Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Tuan Takurr

Senang Mengekpresikan Segala Sesuatu Dengan Hasil Karya Nyata.

Hibah Hercules C-130 dari Australia, Langkah Strategiskah?

OPINI | 03 July 2012 | 04:54 Dibaca: 507   Komentar: 1   0

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan akan ada pembahasan tentang rencana “setengah hibah” lima unit pesawat C130. “Agenda ini dihadiri Menteri Pertahanan Indonesia (Purnomo Yusgiantoro) dan Menteri Pertahanan Australia (Stephen Smith), membicarakan pengadaan pesawat C130 Hercules, rencana ada sekitar lima unit,” kata SBY di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Senin, 2 Juli 2012.

SBY menjelaskan pengadaan pesawat dari Australia ini sebenarnya menggunakan format hibah. Tetapi ada biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia untuk pembelian suku cadang baru. “Jadi sebetulnya setengah hibah, setengahnya kita beli,” katanya.

Rencananya, pesawat C130 tersebut digunakan untuk menggantikan Fokker 27 yang dilarang terbang lagi. Padahal TNI Angkatan Udara sedang membutuhkan banyak sarana angkut. “Alhamdulillah, program N 295 telah berjalan dan akan menjadi pengganti F27. Bahkan dengan kapasitas lebih besar,” katanya. Seperti dilansir dari tempo.co, Senin (2/7).

Nah, memang diakui saat ini TNI membutuhkan tambahan pesawat angkut personel. Pesawat angkut personel itu digunakan untuk operasi militer non perang. Perioritas utamanya adalah misi tanggap darurat pasca bencana alam.

Memang kita akui bahwasanya di wilayah Indonesia itu cukup rawan akan bencana alam. Karena itu dibutuhkan sebuah pesawat angkut non militer yang berfungsi memudahkan dalam proses penanganan bencana alam. Intinya adalah bahwasanya pesawat Hercules ini sangat cocok untuk membawa logistik dan misi guna mengangkut personel dalam menjalankan misi kemanusian.

Lalu bagaimanakan tentang pesawat C-130 Hercules itu. Hercules ini merupakan pesawat terbang bermesin empat turboprop yang bertugas sebagai pengangkat udara taktikal utama untuk pasukan militer di banyak Negara di dunia. Negara-negara seperti Spanyol, Iran, Irak, Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, Portugal, Israel, Sudan, Jepang, Kuwait dan negara lainnya menggunakan Hercules ini.

Hercules C-130 mampu mendarat dan lepas landas dari runway yang pendek atau tidak disiapkan, awalnya pesawat ini merupakan pesawat pengangkut militer dan pesawat kargo, namun saat ini digunakan untuk berbagai macam peran. Salah satunya adalah guna melakukan misi dalam penanganan bencana alam dan kemanusian.

Saat ini memang Kementerian Pertahanan telah menerima hibah pesawat Hercules dari Australia. Walaupun kita mengetahui, dalam hibah setengah ini, Indonesia harus membeli suku cadang baru dari Australia. Namun kita berpikir positif dalam pemberian hibah ini. Yang pasti adalah bahwasanya Indonesia sangat-sangat membutuhkan pesawat pengangkut personel militer dan pesawat untuk menjalankan misi kemanusian dalam menangani setiap bencana alam.

Oleh karena itu janganlah kita terlalu berdebat kusir dalam pemberian hibah ini. Mengapa? Kalau dilihat dari kegunaannya dan manfaatnya bagi Indonesia tentu saja pesawat Hercules C-130 sangatlah dibutuhkan TNI. Karena itu, ayo kita dukung dan memberikan perhatian yang positif atas pelaksanaan hibah itu untuk Indonesia.

Menurut saya ini merupakan jalan yang baik, dan positif. Saya secara pribadi setuju dengan langkah Kementerian Pertahanan. Bagaimana dengan Anda?

Tags: herkules

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Australia Jawara Piala Asia 2015 …

Achmad Suwefi | | 31 January 2015 | 18:50

Penyimpangan Perilaku Penyelenggara Siaran …

Budiyanto | | 31 January 2015 | 16:50

Inspirasi, Imajinasi, dan Referensi Dalam …

Ryan M. | | 31 January 2015 | 20:03

Di Indonesia Olah Raga Masih Dianggap …

Den Bhaghoese | | 31 January 2015 | 15:40

Menyantap Roti di Gudang Rottie …

Ariesa Putris | | 31 January 2015 | 15:27


TRENDING ARTICLES

Titik Temu, Catatan Kritis untuk Mata Najwa …

Mahi Baswati | 15 jam lalu

Siapa Adu Domba Jokowi dan Megawati? …

Nusantara Link | 16 jam lalu

Menyorot Sisi Humanitas Kisruh Sawito, Samad …

Nararya | 17 jam lalu

Abraham Samad di Ujung Tanduk …

Inesya Sisca | 17 jam lalu

Niat Jokowi Tidak Akan Torehkan Cacat …

Den Bhaghoese | 21 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: