Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Juragan Minyak

Warganegara biasa, tinggal di Jakarta "Kota Sejuta Knalpot Berisik Orang-orang Nyentrik Akibat Sirik". Awalnya kusedot selengkapnya

Siskamling, Pengorbanan Sia-Sia

OPINI | 23 May 2012 | 13:42 Dibaca: 457   Komentar: 0   0

Membaca artikel “Sebuah Ikhtiar agar Pos Siskamling Kembali Dilirik Masyarakat” di harian Kompas cetak tanggal 22 Mei 2012 seakan membangunkan pemberontakan hati kecil atas ritual siskamling. Setiap pertemuan warga membahas siskamling selalu diwarnai dengan perdebatan suara idealis dan suara pragmatis. Judul artikel tersebut menyiratkan semakin lama masyarakat semakin sadar, siskamling hanyalah pengorbanan sia-sia.

Tujuan keamanan sering menjadi tujuan sekunder. Kalau tujuan keamanan yang diutamakan, pelaksanaan siskamling yang hanya pada Sabtu malam tak akan bisa mendelegitimasi keberadaan satpam perumahan yang non-stop.

Akhirnya jadilah ungkapan-ungkapan demi keakraban dan kesatuan membungkus maksud-maksud yang sampai saat ini selalu gelap. Bila masalah keakraban dan kesatuan yang menjadi tujuan mengapa harus mengorbankan waktu tidur yang semakin hari semakin mahal?

Yang membuat hati lebih miris, warga beramai-ramai mengorbankan istirahat untuk menangkap sesuatu yang ak diketahui apa yang bisa ditangkap. Padahal sepanjang hari dengan bebasnya  sepeda motor lalu lalang merusak ketentraman lingkungan perumahan, ngebut, pasti dengan suara knalpot yang membakar tekanan darah.

Tak habis pikir, mengapa warga mengikuti perilaku kepolisian yang tidak menindak mereka? Tidakkah ini suatu kebodohan kolektif? Belum lagi, produsen dan pedagang knalpot akan selalu berusaha mencari cara untuk menutup setiap celah yang bisa mengganggu bisnisya. Termasuk menyogok. Apakah polisi tidak mungkin dibayar oleh pebisnis-pebisnis hitam itu untuk berpura-pura tak ada masalah?

Banyak lurah yang termakan oleh himbauan polisi agar masyarakat turut berperan serta dalam menjaga kamtibmas. Dan tak sedikit juga lurah yang tak paham apa itu sesungguhnya kamtibmas. Celakanya kamtibmas diasosiasikan dengan siskamling, begadang setiap Sabtu malam. Jadilah warga masyarakat berkorban untuk sesuatu yang tak diketahui maksudnya.

Mudah-mudahan kepolisian tidak terus membodohi masyarakat dengan basa-basi siskamling. Pada saat itu kemudian warga bisa memaknai pengorbanan siskamling.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Supermaterial yang Akan Mengubah Wajah Dunia …

Rahmad Agus Koto | | 23 November 2014 | 11:02

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | | 23 November 2014 | 11:49

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 9 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 17 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 19 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


HIGHLIGHT

Bagaimana Menjadi Penulis Opini, Kuliah …

Hendi Setiawan | 11 jam lalu

Di bawah Alunan Malam …

Arrizqi Titis Anugr... | 12 jam lalu

Cenderamata Kompasianival 2014 …

Nur Delima | 12 jam lalu

Awal Musim Dingin di Gunung Manin, Daejeon, …

Ony Jamhari | 12 jam lalu

Benarkah Reformasi Birokrasi Harus Dipaksa? …

Efendy Naibaho | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: