Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Juragan Minyak

Warganegara biasa dibanned di Kompas.com, tinggal di Jakarta "Kota Sejuta Knalpot Berisik, Ibu Kota Negara selengkapnya

Siskamling, Pengorbanan Sia-Sia

OPINI | 23 May 2012 | 13:42 Dibaca: 440   Komentar: 0   0

Membaca artikel “Sebuah Ikhtiar agar Pos Siskamling Kembali Dilirik Masyarakat” di harian Kompas cetak tanggal 22 Mei 2012 seakan membangunkan pemberontakan hati kecil atas ritual siskamling. Setiap pertemuan warga membahas siskamling selalu diwarnai dengan perdebatan suara idealis dan suara pragmatis. Judul artikel tersebut menyiratkan semakin lama masyarakat semakin sadar, siskamling hanyalah pengorbanan sia-sia.

Tujuan keamanan sering menjadi tujuan sekunder. Kalau tujuan keamanan yang diutamakan, pelaksanaan siskamling yang hanya pada Sabtu malam tak akan bisa mendelegitimasi keberadaan satpam perumahan yang non-stop.

Akhirnya jadilah ungkapan-ungkapan demi keakraban dan kesatuan membungkus maksud-maksud yang sampai saat ini selalu gelap. Bila masalah keakraban dan kesatuan yang menjadi tujuan mengapa harus mengorbankan waktu tidur yang semakin hari semakin mahal?

Yang membuat hati lebih miris, warga beramai-ramai mengorbankan istirahat untuk menangkap sesuatu yang ak diketahui apa yang bisa ditangkap. Padahal sepanjang hari dengan bebasnya  sepeda motor lalu lalang merusak ketentraman lingkungan perumahan, ngebut, pasti dengan suara knalpot yang membakar tekanan darah.

Tak habis pikir, mengapa warga mengikuti perilaku kepolisian yang tidak menindak mereka? Tidakkah ini suatu kebodohan kolektif? Belum lagi, produsen dan pedagang knalpot akan selalu berusaha mencari cara untuk menutup setiap celah yang bisa mengganggu bisnisya. Termasuk menyogok. Apakah polisi tidak mungkin dibayar oleh pebisnis-pebisnis hitam itu untuk berpura-pura tak ada masalah?

Banyak lurah yang termakan oleh himbauan polisi agar masyarakat turut berperan serta dalam menjaga kamtibmas. Dan tak sedikit juga lurah yang tak paham apa itu sesungguhnya kamtibmas. Celakanya kamtibmas diasosiasikan dengan siskamling, begadang setiap Sabtu malam. Jadilah warga masyarakat berkorban untuk sesuatu yang tak diketahui maksudnya.

Mudah-mudahan kepolisian tidak terus membodohi masyarakat dengan basa-basi siskamling. Pada saat itu kemudian warga bisa memaknai pengorbanan siskamling.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 9 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 10 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 12 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 13 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: