Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Osntnc

Membaca untuk memperluas pengetahuan..bukan memprovokasi... herky69.blogspot.com

Isu SARA Sebagai Potensi Ancaman Assimetris terhadap Hankam Indonesia

OPINI | 16 September 2012 | 15:26 Dibaca: 539   Komentar: 6   0

By:TNC

Berangkat dari video “Innocent Muslim” yang dilansir manusia tak bermoral melalui situs you tube yang telah mampu membangkitkan semangat permusuhan dan kekerasan dengan dasar kecintaan terhadap agama. Jutaaan umat muslim di seluruh dunia mengecam tindakan tersebut dengan berbagai cara sesuai kemampuan masing-masing. Mulai dari kecaman, aksi demo, sampai dengan ancaman terhadap kedutaan Amerika Serikat di beberapa negara sebagai konsekuensi pertanggung jawaban pemerintah Amerika atas warga dan tempat pembuatan film tersebut. Terlepas dari kasus penyerangan Kedubes Amerikat Serikat di bengazhi yang mengakibatkan tewasnya dubes Amerika Serikat, J.Christopher Stevens, saya ingin sedikit membahas kejadian ini sebagai contoh bentuk ancaman nyata SARA yang telah dan akan mengancam kehidupan manusia di dunia pada umumnya dan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada khususnya.

Seperti teori yang disampaikan oleh S. Huttington, dalam bukunya The Clash of Civilization, bahwa masyarakat dunia akan menuju sebuah perpecahan yang disebabkan oleh beberapa pengelompokan yang terus berkembang sesuai dengan cara pengklasifikasiannya. Pendapat tersebut nampaknya sudah mulai terlihat pada abad 21 ini, dengan sering terjadinya konflik baek di tingkat nasional, regional maupun internasional berbasiskan SARA.

Negara kita yang dikenal terdiri dari ribuan suku, dan terkelompok menjadi 5 agama serta aliran kepercayaan , mempunyai potensi besar terjadinya konflik komunal yang mudah tersulut apabila tidak diantisipasi dengan baik. Konflik Ambon, Poso, Dayak dan Madura serta maraknya terorisme yang berkedok agama merupakan bukti real ancaman assimetric yang menghantui bangsa ini,selain ancaman assimetri  lain dalam aspek kehidupan; Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Akhir-akhir ini nampaknya sejarah bangsa terulang saat kita dijajah selama 3,5 abad dengan politik divide et impera. Politik pecah belah tersebut sesungguhnya adalah taktik yang paling gampang dan murah dalam konsep assimetric warfare. Rakyat dipecah belah dengan menunggangi agama dan suku. Karena agama begitu kuat mendorong manusia untuk berjuang sampai dengan titik darah  penghabisan dalam mempertahankan kepercayaan.

Menjawab semua kondisi tersebut perlu kiranya kita kembali memahami dan memupuk rasa Nasionalisme sebagai sebuah nilai entity bangsa. Kecintaan terhadap bangsa dapat diwujudkan jika rakyat nyaman, bangga dan bersyukur terhadap bumi Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini. Hanya dengan Gerakan Nasional yang dimotori oleh kekuatan besar lah yang mampu kembali membangkitkan semangat kebangkitan Nasional Budi Utomo. Tentunya untuk sebuah muara kebersamaan dalam mengantisipasi potensi assimetric yang mungkin akan masuk di era free trade yang akan kita hadapi di tahun 2015.

Lebih jauh , negara kita sebenarnya telah memiliki sebuah konsep pemersatu yang ampuh dengan “Bhineka Tunggal Ika” berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Hidup berdampingan dengan berbeda-beda suku, agama maupun kepercayaan harus dipupuk. Ibarat tanaman, semangat bhineka tunggal ika ini sudah mulai layu karena tidak pernah disiram dan dipupuk oleh pemiliknya. Minimnya kegiatan yang bersifat nasional dengan mengusung keberagaman telah membuat kita larut dalam hiruk pikuk otonomi daerah. Semua sibuk memikirkan perebutan kekuasan dan eksploitasi kedaerahan sedangkan pertahanan terhadap potensi disintegrasi masih belom matang.

Semoga kedepan Hal ini diantisipasi lebih baik oleh kepemerintahan yang baru di tahun 2014 menyongsong bangsa Indonesia yang besar dan sejajar dengan bangsa lain di dunia seperti cita-cita Bung Karno dan Bung Hatta..

Sebagai langkah berikutnya tentu unsur Intelegen sebuah negara harus diperkuat sebagai deteksi dini adanya potensi perpecahan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 6 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 6 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 10 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 11 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 11 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 12 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 12 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: