Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Mudy

Rakyat kecil tinggal di Jakarta, penghasilan pas-pasan, nonpartisan, Pancasilais, republiken, ultra-nasionalis. Anti NeoLib-ASEAN-C, anti religio-fascist, selengkapnya

Iran, Diambang Kehancuran? Prediksi Skenario Perang

OPINI | 29 June 2012 | 01:10 Dibaca: 22282   Komentar: 24   3

Sambil menunggu Jerman - Itali, browsing-browsing, ternyata perang Israel Iran sudah diambang pintu. Bukan hanya operasi cyber warfare yang melibatkan kerjasama AS dan Israel, tetapi juga operasi gemilang menurunkan harga minyak dunia yang melibatkan negara-negara Arab yang anti Iran. Boikot dan embargo datang bertubi-tubi dari negara-negara Eropa.

Meninjau posisi Rusia, tampak jelas bahwa Rusia tidak mendukung Iran dengan penolakan Rusia menjual S-300, apalagi S-400 secara terbuka kepada Iran. S-300 adalah sistem pertahanan udara yang diatas kertas sulit ditembus oleh Israel. Menimbang hal ini, dapat diduga bahwa penolakan Rusia atas sangsi DK PBB pada Iran justru berasal dari keinginan AS. Jika DK PBB sepakat mengizinkan koalisi militer, AS-lah yang harus mengeluarkan dana untuk perang, karena EU tengah didera krisis ekonomi, sedangkan AS tidak mungkin ikut berperang kalau bukan sebagai pemimpin koalisi. Apalagi masyarakat AS dalam masa sentimen anti perang.

Dengan penolakan Rusia, AS tidak kehilangan muka. Sebagian besar operasi perang dapat dilakukan oleh Israel, dan biaya dapat di distribusikan kepada negara-negara Arab yang anti Iran. AS baru memimpin perang setelah Iran membalas serangan Israel dengan serangan ke sekutu-sekutunya atau memblokade Selat Hormuz. Baik resiko korban pasukan maupun biaya dapat di minimalisasi.

Jaringan pertahanan udara anti rudal balistik Iran menyatukan pertahanan udara di Oman, Saudi Arabia, UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, Israel, Turki, dan Armada Kelima AS di Selat Hormuz (dengan basis di Bahrain), yang juga memayungi Irak dan Yordania. Terkoneksi antar Radar AEGIS dengan sistem radar lain (termasuk beberapa sistem radar Rusia di Balkan/Caspia), dengan misil pencegat mulai dari Patriot, THAAD, Arrow, dan Iron Dome.

Prediksi Elemen Serangan Israel

Pada H-1, elemen dari Strategic Depth Command Israel menuntaskan penyiapan 4 FOB (Forward Operating Base) alias basis operasi:

- FOB Utara di Georgia atau Kazakhtan, dengan Advance Landing Ground (ALG) di Turkmenistan dan Azerbaizan.

- FOB Selatan di India, dengan ALG di carrier USS Abraham Lincoln

- FOB Timur di Afghanistan dekat Turkmenistan, dengan 1 ALG di Afganistan dekat Pakistan.

- FOB Barat di Irak utara (Irak-Kurdistan), dengan ALG di Irak tengah dan selatan.

Dipersiapkan pula lokasi pendaratan darurat di wilayah UEA, Saudi Arabia, dan di selat hormuz (di carrier USS Carl Vinson).

ALG dimaksudkan sebagai lokasi pendaratan darurat, titik evakuasi.

FOB selain sebagai ALG juga menjadi lokasi medivac/rumah sakit tempur, pasukan air-cavalery untuk tujuan SAR jika ada pilot yang jatuh, lokasi pasukan komando jika dibutuhkan misi penyusupan, tempat mempersenjatai kembali pesawat jika dibutuhkan, command and control khususnya untuk UAV.

Menjelang serangan, pesawat pengisi bahan bakar mengambil posisi di angkasa Irak, Laut Kaspia, Afghanistan, dan Laut Arab.

13409065681927355407

Serangan Gelombang Pertama

Serangan gelombang pertama dilakukan bersamaan dari 4 arah:

  • Dari Laut Caspia
  • Dari Iraq
  • Dari Afghanistan
  • Dari Laut Arab

Gelombang Pertama memiliki 3 sasaran:

  1. Menghancurkan sistem pertahanan anti rudal balistik Iran: S-300 atau Bavar 373 (target utama jika ada).
  2. Menghancurkan seluruh sistem pertahanan anti serangan udara Iran, yang meliputi: Tor-M1E, 2K12 Kub, S-200/HQ-2, Pantsir-S1, MIM23 Hawk/Shahih
  3. Menghancurkan instalasi target utama: fasilitas pengayaan uranium di Nathan dan Fordow dekat Qom.

Serangan Gelombang Pertama dimulai jam 10.00 waktu Iran secara bersamaan. Dibutuhkan pengaturan waktu yang baik agar seluruh Grup dapat mulai menyerang secara bersamaan.

  • Formasi F16 beserta UAV Harop dari Grup Selatan berangkat dari FOB India, melintasi Laut Arab, mengisi bahan bakar di udara, kemudian menyerang pertahanan udara pantai Selatan Iran.
  • Formasi F16 beserta UAV Harop dari Grup Timur berangkat dari FOB Afghanistan menyerang pertahanan udara di sekitar Semnan (timur Teheran).
  • 2 Formasi F16 dan 1 Formasi F15 dari Grup Barat berangkat dari Israel, menyisir perbatasan Yordania-Saudi, masuk ke angkasa Irak, mengisi bahan bakar di udara. Kemudian 1 Formasi F16 menyerang pertahanan anti serangan udara di Kurdistan-Iran sekitar Hamadan, dan 1 Formasi F16 menyerang pertahanan udara di sekitar Arak. UAV Harop diluncurkan dari FOB Barat di Irak membantu Formasi F16 menghancurkan pertahanan udara Iran. Formasi F15 menyerang pangkalan angkatan udara Iran sebelah Barat, membom landasan pacu, dan mengejar pesawat yang mengudara.
  • Formasi F16 dari Grup Utara menghancurkan pertahanan sepanjang pantai Kaspia-Iran, kemudian Formasi UAV Harop mencari dan menghancurkan pertahanan anti serangan udara di sekitar Teheran.
  • Bersamaan dengan itu sejumlah IRBM Jericho dengan hulu ledak non-nuklir yang diluncurkan dari Israel menghantam fasilitas pertahanan anti serangan udara Iran lainnya, fasilitas komunikasi militer, dan pusat komando Iran.
  • Sekitar jam 12.00, segera setelah pertahanan anti serangan udara di netralisasi, Formasi Campuran dari Grup Barat menyerang Fordow dan Nathanz. Nathanz yang struktur bangunannya diketahui persis dapat dihancurkan dengan beberapa GBU-28. Untuk Fordow yang jauh lebih kompleks, tidak diketahui persis layout-nya, dan berada di pegunungan, GBU-28 hanya digunakan untuk menghancurkan pintu masuk dan ventilasi ke bunker.

Untuk menghancurkan seluruh isi bunker Fordow, Israel memiliki 3 cara: menggunakan kombinasi MOP dan MOAB yang diangkut dengan C130 Hercules, atau menggunakan bom nuklir taktis berkekuatan 800 ton, setara dengan B61 versi taktis milik AS. Untuk menggunakan bom tersebut, Israel akan menggunakan uranium kategori paling rendah yaitu diperkaya 20% sesuai dengan pengayaan uranium Iran, dan bom harus melakukan penetrasi 150 meter agar ledakan tertimbun dibawah tanah. Setelah pengeboman, pesawat pengintai mendeteksi apakah terjadi kebocoran radiasi. Jika terjadi kebocoran radiasi, dilakukan pengeboman susulan di lokasi kebocoran dengan harapan menutup kebocoran. Penggunaan nuklir taktis seperti ini tentunya akan di tutupi oleh Israel.

Alternatif ketiga adalah dengan menurunkan pasukan komando untuk bertempur merebut lokasi, kemudian menghancurkan bunker-bunker dan fasilitas nuklir tersebut dengan cara yang aman. Cara ini lebih beresiko mengorbankan pasukan Israel, namun akan berpengaruh positif pada citra militer Israel karena mengurangi resiko kebocoran radiasi nuklir yang dapat mengorbankan rakyat sipil.

  • Sepanjang waktu, secara bergantian, Formasi UAV recon dan tempur Eitan, Hermes dan Heron, melakukan patroli untuk mengejar kendaraan peluncur rudal balistik Iran yang terdeteksi, mengamati gerak pasukan, mencari sasaran, dan melakukan perang elektronik. Formasi F16 dan F15 serta F35 siap di udara menghadapi pesawat Iran yang mengudara.
  • Seluruh pesawat tempur dari semua FOB setelah menuntaskan operasi kembali ke Israel melalui angkasa Irak, dengan pengisian bahan bakar di udara jika perlu. Serangan Gelombang Pertama memakan waktu sekitar 3 - 6 jam. Begitu kembali ke Israel, Pesawat Gelombang Pertama segera dipersiapkan untuk terlibat pada Serangan Gelombang Ketiga dan selanjutnya.

13409064781730565128

Serangan Gelombang Kedua

Tepat pukul 13.00 dilakukan serangan Gelombang Kedua, dengan sasaran:

  1. Memastikan kehancuran kekuatan udara Iran, dengan target tidak ada pesawat Iran yang mengudara, seluruh landasan udara dihancurkan, kemudian mencari dan menghancurkan bunker pesawat Iran.
  2. Menghancurkan cadangan strategis pertahanan udara Iran, yaitu lokasi-lokasi radar dan pertahanan anti serangan udara cadangan, gudang-gudang senjata, dan jalan-jalan raya maupun kereta api.
  3. Menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang luput dari serangan Gelombang Pertama.
  4. Menghancurkan jalan raya dan jalur kereta api ke luar Iran, khususnya ke arah Siria dan Irak, guna menghindarkan pengiriman senjata keluar Iran atau gerakan pasukan menuju Israel.

Serangan Gelombang Ketiga

Dilakukan mulai hari kedua dan seterusnya, hingga AS atau Rusia memerintahkan penghentian serangan. Sasaran serangan ini:

  1. Menghancurkan seluruh kekuatan militer Iran, khususnya kendaraan lapis baja, persenjataan, kapal, bunker, dan infrastruktur militer lain, guna memberikan kesempatan pada oposisi untuk melakukan perlawanan.
  2. Menghancurkan teknologi pendukung nuklir dan teknologi pendukung industri senjata Iran. Misalnya fasilitas riset ruang angkasa Iran, fasilitas riset nuklir, industri kapal laut, dan industri terkait militer lain.
  3. Menyerang simbol-simbol pemerintah Iran. Hal ini untuk membangkitkan oposisi, dengan menunjukkan bahwa pemerintah Iran tidak berdaya.

Prediksi Respon Iran

Dalam 15 menit setelah serangan Gelombang Pertama, Iran akan menembakkan sejumlah rudal balistik ke Israel. Namun setelah 3 jam frekwensi serangan akan berkurang karena peluncur rudal Iran mulai diburu oleh pesawat Israel.

Secara bersamaan, dalam 1 - 2 jam, Hizbullah akan meningkatkan serangan rudal ke Israel dari Lebanon. Hamas dapat membatalkan genjatan senjata dan menembakkan rudal ke Israel. Serangan dari radikal di Mesir pun kemungkinan meningkat tajam.

Rudal-rudal Iran akan dihadang oleh anti rudal dari kapal-kapal AEGIS AS di selat Hormuz, pertahanan rudal balistik terkoordinasi Israel/AS: Patriot dan Arrow, dan pertahanan anti rudal Israel yang baru: Iron Dome.

Dengan tidak efektifnya serangan rudal balistik dan serangan proxy ke Israel, Iran memiliki beberapa pilihan ofensif:

  1. Memblokade Selat Hormuz, melarang kapal-kapal sekutu AS melewati Selat. Menebarkan ranjau laut di jalur utama minyak dunia, Selat Hormuz.
  2. Menembakkan rudal ke sekutu AS, khususnya ke basis militer AS di Kuwait, Qatar, UEA, Saudi Arabia, Bahrain, dan Afghanistan, yang lebih rentan pada serangan rudal balistik dibandingkan Israel.
  3. Melakukan invasi ke Kuwait, atau mengirim pasukan masuk ke Afghanistan atau Irak untuk menyerang basis Israel dan AS.
  4. Menembakkan rudal biologi atau kimia ke Israel atau ke sekutu AS lain.

Jika tidak membalas, pemerintah Iran akan menanggung malu. Disamping itu Israel kemungkinan akan terus menggempur hingga AS atau Rusia melakukan intervensi. Gempuran Israel beberapa hari dapat menghancurkan kemajuan teknologi Iran selama puluhan tahun. Dampak kehancuran moral militer Iran adalah gejolak sipil di masa depan yang bisa menjatuhkan pemerintahan Iran. Iran juga menjadi rentan atas konflik militer dengan negara-negara tetangga suni-nya, antara lain UEA yang memiliki sengketa wilayah.

Rumitnya, ibarat makan buah simalakama, jika Iran memilih melakukan serangan ofensif balasan manapun, masalah akan bertambah besar. AS dan sekutunya akan berperang melawan Iran.

Prediksi Perang Iran melawan AS, Inggris, dan koalisi Arab

Segera setelah Iran melakukan ofensif balasan, AS akan menyatakan perang. Jika hal ini terjadi, Israel akan segera menghentikan operasinya (karena negara-negara Arab sekutu AS tidak menyukai Israel).

Carrier Strike Group 1 dan Carrier Strike Group 9 akan mengirimkan pesawat tempur-nya. USS Enterprise dengan Strike Group 12 dari Teluk Aden akan segera bergabung ke Hormuz.

F-22 dan F-35 AS yang berbasis di UEA, Saudi, dan Bahrain akan segera mendominasi angkasa Iran. Tomahawk meluncur ke posisi-posisi militer Iran. Seluruh angkatan laut Iran akan dilumpuhkan dalam 1 hari, dan kapal-kapal selam Iran dikejar oleh destroyer AS.

NATO kemungkinan menolak ikut campur. Namun Inggris selalu siap bersama AS, setidaknya Destroyer HMS Daring, Frigate HMS Somerset, HMS Argyll (yang di BKO-kan pada Carrier Strike Group 9) dan sejumlah penyapu ranjau Inggris.

Prediksi Perang UEA-Iran

Berbeda dengan biasanya, UEA akan lebih terlihat garang. Dengan alasan Iran mengganggu jalur kapal internasional, menyerang negara Arab, dan menembakkan rudak, UEA akan memutuskan mengirim pasukan bersama AS.

UEA mengirimkan tentaranya lintas laut merebut 3 pulau Iran yang selama ini diakui UEA sebagai miliknya: Pulau Abu Musa, Greater Tunb, dan Lesser Tunb. Dengan penguasaan ketiga pulau tersebut, relatif keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz akan lebih terjamin oleh UEA.

Yang menarik, pengadaan militer UEA akhir-akhir ini sangat menjurus pada kemampuan serang amfibi: Helikopter pengangkut pasukan CH-47, 30 heli serbu AH-64As, 600 BMP3, 388 Leclerc MBT yang bisa diangkut dengan 7 LCT, 5 LCU, 16 LCP, 50 Pantsir-S1 diatas 8×8. UAV Al Sber, Apid 55, GRS 100 Falcon1 UAV anti kapal selam.

Peralatan militer UEA bukan rahasia bagi dunia. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa UEA sudah mempersiapkan legiun asing elit untuk menjadi ujung tombak pasukannya merebut Abu Musa. Legiun asing untuk specops UEA dibentuk oleh pendiri Blackwater, Erik Prince, mantan Navy Seals, yang kasusnya masih berlanjut di pengadilan AS (masih ingat Blackwater, tentara bayaran AS di Irak yang membantai 17 warga sipil Irak di Baghdad). Terdiri atas orang Kolombia, Afrika Selatan, dan negara lain, mereka dilatih oleh pensiunan veteran AS, Jerman, dan Inggris di Kota Militer Zayed, dengan gaji US $150/hari.

Abu Musa dipersenjatai Iran dengan rudal anti kapal Silkworm HY-2, juga di Pulau Qeshm dan Sirri. Rudal anti kapal C-801,  Zu-23-2 AAA, artileri 155mm, 122mm D-30, dengan 4000 prajurit. Rudal anti pesawat Hawk, dan SA-6 pernah dipasang di pulau ini, namun kemungkinan sudah tidak beroperasi.

Singkat kata, Sheikh Mohammad bin Zayed al-Nahyan, putra mahkota UEA, hanya membutuhkan 1 hal untuk merebut kembali pulau-pulaunya: justifikasi untuk berperang dengan Iran. Hal ini akan menjadi mustahil bila Iran telah memiliki senjata nuklir. Jadi tidak ada saat yang lebih baik dengan saat ini, dimana Amphibious Assoult Group AS USS Makin Island siap mendukung UEA merebut kembali kepulauannya.

Dengan pola yang sama, ada kemungkinan besar dengan alasan menjaga keamanan selat Hormuz, seluruh pulau milik Iran di Selat Hormuz direbut dan dibagi-bagi antara negara Arab.

Kapan Hari H ?

Bosan tebak-tebakan skor bola, kali ini saya mencoba menganalisa dan menebak tanggal serangan Israel ke Iran.

  • Serangan tidak akan dilakukan sebelum perundingan mendatang 3 Juli, sekalipun dapat diduga tidak akan ada kemajuan.
  • Diperkirakan Iran akan memiliki senjata nuklir pada 2015, dan mengupayakan perolehan teknologi peluncuran via kapal selam dan multiple reentry vehicle. Jika hal ini dimiliki, maka baik Israel maupun AS tidak mungkin lagi melakukan serangan ke Iran.
  • Serangan setelah September akan menyulitkan Israel, karena: Masa Kampanye Presiden AS memasuki masa kritis di bulan Oktober. Kemenangan Presiden Obama dapat dipastikan, namun Obama akan kesulitan mengambil keputusan-keputusan penting jika berada di tengah masa kampanye, misalnya jika terjadi insiden pelanggaran kemanusiaan oleh Israel yang disorot publik AS.
  • Pasukan AS dalam proses relokasi dari Timur Tengah ke teater lain akibat pengurangan anggaran. Lebih lama Israel menunggu, lebih sedikit kekuatan AS di Timur Tengah.
  • Kondisi status quo di angkasa Irak dapat berakhir sewaktu-waktu. Kiriman pesawat Mig 29 dari Belarusia, atau F16 dari Amerika yang dijadwalkan 2013.
  • Rusia sewaktu-waktu dapat berubah pendapat, dan melakukan intervensi dini. Pengiriman S-300 atau bahkan S-400 dapat dipastikan akan sangat meningkatkan resiko Israel. Hubungan saat ini sedang sangat baik dengan peresmian monumen Red Army di Israel oleh Putin.
  • Arab Saudi dapat berubah pikirian, khususnya dengan lobby Iran dan kampanye pendekatan seperti kunjungan kapal perang Iran ke Saudi. Upaya Iran untuk rekonsiliasi dengan Saudi akan menguat kuat menjelang Idul Adha, yang akan di dorong oleh negara-negara lain. Iran dapat menjanjikan menghentikan kampanye dan operasi anti Saud seperti yang pernah dilakukan. Saudi adalah faktor penting dalam serangan Israel ke Iran, mengingat jalur angkasa sangat strategis dalam perang Israel-Iran. Negara-negara Arab tidak akan berani mengumumkan perang melawan Iran tanpa Saudi. Akibatnya AS akan sangat kesulitan melakukan operasi melawan Iran ditengah keterbatasan anggaran.
  • Perkembangan Mesir dan Siria juga menjadi faktor penting mengingat potensi dominasi politik Ikhwanul Muslimin di kedua negara tersebut, yaitu Mesir sebelum akhir tahun 2012, dan Siria mungkin 2013. Israel tidak mungkin menyerang Iran jika berada dalam kondisi perang dengan Mesir dan Siria yang memiliki militer kuat.

Jadi, kemungkinan pilihan Israel untuk Hari H adalah:

A. Di bulan puasa, tanggal 7 atau 8 Agustus 2012

B. Setelah Ramadhan, 11 atau 12 September 2012

Tentu saja sama tak pastinya dengan hasil pertandingan Jerman - Itali pagi ini.

Sumber: Internet, Google Maps
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hasil SPP2013: Nasib Petani Tanaman Pangan …

Kadir Ruslan | | 24 July 2014 | 05:48

Topan Lain Akan Memasuki Filipina (Topan …

Enny Soepardjono | | 24 July 2014 | 08:53

Muda Kaya dan Bahagia …

Radixx Nugraha | | 24 July 2014 | 03:25

Dunia Prostitusi ‘De Wallen’ …

Christie Damayanti | | 24 July 2014 | 11:40

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 9 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 10 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 17 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: