Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Ipoel Misbach

Olah Roso, menjadi hidup lebih hidup ...

Konflik Amerika Vs. Iran

OPINI | 24 April 2012 | 17:03 Dibaca: 5471   Komentar: 1   1

Akankah Dituntaskan di Selat Hormuz ?

Dalam tiga bulan terakhir ini konflik antara Iran dengan Amerika dkk memasuki episode baru yang bisa menjurus ke arah perang terbuka. Perang akan pecah jika Iran menutup Selat Hormuz. Iran akan menutup Selat Hormuz jika Uni Eropa merealisasikan sangsi embargo financial dan eksport minyak Iran pada bulan Juli nanti. Uni Eropa akan tetap menjatuhkan sangsi (mengikuti sangsi Amerika yang saat ini sudah berlaku) apabila Iran tidak menghentikan program nuklirnya. Dan Iran sudah menegaskan tidak akan menghentikan program nuklir yang menurutnya untuk tujuan damai.

Terlepas dari soal program nuklir dan ancaman penutupan Selat Hormuz, bagi Amerika dan sekutunya, Iran adalah kerikil yang mengganggu proyek internasional Amerika di kawasan itu. Menguasai kawasan Timur Tengah sangat penting bagi Amerika dalam rangka menahan laju India dan China yang sangat bergantung dengan minyak Timur Tengah, sekaligus mengeliminir pengaruh Rusia.

Sejak revolusi para mullah dibawah pimpinan Ayatullah Khoemeni pada tahun 1979 yang menumbangkan sekutu Amerika, Shah Reza Pahlevi, Iran telah menjadi target Amerika. Pendudukan Kedutaan Amerika di Teheran oleh para aktivis mahasiswa pada 4 November 1979 yang diikuti penyanderaan 52 orang diplomatnya selama 444 hari, merupakan peristiwa yang memalukan Amerika dan cukup menjadi alasan untuk memutuskan hubungan diplomatik pada 7 April 1980. Selanjutnya, dengan dalih HAM dan demokrasi Amerika gencar menjatuhkan berbagai embargo, operasi intelegent dan operasi militer.

Pada 24 April 1980, Amerika melakukan operasi militer dengan sandi “Operation Eagle Claw” sebagai pendahuluan penyerangan terhadap Iran. Operasi ini berakhir gagal, 8 anggota militer Amerika tewas dan beberapa ditahan. Penyerangan dihentikan seiring penandatangan Algiers Accords di Aljazair pada 19 Januari 1981. Sehari setelahnya, kedua pihak saling melepaskan tawanan.

Pada Januari 1984, Presiden Ronald Reagan mendeklarasikan Iran sebagai “a sponsor of international terrorism” dan menggalang negara-negara di dunia untuk tidak menjalin kerjasama dengan Iran. Pada 19 Oktober 1987, Amerika melakukan serangan terhadap Iran dengan sandi ”Operation Nimble Archer” dan gagal. Pada 18 April 1988, kembali Amerika melakukan serangan dengan sandi “Operation Praying Mantis” dengan menyerang posisi militer Iran di teluk Persia dan menenggelamkan satu buah kapal Frigate milik Iran. Angkatan Laut Amerika Serikat juga menyerang fasilitas minyak lepas pantai milik Iran. Sementara Iran meledakan ranjau di Selat Hormuz yang merusak kapal korvet Amerika Serikat, USS Samuel B. Roberts. Operasi militer ini merupakan yang terbesar dilakukan Angkatan Laut Amerika pasca Perang Dunia II. Serangan ini dilakukan ditengah situasi Iran sedang berperang melawan Irak dalam perang Irak – Iran (1980 – 1988).

Pada 3 Juli 1988, Angkatan Laut Amerika meluncurkan missile dari kapal cruiser USS Vincennes dan menghancurkan pesawat Airbus A300B2 milik Iran yang terbang di atas Selat Hormuz. Pesawat komersial berjadwal ini hancur, 290 masyarakat sipil dari 6 negara tewas termasuk 66 anak-anak. USS Vincennes berada di teluk Persia sebagai bagian dari “Operation Earnest Will”. Kepada PBB, Iran mengajukan peristiwa itu sebagai tindakan teroris oleh negara. Amerika menjawab bahwa itu sebagai “insiden yang tidak disengaja”.

Pada Oktober 1992, Amerika menetapkan sangsi atas kecurigaan terhadap Irak dan Iran yang diduga mengembangkan senjata pemusnah masal (WMD). Tahun 1994, Conoco (perusahaan minyak Amerika) menandatangani kontrak investasi minyak dengan Iran sebesar US $ 1 milyar. Merasa kecolongan, pada Maret 1995, Amerika menetapkan embargo total terhadap segala jenis investasi dan perdagangan.

Pada tahun 1993, Amerika mengeluarkan kebijakan “dual containment” dengan menerbitkan ILSA (Iran Libya Sanctions Act), yang berisikan sangsi bagi perusahaan-perusahaan diluar Amerika Serikat yang melakukan investasi di Iran dan Libya senilai diatas 40 Juta US$ setahun. Tahun 1996, kebijakan “dual containment” difokuskan kepada Iran, terbitlah ISA (Iran Sanction Act) yang merupakan pengetatan dari sangsi sebelumnya, yaitu pemberian sangsi kepada setiap perusahaan dari negara manapun yang melakukan investasi lebih dari 20 juta US$ per-tahun dalam industri minyak Iran.

Nuklir Pemicu Sengketa

Tahun 2000, Amerika dan Sekutunya mulai mempersoalkan program nuklir Iran yang dibalas Iran dengan mempersoalkan program nuklir Israel yang dimulai sejak tahun 1952 dengan bantuan Amerika dan Inggris. Program Nuklir Iran sebenarnya dimulai jauh sebelum Revolusi Islam, tepatnya pada Juni 1967 ketika pemerintah Shah Pahlevi atas dukungan AS dan Jerman mendirikan TNRC (Tehran Nuclear Research Center) dan memiliki reaktor nuklir berskala 5 megawatt. Memburuknya kondisi dalam negeri memaksa Iran menghentikan program nuklir sekaligus pemutusan kerjasama dengan Siemens Jerman. Di tahun 1991, Iran memulai kembali program nuklirnya dengan bekerjasama dengan China yang diawali dengan bantuan 1800 gr uranium untuk diproses sebagai bahan nuklir. Tahun 1995, Iran mencapai kesepakatan dengan Rusia untuk mengembangkan program nuklir dengan target 23.000 megawatt pada tahun 2020 dari kapasitas 600 megawatt saat itu.

Pada Agustus 2001, Presiden Bush menandatangani sebuah rancangan undang-undang perpanjangan masa berlakunya ILSA menjadi sebuah Undang-undang resmi. Pada 29 Januari 2002, Presiden Amerika George W. Bush menyebut Iran bersama Iraq dan Korea Utara sebagai negara poros setan “Axis of evil”. Bush berupaya menyerang ketiga negara. Rencana serangan ke Korea Utara batal, karena Amerika tidak didukung sekutu dekatnya (Korsel dan Jepang) serta ditentang keras oleh China. Amerika mengalihkan ke Iraq, sambil mengintip Iran.

Tahun 2002 Iran menghentikan kerjasama dengan IAEA dan melarang segala bentuk pengawasan dan inspeksi terhadap program nuklir Iran. Iran beralasan IAEA bekerja tidak jujur dan menjadi bagian dari spionase Amerika dan Israel.

Usai Sadam Husein tumbang, pada Juni 2005, Amerika bersiap menyerang Iran. Persiapan dilakukan dengan mengambil markas di Azerbaijan. Diluar dugaan, Amerika mendapat perlawanan sengit dari kaum pejuang Irak, rencana penyerbuan ke Iran pun ditangguhkan. Amerika kemudian menggunakan kelompok Jundullah untuk melakukan teror dan sabotase terhadap berbagai kepentingan Iran. Dalam aksinya ini, Jundullah berhasil membunuh sekitar 400 tentara Iran. Jundullah sendiri merupakan kelompok militan Islam yang berbasis di Waziristan, Pakistan, yang diorganisir dan didanai Amerika. ABC (the American Broadcasting Company) mengungkapkan hal ini dengan mengutip The Washington Times pada 3 April 2007. Amerika juga mensponsori dan menggunakan kelompok minoritas Ahwazi Arab dan Baluchi untuk melakukan operasi dibawah kendali CIA dan the Joint Special Operations Command (JSOC) hingga tahun 2008. Sasaran utama operasi ini adalah serangan terhadap pasukan Garda Revolusi Iran.

Menginjak tahun 2006, Amerika berhasil menggalang dukungan PBB untuk menjatuhkan sangsi terhadap Iran terkait program nuklir. Sejak itu setidaknya ada lima sangsi krusial yang dijatuhkan PBB kepada Iran. Iran menolak mentaati sangsi dengan alasan nuklir Iran untuk kepentingan damai dalam rangka memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri, bukan untuk kepentingan militer sebagaimana yang dituduhkan Amerika dan sekutunya.

Untuk meredakan kecurigaan Amerika dan sekutunya, Iran menawarkan eksport uranium untuk pengayaan di luar negeri, namun ditolak Amerika. Amerika bahkan lebih agresif melakukan berbagai operasi di Iran, terutama operasi intelejen, teror dan sabotase. Korban pertama operasi yang menyasar fasilitas nuklir Iran adalah Ardeshir Hoseynpur, seorang ahli nuklir Iran, yang tewas akibat gas beracun pada Januari 2007.

Berbagai Sangsi PBB Kepada Iran Terkait Program Nuklir

Waktu

Issue

Keterangan

24 September 2005

IAEA mengeluarkan resolusi untuk membawa isyu nuklir Iran ke Dewan Keamanan PBB

5 April 2006

Resolusi DK PBB

Meminta Iran untuk dalam waktu 30 hari menghentikan program nuklirnya dan memperbolehkan IAEA untuk melakukan inspeksi

31 Juli 2006

Resolusi DK PBB No 1696/2006

Meminta Iran untuk dalam waktu satu bulan menghentikan program nuklirnya atau akan dikenai embargo ekonomi

2006

Resolusi DK PBB No 1737/2006

Melarang negara-negara untuk membantu atau menjual alat atau bahan atau teknologi yang memungkinkan digunakan Iran untuk menjalankan program nuklir

2007

Resolusi DK PBB No 1747/2007

Pembekuan aset-aset berharga Iran dan sangsi bagi personal atau negara yang membantu pengembangan nuklir Iran

2008

Resolusi DK PBB No 1803/2008

Memerintahkan Iran untuk secepatnya menghentikan pengayaan uranium serta riset-riset tentang uranium

Juni 2010

Resolusi DK PBB No 1929/2010

Memperketat sangsi dalam bidang perdagangan, finansial dan investasi terhadap industri minyak dan gas

Tanggal 23 Maret 2007, Iran menangkap 15 Marinir Inggris yang berupaya melakukan penyusupan ke wilayah Iran. Inggris dan Amerika meradang, pada Oktober 2007 Amerika menjatuhkan sangsi terhadap Bank Sepah, Bank Arian, Bank Kargoshaee, Bank Melli dan Bank Saderat sebagai upaya blokade perdagangan Iran. Ketegangan semakin meningkat di Januari 2008, ketika Angkatan Laut Amerika dan Iran sudah saling berhadapan di Selat Hormuz. Pada Juni 2008, Iran melakukan blokade Selat Hormuz selama lima jam sebagai respon rencana penyerangan Israel.

Pada April 2009, kembali Amerika menjatuhkan sangsi IRPSA (the Iran Refined Petroleum Sanctions Act of 2009) yang berisi ancaman kepada pihak yang terlibat dalam industri penyulingan minyak Iran. Pada 18 Juni 2009, Inggris membekukan aset Iran senilai $1.59 miliar. Pada 19 November 2009, Amerika menambahkan sangsi IRPSA meliputi pelarangan penjualan peralatan eksplorasi minyak dan gas terhadap Iran, baik itu yang dilakukan negara, perusahaan maupun individu. Pada 26 Juli 2010, Uni Eropa mengesahkan sanksi untuk membatasi kegiatan investasi minyak dan gas dalam upaya membatasi produksi gas alam Iran.

Pada November 2011, IAEA mengeluarkan laporan mengenai program nuklir Iran, bahwa kemajuan program nuklir Iran telah sampai pada tahap kemampuan membuat hulu ledak untuk rudal nuklir. Iran diminta menghentikan program nuklirnya atau akan dijatuhkan embargo terhadap eksport minyak Iran.

Presiden Iran, Ahmadijenad, mengatakan bahwa Iran tidak akan menghentikan program nuklir yang ditujukan untuk kepentingan damai dalam rangka memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Fasilitas pengayaan uranium Natanz hanya menghasilkan uranium dengan kadar 20 persen, sementara untuk membuat senjata nuklir dibutuhkan uranium berkadar 90 persen. Sebagai penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan anggota Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran berhak mendayagunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Hal itu dibuktikan pada 4 September 2011 dimana PLTN Bushehr telah mampu menyalurkan listrik ke berbagai gardu listrik.

Ahmadinejad juga menegaskan bahwa Iran tidak berambisi membangun senjata nuklir, daripada biaya untuk membangun senjata nuklir lebih baik untuk mengembangkan budaya dan sastra. “Anggaran Iran untuk riset nuklir hanya 250 juta dolar AS, sementara Presiden Obama telah menambah alokasi 81 miliar dolar AS untuk meningkatkan teknologi bom nuklir mereka di tahun ini saja, Amerika punya 5.000 Hulu Ledak Nuklir, mengapa hanya Iran yang diributkan. Negara-negara macam USA inilah yang berbahaya. Bukannya Iran.” kata Ahmadinejad, sebagaimana dikutip dari Irib (26/1/2011).

Iran merasa diperlakukan tidak adil dalam hal ini, karena semakin Iran kerjasama dengan IAEA semakin Iran dipojokkan. Iran menuduh bahwa IAEA adalah boneka Amerika-Israel yang berkonspirasi untuk menghancurkan Iran. Pada 11 Januari 2012, Mustafa Ahmadi-Roshan (direktur pengayaan uranium Natanz) tewas usai ditemui sejumlah anggota IAEA ketika melakukan inpeksi terhadap nuklir Iran. Pola serangan terhadap Mustafa mirip dengan korban-korban sebelumnya dan selalu berkaitan dengan IAEA.

Beberapa Serangan Terhadap Iran Yang Ditujukan Untuk Menghambat Program Nuklir Iran

Waktu

Serangan

Keterangan

Januari 2007

Ardeshir Hoseynpur (Ahli fisika nuklir Iran)

Tewas akibat gas beracun

Juni 2009

Shahram Amiri (Anggota Organisasi Energi Atom Iran dan peneliti di Universitas Teheran)

Diculik saat berada di Arab Saudi. Pada 13 Juli 2010, berhasil melarikan diri dan berlindung di Kedutaan Besar Pakistan di Washington, D.C. dan atas bantuan Pakistan Shahram Amiri dapat dipulangkan ke Iran.

12 Januari 2010

Masoud Ali Mohammadi (Profesor fisika senior Universitas Teheran)

Tewas akibat bom sepeda motor yang meledak di dekat mobilnya

29 November 2010

Majid Shahriari (profesor fisika nuklir khusus dalam bidang transportasi neutron)

Tewas dengan serangan bom yang diletakkan pada sebuah sepeda motor dekat mobilnya

November 2010

Fereidoun Abbasi (kepala badan atom Iran)

Diserang dengan bom, hanya menderita luka

23 Juli 2011

Darioush Rezaei

Tewas ditembak tepat di tenggorokan di depan putrinya di Teheran.

12 November 2011

Jenderal Hassan Therani Moghaddam (Kepala program riset rudal Iran)

Hasan dan 17 pegawai tewas, akibat serangan pada instalasi pembuatan rudal balistik di Bidganeh

11 Januari 2012

Mostafa Ahmadi Roshan (Direktur fasilitas pengayaan uranium Natanz)

Tewas akibat serangan bom mobil yang ditempelkan oleh dua pengendara motor

Duta Besar Iran untuk PBB, Eshagh Al Habib, dalam pidatonya di depan DK PBB tanggal 19 Januari 2012, mengatakan ada indikasi kuat bahwa para “teroris” pembunuh Ahmadi-Roshan berhasil melakukan aksi kejinya berkat informasi yang diperoleh dari sejumlah badan PBB dan IAEA (International Atomic Energy Agency). Iran hanya memberikan data soal program nuklirnya kepada IAEA, termasuk nama-nama pakar nuklir yang dimiliki Iran.

ACIS (Arabic Center for Iranian Studies), sebuah Pusat Pengkajian Iran di Arab mengatakan para pemeriksa dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah menyerahkan nama-nama ilmuwan nuklir Iran ke Mosad. Sebuah media Jerman, Derspiegel, mengatakan hal serupa berdasar informasi yang layak dipercaya.

Intelejen Iran melaporkan bahwa sejak setahun ini, skala dan kualitas serangan lebih masif. Pada bulan Mei 2011, Iran menangkap 30 orang yang melakukan kegiatan spionase untuk AS. Pada 17 Desember 2011, Kementerian Intelijen Iran juga mengumumkan telah menangkap seorang mata-mata yang merupakan staf analis CIA yang bertugas menembus aparat intelijen Iran.

Amerika juga mengirimkan pesawat mata-mata paling canggih yang dimilikinya, yaitu RQ-170 Sentinel. Namun pada 4 Desember 2011 Iran berhasil menangkap RQ-170 dengan kerusakan minim. Amerika minta pesawatnya dikembalikan, tapi Iran mengembalikannya dalam bentuk replika berukuran 1/80 dari ukuran aslinya yang telah diproduksi masal dan dijual luas sebagai mainan anak-anak seharga US$ 4 dolar (Rp 36 ribu). Selain akan mengembangkan pesawat serupa, Iran juga berniat memberikan prototypenya ke Rusia dan China, dua negara raksasa yang juga musuh besar Amerika.

RQ-170 adalah pesawat mata-mata tanpa awak yang dirancang sebagai pesawat siluman yang tak terlacak radar. RQ-170 dibuat oleh Lockheed Martin AS dengan panjang 26m, lebar 4,5m dan tinggi 1,84m, dilengkapi sistem pengumpulan data modern di bidang elektronik, visual, komunikasi, dan sistem radar. Kemampuan Iran melacak dan menangkap RQ-170 dalam keadaan utuh mengejutkan dunia. Selama ini dipercaya bahwa penguasaan terknologi tersebut masih terbatas pada Amerika dan Israel. Tetapi Iran mampu meladeni perang elektronik dari kedua negara tersebut. Bahkan pesawat sejenis dengan teknologi yang lebih canggih milik Israel, baru-baru ini juga jatuh ketika tengah dalam persiapan melakukan tugasnya ke Iran. Eric Schmidt, CEO Google Inc, dalam wawancara dengan CNN mengakui kemampuan luar biasa dari para ahli perang cyber Iran, terutama keberhasilannya menangkap RQ-170.

Serangan dalam perang elektronik lain adalah serangan terhadap program sentrifugal nuklir Iran dengan menyusupkan virus Stuxnet-worm. Serangan mampu dijinakkan Iran dalam beberapa hari. Pakar Kapersky, yang merupakan perusahaan penyedia antivirus terkemuka di dunia, merasa kagum dengan kesigapan Iran tersebut. Dalam panggung perang elektronik ini, Iran juga berupaya menunjukkan kemahiranya dengan mengacak siaran VOA, BBC, Deutsche Welle, Voice of America berbahasa Persia, layanan Free Radio, Farda Radio, dan layanan Free Radio Europe/Radio Liberty.

Embargo Gagal, Amerika Siapkan Perang

Berbagai perang ekonomi yang dilancarkan Amerika dan sekutunya sejak 1980 hingga saat ini, tidak banyak menuai hasil. Juga dengan sangsi terbaru yang diharapkan membuat berbagai negara memutuskan hubungan dagang dengan Iran. Pada 26 Januari 2012, India tetap mendatangkan minyak dari Iran yang merupakan pemasok 12 persen dari kebutuhan minyak mentah India. Untuk transaksi ini India membayar dengan mata uang rupee yang kemudian dapat digunakan oleh Iran untuk membayar berbagai impor dari India. Sebelumnya India menggunakan US $ untuk membayar minyak Iran. Pada 3 Februari 2012, Cina juga mengirim dua supertanker untuk membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Iran ke Pulau Khark, Cina. Dua kapal lainnya, Davar dan Hoda, juga telah berada di terminal minyak Iran untuk mengangkut 2,4 juta metrik ton minyak mentah menuju Cina.

Tiga puluh dua tahun hidup dalam embargo tidak membuat Iran lemah. Demikian pula selama 32 tahun dalam ancaman perang tidak membuat Iran ciut nyali. Namun kini, demi mencermati gelar militer dari kedua belah pihak, sulit dipercayai bahwa ini hanya dalam rangka “deterence”. Chief Editor of the Russian National Defense magazine, Igor Korotchenko, meramalkan bahwa perang akan segera terjadi antara Amerika Serikat dan Iran. Amerika akan terus mendorong berbagai sangsi bagi Iran dan berharap Iran benar-benar memenuhi ancamannya akan menutup Selat Hormuz. Dengan demikian Amerika mempunyai alasan untuk segera menyerang Iran yang sudah beberapa kali tertunda karena lemahnya alasan. Atas dasar terganggunya kepentingan internasional, Amerika berharap mendapat dukungan internasional.

Damai mungkin jalan terbaik, tapi sengketa selama 32 tahun nampaknya membuat Amerika sudah kehabisan kesabaran. Akankah kedua belah pihak menyelesaikan urusannya di Selat Hormuz pada Juli nanti?? (misbach zakaria)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Patung Malaikat Tuhan Pembawa Warta …

Blasius Mengkaka | | 30 August 2014 | 09:27

Jadi Donor Darah di Amerika …

Bonekpalsu | | 30 August 2014 | 06:25

Nasib Sial Florence Bisa Terjadi di …

Pebriano Bagindo | | 29 August 2014 | 20:14

Dian Sastrowardoyo dan Mantan ART Saya …

Ariyani Na | | 30 August 2014 | 10:04

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 6 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 7 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 12 jam lalu

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 17 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Pendidikan Masa Kini …

Dhita Putri Arining... | 8 jam lalu

Pendidikan Masa Kini …

Muhammad Fikri Insa... | 8 jam lalu

Basah di Mata (Puisi) …

Eko Zetialism | 8 jam lalu

Pasang Surut Seni Jarang Kepang Di Ponorogo …

Nanang Diyanto | 8 jam lalu

Jokowi Butuh Rp 265 Triliun (7) …

Kwee Minglie | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: