Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Habibie dan Soeharto: Pasangan yang Disegani Dunia

OPINI | 09 March 2012 | 23:45 Dibaca: 2901   Komentar: 3   1

1331289652701011

Soeharto - Habibie

Pasangan Habibie dengan Soeharto merupakan pasangan yang kokoh dan kuat. Kenapa?

Habibie yang saat itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) sangat menguasai betul bagaimana membuat konsep teknologi untuk mendukung ketahanan negara dengan membuat elemen-elemen pertahanan yang kokoh dengan didukung oleh sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang cukup baik. Teknologi yang dibangun secara mandiri di berbagai elemen yakni elemen darat, elemen laut, dan elemen udara, tertata dengan baik dan rapi.

Soeharto sebagai presiden RI yang kuat dibawah pemerintahan diktator dan disegani di dunia, mengawal konsep Habibie dengan baik. Terlepas dari sinkron atau tidak antara pemikiran Soeharto dengan konsep Habibie, saat itu Habibie memang sangat dipercaya oleh Soeharto, apa yang direncanakan dan diucapkan oleh Habibie, Soeharto akan menyambut dengan baik.

Inilah yang menyebabkan keharmonisan pasangan antara Habibie dan Soeharto terjaga dengan baik. Konsep teknologi yang didukung oleh konsep politis yang kuat. Proses pembangunan teknologi berjalan dengan tenang tanpa ada gangguan eksternal yang dominan karena dilindungi dengan kekuatan politik yang stabil.

Kekuatan Militer

Sesungguhnya konsep teknologi Habibie dapat mendukung pembangunan kekuatan militer RI. Industri baja yang dibangun di Krakatu Steel merupakan sumber kekuatan industri militer. Peralatan tempur sudah pasti terbuat dari besi baja, jika industri bajanya tidak mendukung maka industri militer untuk peralatan tempur juga akan lemah. Dengan industri baja Krakatu Steel, dalam satu atau dua dekade kedepan, diharapkan dapat mendukung industri militer di tiga angkatan, yakni angkatan darat, laut, dan udara.

Industri militer angkatan darat ditopang dengan PT Pindad dan PT Inka. Tank baja, panser, senjata api, dan mesiu dapat diproduksi di PT Pindad yang didukung oleh sumberdaya manusia yang cukup kompeten. Bahkan bisa diperluas lagi untuk memproduksi mobil perang yang mendukung mobilisasi pasukan. Sementara PT Inka dapat memproduksi kereta api untuk mobilisasi jarak jauh baik untuk keperluan perang ataupun keperluan sipil.

Industri militer angkatan laut dibangun oleh PT PAL dengan fasilitas doking kapal tercanggih di Asia Tenggara. Kapal-kapal perang dapat dibangun di PT PAL yang didukung oleh sumberdaya manusia yang ahli di bidangnya. Beberapa infrastruktur sudah tersedia di perusahaan ini baik hardware maupun software. Bahkan untuk kedepannya dapat dirintis pembuatan kapal selam, dan ini sangat memungkinkan apalagi didukung dengan industri baja yang sudah tersedia di Krakatu Steel.

Industri militer angkatan udara dikemas dalam satu perusahaan industri pesawat terbang yang canggih yakni IPTN. Perusahaan ini adalah salah satu andalan teknologi Habibie, karena beliau memang sangat ahli di bidang ilmu penerbangan. Keahlian Habibie sangat tersalurkan melalui wadah IPTN ini, sehingga ilmunya mengalir dengan deras untuk terimplementasikan di industri penerbangan. Beberapa putera-putera terbaik Indonesia dikirim ke Eropa dan Amerika untuk menuntut ilmu penerbangan ini, dan kemampuan mereka cukup tinggi karena memang terpilih dengan persaingan yang ketat. Habibie menjalankan konsepnya dengan tenang tanpa ada gangguan politis yang cukup berarti karena didukung penuh dan dijaga dengan ketat oleh kekuatan politik Soeharto yang sangat kuat dan kokoh.

Hal ini terbukti dan telah membuahkan hasil dengan diluncurkannya sebuah pesawat sipil CN-235. Sungguh heboh dunia dengan peluncuran pesawat ini, walaupun terbilang pesawat kecil jika dibandingkan dengan pesawat-pesawat canggih Boeing atau Airbus, namun dengan kemunculan pesawat ini di dunia penerbangan internasional, akan mengganggu dunia bisnis penerbangan Boeing ataupun Airbus. Satu pesawat sipil ini sudah menjadi prototipe pesawat yang dalam jangka waktu tidak terlalu lama akan berubah wujud menjadi pesawat tempur yang canggih, dan sangat memungkinkan sekali. Habibie memang luar biasa! Soeharto memang pendekar ulung!

Namun seiring dengan perjalanan waktu, rejim Soeharto hancur dan lengser tahun 1998. Saat itu Habibie yang menjabat sebagai wakil presiden, otomatis maju menggantikan Soeharto. Namun kekuatan politik Habibie tidaklah secanggih Soeharto, apalah artinya kekuatan politik Habibie yang dunia tahu bahwa Habibie adalah seorang ilmuwan sejati, menguasai konsep teknologi, logika berpikir yang kuat dan canggih. Namun semua itu tidak menjadikan secara otomatis Habibie berkemampuan politik yang canggih. Kekuatan politik sungguh berbeda dengan kecerdasan yang tinggi, moral politikus berbeda jauh dengan moral ilmuwan. Inilah yang membedakan antara politikus dan ilmuwan yakni kekuatan dan kepekaan moral.

Harapan Masih Ada

Pada masa rejim Soeharto, Habibie selalu menjabat sebagai Menristek sekaligus Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kecuali pada saat-saat terakhir kekuasaan Soeharto, Habibie menjadi wakil presiden. BPPT merupakan salah satu badan pemerintah tempat berkumpulnya ilmuwan-ilmuwan yang canggih di semua bidang ilmu teknik. Hampir semua ilmu teknik dikuasai oleh para ilmuwan BPPT. Banyak putera-puteri terbaik Indonesia dikirim ke negara-negara maju dan ketika kembali ke Indonesia sebagian besar berkumpul di BPPT, dan sebagian lagi tersebar di beberapa instansi pemerintah.

Sejak kekuatan politik Soeharto sirna, maka konsep Habibie berangsur-angsur melemah. Dengan dibukanya kran demokrasi, setiap orang berhak mengutarakan pendapatnya dengan bebas tanpa batas. Kekuatan eksternal dengan leluasanya mengobok-obok pemikiran rakyat Indonesia dengan konsep-konsepnya yang liberal tanpa batas. Presiden Habibie dengan sangat cepat hancur dan digantikan dengan presiden baru hasil pemilu demokratis. Praktis konsep pembangunan industri militer ala Habibie sudah tidak terkawal dengan baik. Setiap presiden RI yang terpilih sudah lupa dan menendang jauh-jauh konsep teknologi Habibie.

Demikian juga Menristek atau Kepala BPPT tidak dapat memanggul dan menahannya di pundak konsep Habibie yang cukup berat, dan tidak dapat dicerna di dalam benak para menteri tersebut. Diawali oleh AS Hikam sebagai Menristek dan Kepala BPPT di jaman rejim Gus Dur. AS Hikam yang berlatarbelakang pendidikan sosial sangat antipati dengan konsep Habibie. Akibatnya, berangsur-angsur kekuatan teknologi yang sudah terbangun di industri baja, industri kendaraan militer, industri kapal perang, dan industri pesawat terbang menjadi cacat. Para ilmuwan yang membela konsep teknologi Habibie dibuat tidak nyaman untuk tinggal di Indonesia, wadah lembaga tempat berkaryanya dilemahkan, yang akhirnya rakyat Indonesia juga lupa akan keberadaannya.

Lembaga peninggalan Habibie yang masih tersisa dan masih eksis adalah BPPT. Walaupun secara organisasi sudah lepas dari kementerian Ristek, sehingga Menristek tidak lagi menjabat secara otomatis sebagai Kepala BPPT, dan lembaga BPPT sudah berdiri sendiri. Hal ini menjadi isyarat bahwa BPPT sebagai warisan terakhir Habibie sudah melemah.

Kini BPPT sudah semakin dilemahkan lagi dengan dipindahnya seluruh lembaganya ke Serpong yang jauh dari hingar bingarnya ibukota Jakarta. Gedung BPPT yang berlokasi di ring satu dekat istana presiden RI lambat laun akan ditinggalkan oleh penghuni lamanya yang akan pindah jauh ke desa. Sementara pemanfaatan aset gedung BPPT yang cukup bernilai setelah ditinggalkan para ilmuwan canggihnya masih belum jelas, apakah menjadi salah satu pusat bisnis di area ring satu RI ataukah akan menjadi gedung pemerintahan yang diisi oleh lembaga pemerintahan yang lain.

Faktanya, seluruh elemen personil BPPT sudah tidak mampu lagi mempertahankan kekuatan yang dahsyat untuk menghancurkan seluruh kekuatan konsep teknologi Habibie. Kekuatan anti Habibie ini bekerja secara sistematis dan global. Bahkan orang-orang dekat Habibie yang cerdas-cerdas pun tidak kuat menahan kekuatan politik yang dengan kuatnya mengusung bahasa demokrasi. Rakyat Indonesia pun terbius dengan bahasa demokrasi ini. Sementara di sisi lain, banyak sekali karya-karya yang telah dihasilkan oleh para peneliti BPPT, namun karya-karya tersebut hanya tersimpan dalam ruang dokumentasi saja, atau paling tidak tercatat dalam jurnal-jurnal ilmiah nasional dan internasional. Sejauh ini pemerintah belum bisa memanfaatkannya untuk kemajuan bangsa dan negara, lebih tertuju kepada bisnis praktis yang keuntungannya hanya untuk kepentingan politik sesaat.

Namun harapan menuju negara Indonesia yang kuat dengan berbasis teknologi yang canggih masih ada. Walaupun bukan dengan konsep teknologi Habibie, tapi mungkin konsep lain yang dibangun oleh putera-puteri terbaik generasi berikutnya. Benarkah harapan masih ada?

Sebentar lagi rakyat Indonesia akan memilih presiden baru. Harapan masih ada, dengan terpilihnya presiden yang mempunyai kekuatan politik yang kuat, tegas, diktator yang membela kepentingan rakyat, mencintai negara Republik Indonesia, melawan kepentingan asing, jujur, dan shaleh, sehingga visi dan misinya lebih dominan untuk kemajuan bangsa dan negara, bukan untuk kepentingan politik yang sesaat dan semu saja. Insya Allah.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Naik Mule di Grand Canyon …

Bonekpalsu | | 26 July 2014 | 08:46

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

[Surat untuk Jokowi] Dukung Dr. Ing. Jonatan …

Pither Yurhans Laka... | 5 jam lalu

Gaya Menjual ala Jokowi …

Abeka | 9 jam lalu

Jenderal Politisi? …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Tuduhan Kecurangan Pilpres dan Konsekuensi …

Amirsyah | 9 jam lalu

Gugatan Prabowo-Hatta Tak Akan Jadi Apa-apa …

Badridduja Badriddu... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: