Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Bubarkan BRIMOB

OPINI | 25 December 2011 | 11:44 Dibaca: 9279   Komentar: 21   0

katanya polisi (Indonesia) sekarang adalah polisi sipil.

tapi mengapa dalam percakapan sehari-hari, masih saja anak buah memanggil pimpinannya dengan sebutan DAN, komandan?

Katanya polisi itu sipil tapi masih saja sistem kepangkatannya mirip-mirip militer, pangkat tertinggi adalah Jenderal, persis sama dengan militer, TNI AD.

tapi itu semua gak begitu penting.

yang penting dan sangat mengherankan, kenapa polisi masih dibekali/diberikan senapan serbu, senapan laras panjang?

bukankah “musuh” atau “lawan” polisi itu adalah warga masyarakat yang kriminal. Bukan “pasukan” negara lain. Pistol aja gak cukup??

atau kalau memang mau pakai senapan serbu, mbok ya jangan pakai peluru TAJAM !

Kan sudah ada mobil Barracuda. ada Water Cannon. Ada gas air mata.

Pernahkah anda perhatikan kerjaan sampingan anggota Brimob?

Bukan jadi penyanyi lipsing seperti (mantan) Briptu Norman. Bukan.

Tapi menjadi “pengawal” perusahaan-perusahaan.

Kalau mengatasnamakan pengawalan obyek-obyek vital. Itu gak seluruhnya benar. Karena seperti pengawalan bank-bank kebanyakan diisi personil polisi Samapta/Sabhara. Bukan BRIMOB.

Brimob mau yang lebih elit. karena merasa elit. Dan karena honornya lebih gede. Perusahaan-perusahaan lah yang bisa memberi honor tinggi.

Kenapa ada pasukan seperti Brimod di Polri? Untuk memberantas teroris? Kan sudah ada Densus 88??

kasus Mesuji, Freeport dan sekarang perustiwa Bima. Semuanya karena pasukan (yang katanya) elit ini. Elit apanya?? Nembak rakyat dengan peluru tajam? Pakai sepatu lars? nendang, pukul, nembak? Toh gak bakalan dihukum. Karena sudah sesuai Protap? Protap mbahmu.

Nembak orang pakai peluru tajam. Kenapa gak pakai gas air mata. Atau pengen ngetop cepat. kalau itu mah sering2 aja ngirim video ke Youtube.

Baju hitam2, pakai baret, sepatu lars, senjata laras panjang, pisau sangkur. Apa bedanya Brimob dengan Kopassus?

Cuma beda warna baju, warna baret dan beda nama aja. malahan Brimob lebih “hebat” dari Kopassus. Karena bisa “mengamankan” perusahaan-perusahaan secara “legal” karena Bimob adalah polisi. Tentara gak boleh. Makanya tentara harus sembunyi-sembunyi untuk “ikut mengamankan” perusahaan-perusahaan.

Bubarkan Brimob, pak SBY. sebagai kepala negara, presiden bisa melakukan itu.

Pertahankan Densus 88 dan Gegana, tapi bubarkan Brimob. Sekarang juga.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Hari Anak Nasional Terlupakan oleh …

Topik Irawan | | 23 July 2014 | 18:53

Parcel Lebaran Dibuang ke Jalan …

Roti Janggut | | 23 July 2014 | 17:43

Efek Samping Kurikulum “Cepat Saji” …

Ramdhan Hamdani | | 23 July 2014 | 18:46

Mengejar Sunset dan Sunrise di Pantai Slili …

Tri Lokon | | 23 July 2014 | 20:12

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 9 jam lalu

Psikologi Freud dalam Penarikan Diri Prabowo …

Sono Rumekso | 11 jam lalu

Ke Mana Sebaiknya PKS Pascapilpres? …

Aceng Imam | 11 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: