Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Cakidur

Hobi membaca dan menulis. Tertarik dengan ICT, pertahanan, teknik, dan sosio-ekonomi.. Ngeblog juga di www.cakidur.wordpress.com selengkapnya

Pesawat TNI-AU Digencet Pesawat Radar Negara Tetangga

OPINI | 04 June 2011 | 19:37 Dibaca: 960   Komentar: 10   1

1307215147350308339

Saab 340 Erieye

AU Malaysia (TUDM) tahun ini telah menganggarkan pembelian pesawat pendeteksi dini atau AEW& C (Airborne Early Warning, Control) sebesar RM 11 milyar untuk memperkuat operasi pesawat tempurnya. Diberitakan oleh media Malaysia, Kosmo, pilihan sistemnya sudah dipastikan dari sistem radar Erieye Swedia dengan platform antara pesawat Embraer EMB 145 buatan Brazil atau Saab 2000 dari Swedia. Rencana ini akan sangat mendongkrak kemampuan pesawat tempurnya dalam operasi dan manajemen tempur menjadikan Malaysia negara ketiga di Asia tenggara yang mampu mengoperasikan pesawat kendali dan peringatan dini. Pesawat peringatan dini sangat bermanfaat dalam menjejak target udara dan permukaan dan memberikan data ke pesawat tempur yang dituntunnya. Dalam posisi ofensif pesawat tempur bisa memperjauh penjejakan radarnya atau mengendap menghindari endusan radar lawan dengan tuntunan dari pesawat peringatan dini.

1307215554969213790

Gulfstream G550 Phalcon

Malaysia berusaha mengimbangi perkembangan kekuatan armada angkatan udara Thailand dan Singapura. AU Thailand atau RTAF (Royal Thai Air Force) sendiri sudah mendapat satu unit pesawat AEW&C Saab 340 Erieye pada Desember 2010 berbarengan dengan kedatangan batch pertama 6 unit JAS-39 Gripen. Pesawat Saab 340 Erieye berikutnya akan datang bersama pesawat Gripen batch kedua. Pesawat Saab 340 Erieye merupakan pesawat turboprop dilengkapi radar AESA memiliki kemampuan menjangkau sasaran udara dan permukaan sejauh 350 km dengan daya terbang selama 7 jam. . Integrasi sistem dengan kapal perang tengah dikerjakan pada 2 unit frigat kelas Naresuan dengan perlengkapan data link dan radar surveillance serta komunikasi taktis sehingga bisa berkoordinasi dengan pesawat Gripen dan Erieye. Sedangkan Singapura adalah negara pertama di Asia Tenggara yang mengoperasikan pesawat AEW&C bahkan memiliki armada terbesar dan terkuat dengan 4 unit E-2C Hawk Eye buatan Northrop Grumman AS serta armada terbaru 4 unit Gulfstream G550 bersistem EL/M-2075 Phalcon buatan Israel. Hawkeye sudah dioperasikan Singapura selama dua dekade, berkemampuan penjejakan sejauh 370 km, daya terbang selama 6 jam. Sistem Phalcon mulai dioperasikan Singapura 2008 berplatform bizjet dengan daya jelajah 9 jam dan kemampuan penjejakan sejauh 400 km.

1307215659163725723

Cakupan Jangkauan Jindalee Operational Radar Network

Di sebelah selatan Indonesia, Australia tidak perlu ditanya lagi. Jaringan radar darat Jindalee di bagian utara benua memiliki daya jejak udara dan permukaan laut sejauh 3000 km hingga melingkupi separuh wilayah Indonesia dari Jawa hingga Papua. Australia mengoperasikan pesawat AEW&C mulai Mei 2010 berupa 2 unit Boeing 737 Wedgetail dengan sistem MESA Northrop Grumman AS berdaya jejak 400 km dan ketahanan terbang pesawat selama 9 jam. Masih ada 4 unit Wedgetail lagi yang akan datang. Padahal semasa Bung Karno dulu, pesawat pembom strategis Tu-16 Badger TNI-AU mampu menyusup hingga jantung Australia di Spring Valley tanpa terdeteksi, menjatuhkan ransum perbekalan guna menciptakan kesan bahwa sudah ada infiltrasi prajurit TNI ke dalam Australia dalam operasi psywar.

Negara-negara besar sekitar Indonesia telah bergerak sedemikian maju. Singapura, Thailand, Malaysia, dan Australia memiliki visi pesawat kendali dan peringatan dini, Airborne Early Warning and Control (AEW&C). Sangat sulit bagi armada kapal perang dan pesawat tempur Indonesia untuk survive jika kelak ada bentrok dengan unit-unit musuh yang didukung pesawat AEW&C. Padahal Indonesia adalah negara kepulauan yang berarti garis depannya adalah unit kapal perang dan pesawat tempur dengan piranti IRS (Intelligence, Reconnaissance, and Surveillance) sebagi bagian C2 (Command and Control). Konstelasi kekuatan angkatan regional semacam tersebut harus ditindaklanjuti dengan perencanaan yang seimbang dengan kemajuan negara-negara tetangga jika tidak ingin armda udara dan laut RI menjadi sitting ducks.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kunonya Rekapitulasi Pilpres, Kalah Canggih …

Ferly Norman | | 22 July 2014 | 07:48

Cara Mudah Kenali Pelaku Olshop yang …

Ella Zulaeha | | 22 July 2014 | 11:59

Kompasiana-Bank Indonesia Blog Competition …

Kompasiana | | 27 June 2014 | 16:59

Siku Sudut Unik Candi Dadi Tulungagung …

Siwi Sang | | 22 July 2014 | 12:11

Bukan Dengkuran Biasa …

Andreas Prasadja | | 22 July 2014 | 10:45


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 6 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 7 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 7 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 7 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: