Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Raja Haji

Sebuah Perjuangan Kecil Untuk Melahirkan Kepemimpinan Nasional Yang Cerdas, Intelektual, Filosof, Cendikiawan. Karena Kebangkitan Sebuah selengkapnya

Masamnya Suasana 17 Agustusan..

REP | 18 August 2011 | 10:55 Dibaca: 158   Komentar: 11   0

Saya berada di suatu daerah, menempuh jalan ratusan kilometer, melewati jalan propinsi, melewati perkampungan dan desa-desa yang ada di sekitarnya tanggal 13 sampai 17 Agustus 2011 ini.

Satu hal yang berbeda adalah hilangnya semangat menyambut kemerdekaan oleh masyarakat ketika ini. Jarang sekali kita jumpai bendera dipasang di depan rumah, di atas kenderaan, di bangunan tinggi, bangunan pemerintah dan sebagainya. Tidak ada lagi konvoi, upacara yang besar dan meriah seperti biasanya.

Pada hari H anak sekolah, PNS, tentara, polisi masih duduk bermalas-malasan di lapangan menunggu detik proklamasi. Gerakan memerah putihkan facebook juga dilihat gagal total..

Di media memang masih kita lihat adanya semangat menyambut kemerdekaan itu, tetapi biasalah media mencari sensasi, membesar2kan yang kecil, mengheboh2kan yang enteng dan sebagainya. Itulah dunia media yang mampu membesarkan yang kecil, menyemangatkan yang redup walaupun hakikatnya tidak begitu.

Walaupun terlalu dini, namun tidak berlebihan saya menilai bahwa suramnya semangat kemerdekaan dipengaruhi oleh keadaan yang ada saat ini antara lain;

1. Marahnya rakyat kepada para aparat yang diberi amanat untuk mengemudi Negara ini ke pulau impian, ke surga menanti yang diimpikan oleh setiap rakyat..

2. Bosannya rakyat yang selalu di tanam rasa nasionalismenya dengan berbagai cara sepanjang masa, tetapi diwaktu yang sama para pejabat Negara bergotong royong menghancurkan Negara melalui korupsi, kolusi, nepotisme dan penyalahgunaan kuasa lainnya..

3. Bencinya rakyat melihat para koruptor yang bisa hidup senang lenang dengan kekayaannya yang berasal dari mencuri uang dan hak-hak rakyat lainnya.

4. Hilangnya rasa memiliki Negara ini karena semuanya dimopoli oleh orang-orang tertentu saja..

5. Hilangnya rasa kcintaan pada Negara ini karena selama berpuluh tahun pengorbanan yang diberikan tidak memberi keuntungan sama sekali..

6. Bencinya kepada para pejabat yang berkhianat dan tidak lagi menjalankan amanat yang diberikan –DPR/MPR tidak lagi menyuarakan suara rakyat, hakim tidak lagi memberikan keadilan, guru tidak lagi mencerdaskan anak bangsa, tentara tidak lagi melindungi Negara, polisi tidak lagi mengamankan Negara, pejabat tidak lagi menjalankan kerjanya, PNS tidak lagi bekerja dengan baik dan benar..

7. Mungkin juga karena puasa, tetapi ini kurang masuk akal karena puasa tidak mengurangi aktifitas seseorang dan juga di tahun yang lalu suasana kemerdekaan juga tidak meriah..

Entah apa yang akan berlaku 10-20 tahun lagi dinegara ini disaat segala macam PEMBOHONGAN, PENCITRAAN, PENGALIHAN ISU menjadi santapan yang masam untuk rakyat..

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kunonya Rekapitulasi Pilpres, Kalah Canggih …

Ferly Norman | | 22 July 2014 | 07:48

Cara Mudah Kenali Pelaku Olshop yang …

Ella Zulaeha | | 22 July 2014 | 11:59

Kompasiana-Bank Indonesia Blog Competition …

Kompasiana | | 27 June 2014 | 16:59

Siku Sudut Unik Candi Dadi Tulungagung …

Siwi Sang | | 22 July 2014 | 12:11

Bukan Dengkuran Biasa …

Andreas Prasadja | | 22 July 2014 | 10:45


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 6 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 7 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 7 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 7 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: