman pun langsung mememenuhi pemberitaan di berbagai media massa. Tentu saja aksi lypsinc lagu India, “Chaiya, Chaiya” yang dilakukannya membuahkan sanksi bagi dirinya apalagi hal itu dilakukannya di tengah bekerja. Meskipun begitu, ramainya pemberitaan dirinya di media massa membuat kepolisian ‘menggunakan’-nya untuk publisitas.
Memang, di tengah popularitas dan rasa percaya masyarakat kepada kepolisian yang menurun adanya Briptu Norman rasanya bisa menjadi penolong untuk menaikkan citra positif polisi di mata masyarakat. Namun, apakah seperti itu caranya untuk menaikkan popularitas dan citra positif polisi di mata masyarakat? Coba sekarang kita lihat polisi di luar negeri, Amerika Serikat (AS) misalnya. Apa yang kita pikirkan saat melihat mereka? Saya yakin pasti ada yang berpikir bahwa mereka merupakan pelindung dan penjaga keadilan bagi masyarakat AS.
Apa yang membuat kita memiliki pikiran bahwa mereka merupakan pelindung dan penjaga keadilan? Salah satu jawabannya adalah film. Ya, film action AS yang bertema kepolisian merupakan pembentuk image terhadap para polisi di AS. Film baik yang berupa serial maupun film layar lebar TV seperti CSI dan Hawaii Five-O telah memberikan gambaran bagaimana hebatnya para polisi bekerja menangkap penjahat. Dalam CSI misalnya, kita melihat para CSI (Crime Scene Investigator) menangkap pelaku pembunuhan dengan menggunakan ilmu forensik yang mengandalkan teknologi tinggi dan analisa tajam. Begitu juga dalam Hawaii Five-O, kita diperlihatkan tim kepolisian di Hawaii yang dipimpin oleh detektif Steve McGarret yang digambarkan gagah dan selalu berhasil memecahkan setiap kasus yang dihadapi.
Apa yang diperlihatkan oleh film-film tersebut telah membentuk gambaran pada diri kita tentang kepolisian AS. Di Indonesia, film-film action AS telah merambah dari bioskop hingga di tayangan televisi dan tak pelak mempengaruhi pandangan masyarakat Indonesia.
Bagaimana pandangan masyarakat Indonesia terhadap kepolisiannya? Banyak yang sudah menyebutkan bahwa citra kepolisian di Indonesia kurang baik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sering terjadi kasus polisi yang meminta ‘uang damai’—uang suap—saat menilang. Tidak hanya kasus suap, kasus korupsi dan skandal lainnya pun sudah pernah menodai citra kepolisian Indonesia sehingga tidak heran apabila citra kepolisian kurang baik.
Meskipun begitu, apakah berarti kepolisian Indonesia kalah dengan AS misalnya yang ditunjukkan dalam film-film begitu perkasa? Saya rasa tidak. Yang dibutuhkan oleh kepolisian Indonesia adalah media untuk menyampaikan kinerja dan pencapaian positifnya. Polisi seharusnya dapat memanfaatkan media film seperti di AS sehingga dapat dibentuk gambaran yang positif terhadap kepolisian. Memang, menampilkan sosok Briptu Norman dengan ‘aksi’-nya dapat dijadikan sarana untuk menyampaikan bahwa polisi pun dapat menghibur, namun masyarakat Indonesia membutuhkan bukti dan media bahwa kepolisian bekerja dengan baik. Salah satu jalannya adalah dengan film baik fiksi maupun dokumenter tentang kepolisian. Selain dapat menaikkan citra kepolisian, saya rasa pembuatan film tentang polisi juga dapat membantu dunia perfilman nasional yang kini dipenuhi cerita ‘horor’.