Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Malik Bewok

http://malikbewok.wordpress.com/

Menjadi Tentara Super

OPINI | 13 October 2011 | 00:20 Dibaca: 982   Komentar: 1   1

Bicara tentang tentara super, maka masyarakat akan membayangkan sosok prajurit yang dilengkapi peralatan tempur canggih dan rumit. Apalagi jika merujuk pada film-film Hollywood, sebut saja Captain America, maka sosok tentara super jauh dari ciri-ciri fisik manusia. Maksudnya, sosok tentara super tidak boleh lemah, harus senantiasa terlihat berwibawa, menjadi pujaan masyarakat, selalu dibutuhkan orang, dan lain sebagainya. Sifat-sifat manusia, seperti malas, lesu dan kuyu, tidak boleh ada dalam ciri tentara super itu.

Lalu pertanyaannya, apakah memang seperti itu yang disebut tentara super? Di dalam buku Strategy of Guerrilla Warfare, Jenderal Besar (Purn) AH Nasution memaparkan bahwa yang dimaksud tentara super adalah tentara yang mampu bertahan dalam berbagai kondisi. Tentara ini mampu melihat situasi, ancaman ataupun peluang yang bisa mengantarkannya kepada kemenangan.

Buku AH Nasution ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Bahkan, buku ini menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS). Isi bukunya adalah gagasan Sang Jenderal Besar tentang taktik perang gerilya. Dalam beberapa hal, Pak Nas, demikian biasa disapa, buku ini juga menyinggung konsep-konsep dwi fungsi ABRI (TNI) yang disalahgunakan di era Orde Baru.

Konsep tentara super yang digambarkan Jenderal Besar AH Nasution adalah kelihaian prajurit memainkan perannya untuk mengatasi segala ancaman. Taruhlah kondisi negara dalam keadaan perang, maka seorang prajurit yang setia terhadap negara dan bangsa, tidak boleh takut dengan lengkapnya peralatan tempur negara penjajah. AH Nasution adalah peletak perang gerilya sebagai perang rakyat. Dalam kondisi inilah, tentara dan rakyat bersatu dan manunggal dalam kekuatan yang diibaratkannya sebagai bangunan kokoh.

Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi, Pak Nas menarik pelajaran yaitu,rakyat harus mendukung TNI. Dari sini, lahir gagasannya tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Metode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (1948-1949).

Pak Nas tentunya hanya manusia biasa. Dalam kondisi tidak perang, jasanya terhadap angkatan bersenjata di negeri ini sangat besar. Penguasa Orde Baru, HM Soeharto, bahkan memberikan penganugerahan yang sangat besar, yaitu gelar Jenderal Besar AH Nasution. Pemikiran-pemikiran Jenderal Besar AH Nasution masih dipelajari oleh prajurit-prajurit generasi berikutnya.

Sosok Pak Nas inilah yang pantas disebut sebagai tentara super. Ketika era kolonialisme, dialah yang memimpin rakyat melakukan perang gerilya. Dia berani berkata benar meski harus berselisih dengan penguasan. Tengoklah ketika Pak Nas menganggap Bung Karno campur tangan dan memihak ketika terjadi pergolakan di internal Angkatan Darat tahun 1952. Ia berada di balik ”Peristiwa 17 Oktober”, yang menuntut pembubaran DPRS dan pembentukan DPR baru. Bung Karno kemudian memberhentikannya sebagai KSAD.

Ketika memasuki masa pensiun, Pak Nas pun masih memiliki peran yang menarik. Dia tidak pernah tergiur terjun ke bisnis yang mendatangkan kekayaan. Jika ada Jenderal yang biasa kesulitan air, dialah orangnya. Sejak pensiun dari militer, rumahnya selalu kekurangan air PAM. Untuk mengantisipasi hal itu, keluarga Pak Nas membuat sumur di belakang rumahnya.

Memang ironis. Pak Nas pernah bertahun-tahun dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik pemerintah Orba. Padahal Pak Nas sendiri menjadi tonggak lahirnya Orba. Ia sendiri hampir jadi korban pasukan pemberontak yang dipimpin Kolonel Latief. Pak Nas-lah yang memimpin sidang istimewa MPRS yang memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden, tahun 1967.

Pak Nas, di usia tuanya, dua kali meneteskan air mata. Pertama, ketika melepas jenazah tujuh Pahlawan Revolusi awal Oktober 1965. Kedua, ketika menerima pengurus pimpinan KNPI yang datang ke rumahnya berkenaan dengan penulisan buku, Bunga Rampai TNI, Antara Hujatan dan Harapan.

Apakah yang membuatnya meneteskan air mata? Sebagai penggagas Dwi Fungsi ABRI, Pak Nas ikut merasa bersalah, konsepnya dihujat karena peran ganda militer selama Orba yang sangat represif dan eksesif. Peran tentara menyimpang dari konsep dasar, lebih menjadi pembela penguasa ketimbang rakyat.

Pak Nas memang salah seorang penandatangan Petisi 50, musuh nomor wahid penguasa Orba. Namun sebagai penebus dosa, Presiden Soeharto, selain untuk dirinya sendiri, memberi gelar Jenderal Besar kepada Pak Nas menjelang akhir hayatnya. Meski pernah “dimusuhi” penguasa Orba, Pak Nas tidak menyangkal peran Pak Harto memimpin pasukan Wehrkreise melancarkan Serangan Umum ke Yogyakarta, 1 Maret 1949. (*)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Ignatius Jonan Akan Menjadi Menteri? …

Daus | 3 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 3 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 3 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 10 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Berbagi Cerita Wisata, Menggali Potensi Kota …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Lima Stasiun Kereta Api Tertua di Indonesia …

Utiket | 7 jam lalu

My Idiot Brother: Kalah dengan Saudaranya …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Cita-cita? Jadi anggota DPR! …

Diana Santi | 8 jam lalu

Pak Tua, Sudahlah… …

Selsa | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: