Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Bubarkan BRIMOB

OPINI | 25 December 2011 | 11:44 Dibaca: 9458   Komentar: 21   0

katanya polisi (Indonesia) sekarang adalah polisi sipil.

tapi mengapa dalam percakapan sehari-hari, masih saja anak buah memanggil pimpinannya dengan sebutan DAN, komandan?

Katanya polisi itu sipil tapi masih saja sistem kepangkatannya mirip-mirip militer, pangkat tertinggi adalah Jenderal, persis sama dengan militer, TNI AD.

tapi itu semua gak begitu penting.

yang penting dan sangat mengherankan, kenapa polisi masih dibekali/diberikan senapan serbu, senapan laras panjang?

bukankah “musuh” atau “lawan” polisi itu adalah warga masyarakat yang kriminal. Bukan “pasukan” negara lain. Pistol aja gak cukup??

atau kalau memang mau pakai senapan serbu, mbok ya jangan pakai peluru TAJAM !

Kan sudah ada mobil Barracuda. ada Water Cannon. Ada gas air mata.

Pernahkah anda perhatikan kerjaan sampingan anggota Brimob?

Bukan jadi penyanyi lipsing seperti (mantan) Briptu Norman. Bukan.

Tapi menjadi “pengawal” perusahaan-perusahaan.

Kalau mengatasnamakan pengawalan obyek-obyek vital. Itu gak seluruhnya benar. Karena seperti pengawalan bank-bank kebanyakan diisi personil polisi Samapta/Sabhara. Bukan BRIMOB.

Brimob mau yang lebih elit. karena merasa elit. Dan karena honornya lebih gede. Perusahaan-perusahaan lah yang bisa memberi honor tinggi.

Kenapa ada pasukan seperti Brimod di Polri? Untuk memberantas teroris? Kan sudah ada Densus 88??

kasus Mesuji, Freeport dan sekarang perustiwa Bima. Semuanya karena pasukan (yang katanya) elit ini. Elit apanya?? Nembak rakyat dengan peluru tajam? Pakai sepatu lars? nendang, pukul, nembak? Toh gak bakalan dihukum. Karena sudah sesuai Protap? Protap mbahmu.

Nembak orang pakai peluru tajam. Kenapa gak pakai gas air mata. Atau pengen ngetop cepat. kalau itu mah sering2 aja ngirim video ke Youtube.

Baju hitam2, pakai baret, sepatu lars, senjata laras panjang, pisau sangkur. Apa bedanya Brimob dengan Kopassus?

Cuma beda warna baju, warna baret dan beda nama aja. malahan Brimob lebih “hebat” dari Kopassus. Karena bisa “mengamankan” perusahaan-perusahaan secara “legal” karena Bimob adalah polisi. Tentara gak boleh. Makanya tentara harus sembunyi-sembunyi untuk “ikut mengamankan” perusahaan-perusahaan.

Bubarkan Brimob, pak SBY. sebagai kepala negara, presiden bisa melakukan itu.

Pertahankan Densus 88 dan Gegana, tapi bubarkan Brimob. Sekarang juga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Indahnya Rumah Tradisional Bali: Harmoni …

Hendra Wardhana | | 26 October 2014 | 06:48

Perjuangan “Malaikat Tak …

Agung Soni | | 26 October 2014 | 09:17

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | | 26 October 2014 | 01:02

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59



HIGHLIGHT

Satu Malam di Tanjung Bira …

Abdul Rahim | 7 jam lalu

Unjuk Rasa Tuntut Upah Layak di DIY …

Musfingatun Sakinat... | 7 jam lalu

Cody Simpson - Java Sounds Fair 2014 …

Tari Nadya | 7 jam lalu

Unek-unek untuk Presiden Baru …

Folly Akbar | 8 jam lalu

Risalah 365 Doa & Zikir Sehari-Hari …

Nur Hadi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: