Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Sarjito Ir

volunteer NGO, tinggal di Lhokseumawe-NAD

Derita Guru di Puncak Jaya, Papua

OPINI | 06 May 2011 | 12:44 Dibaca: 528   Komentar: 11   2

*Tak Bisa Mengajar karena Ulah OPM

Hampir semua Guru SD, SMP dan SMA di Kabupaten Puncak Jaya kerap meninggalkan tempat tugasnya. Demikian pernyataan Bupati Puncak Jaya Lukas Enembe di Kota Mulia, Puncak Jaya, Papua , 3 Mei lalu. Menurutnya, kejadian ini berlangsung sejak lima tahun lalu. Banyak guru sudah mendapatkan SK di Puncak Jaya, beralih mengajar di   Nabire, Wamena dan tempat lain yang daerahnya lebih terbuka dari Puncak Jaya. Sebagian besar alasan guru meninggalkan tempat tugasnya karena faktor keamanan di daerah Puncak Jaya.

Kendati bukan karena kesalahan mereka, namun insentif guru-guru yang sering mangkir tersebut terpaksa tidak diberikan karena, menurut Bupati, pemberian UMP itu berdasarkan kehadiran. http://www.kbr68h.com/berita/daerah/5851-guru-enggan-mengajar-di-puncak-jaya

1304685600639744586

Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe

Masih menurut Bupati Puncak Jaya, penyebab para guru mangkir, lantaran tempat tugasnya dijadikan basis perjuangan kelompok sipil bersenjata pimpinan Goliath Tabuni. Beberapa sekolah terpaksa menghentikan aktivitasnya bahkan ada yang tidak beroperasi sejak tahun 2007 ketika kelompok sipil bersenjata ini  kerap terlibat baku tembak dengan TNI dan Polri.

Setahun silam, Kepala Distrik Tingginambut, Kab. Puncak Jaya, Eranus Kogoya, kepada sebuah media online nasional mengatakan ada sejumlah sekolah yang dibakar oleh OPM. Akibatnya, ribuan anak-anak tidak bisa sekolah lagi. Setelah membakar sekolah, kelompok yang dikenal bengis itu mengintimidasi warga untuk tidak bersekolah. Anggota kelompok separatis itu berjumlah sekitar 300 orang, dan masih terus mempengaruhi warga untuk bergabung. http://nasional.vivanews.com/news/read/160910-ribuan-anak-puncak-jaya-terlantar-sekolah

Kondisi riil ini mestinya menjadi keprihatinan kita bersama sebagai bangsa. Ephoria Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini memang dirayakan di seluruh pelosok negeri ini dengan berbagai cara. Mungkin ada upacara bendera di sekolah-sekolah, ada aksi unjuk rasa para guru honorer di kota-kota tertentu lantaran merasa diabaikan oleh Dinas. Sudah bertahun-tahun mengabdi tapi nasibnya tetap jadi guru honorer dengan gaji seikhlasnya dari kepala sekolah atau dari komite sekolah. Ada juga yang mengungkapkan isi hatinya melalui tulisan di media massa

Tapi ternyata ada fakta lain yang nyaris tak terliput oleh media massa. Bahwa ada sejumlah guru yang mengabdi di Papua terpaksa tidak bisa bertugas karena takut menjadi korban peluru nyasar dari kelompok sipil bersenjata maupun dari aparat keamanan.

13046857651094010469Sadar akan kondisi ini, Pangdam XVII /Cenderawasih Papua, Mayjen Erfi Triassunu lantas menggagas sebuah solusi cerdas, yakni memanfaatkan momentum Hardiknas tanggal 2 Mei 2011 dengan cara menyeleksi personel TNI untuk diberi tugas tambahan sebagai tenaga pendidik di sejumlah kawasan terpencil di Papua, khususnya di wilayah Kabupaten Puncak Jaya. Mereka nanti akan membantu mengajar di sekolah-sekolah yang kekurangan guru. Menurut Erfi, salah satu prioritas tugas TNI di Papua adalah mengurangi angka buta aksara di wilayah-wilayah terpencil dan terisolasi. http://www.kbr68h.com/berita/daerah/5829-kodam-cendrawasih-didik-prajuritnya-menjadi-guru-di-pedalaman

Mudah-mudahan langkah Pangdam Cenderawasih ini mendapat gayung bersambut dari rekan-rekan pegiat misi kemanusiaan yang ada di wilayah Papua. Soal keamanan, saya kira TNI dan Polri yang bertugas disana akan siap membantu dengan jiwa dan raga. Barangkali saudara-saudara kita yang masih mendapat predikat “OPM” pun membutuhkan sentuhan pendidikan. Terkait dengan momentum 2 Mei tahun ini, diperlukan pencerahan bersama untuk sadar se-sadar-sadarnya bahwa sebetulnya “musuh” yang mesti ditakuti oleh bangsa ini bukanlah bedil OPM, buakn senjata TNI, dan bukan juga bom para teroris, melainkan buta aksara, kebodohan, pikiran kerdil, dan…tentu saja korupsi.

Ir. Sarjito

Volunteer NGO, tinggal di Lhokseumawe-NAD

Sarjito_aceh@yahoo.com

Tags: opm papua guru tni

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Bedah Buku “38 Wanita Indonesia Bisa“ di …

Gaganawati | | 19 September 2014 | 20:22

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

Tidak Rasional Mengakui Jokowi-Jk Menang …

Muhibbuddin Abdulmu... | 5 jam lalu

Malaysian Airlines Berang dan Ancam Tuntut …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Awal Manis Piala AFF 2014: Timnas Gasak …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Jangan Bikin Stress Suami, Apalagi Suami …

Ifani | 10 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tokoh ISIS Perintahkan: “Eksekusi …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Pesawat Terbesar Dunia Airbus A380 Hadir …

Muhamad Kamaluddin | 7 jam lalu

Aceh dan Mimpi yang Belum Berhenti …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

Untuk Pengarang Pemula yang Mabuk Gaya …

Revo Samantha | 8 jam lalu

Forever Love …

Bapake Azka | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: