Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Prayitno Ramelan

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, selengkapnya

Teroris Digebah di Poso, Kapolsek Poso Ditembaki, Gubernur Sulsel Dilempari Bom

OPINI | 16 November 2012 | 02:58 Dibaca: 841   Komentar: 0   1

Sejak peristiwa terbunuhnya dua anggota polisi Poso yang ditemukan pada tanggal 16 Oktober 2012, dalam satu lubang di daerah Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah, kepolisian Polda Sulawesi Tengah serta aparat TNI terus melakukan penyisiran. Memang pengejaran para pelaku yang diduga jaringan teroris beberap tertangkap dan ada yang ditembak mati karena melakukan perlawanan. Alih-alih mereda, mereka bak sarang tawon, begitu digebah, tawon itu balik melakukan serangan, walau kecil tetapi mengganggu dan berbahaya.

Pada hari Kamis pagi (15/11), rumah dinas Kapolsek Poso Pesisir Utara, Iptu Taruklabi, ditembaki orang tidak dikenal.  Kapolsek berhasil selamat dari kejadian ini namun akibat tembakan meninggalkan bekas di dinding tembok teras rumahnya. Proyektil peluru dittemukan di dekat lokasi. Kapolres Poso, AKBP Eko Santoso menjelaskan kejadian masih didalami, untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan kasus ini dengan sejumlah kasus teror terhadap kepolisian lainnya di Poso. ”Kita belum tahu kelompok mana, tapi motifnya kayaknya memang mau menyerang polisi dan kecenderungannya ke sana,”katanya.

Kejadian teror sebelumnya terjadi di kota Makassar, Sulawesi Selatan.  Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dilempari bom pipa saat menyanyi pada acara jalan santai Peringatan HUT Golkar ke-48 di Monumen Mandala, Makassar, Minggu (11/11/2012). Beruntung barang yang diperkirakan bom rakitan  tak meledak. Pelemparan bom membuat panitia dan peserta acara geger, berdasarkan pemeriksaan polisi, bom tersebut berjenis high explosive. Selain membawa bom, pelaku yang diketahui bernama Awaluddin Nasir alias Lukman Rahim berumur 25 tahun juga membawa sepucuk pistol revolver caliber-38 .  Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Makassar menduga pelaku merupakan jaringan terorisme Poso.

Berdasarkan keterangan polisi pelaku yang  terduga teroris tinggal di Dusun Kandote, Desa Salumanaka, Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Sementara alamat pelaku di Makassar, jalan Sultan Alauddin II Nomor 29 Kecamatan Rappocini. Benda tersebut diduga bom rakitan dengan daya ledak tinggi setelah diuraikan oleh tim penjinak bom  Detasemen Gegana Polda Sulselbar disebutkan beratnya dua ons, berisi serbuk TNT dan paku lima centimeter sebanyak 40 buah.

Berdasarkan keterangan pelaku, dirinya hanya disuruh seseorang berinisial SY untuk meleparkan benda diduga kuat bom rakitan setelah diberi uang Rp500 ribu. ”Saya ada tiga orang, kami diberi uang Rp500 ribu perorang, tugas saya melempar benda itu ke atas panggung,”kata  Awaluddin.

Teroris Poso seperti Tawon

Teroris di Poso seperti tawon, digebah, dikejar di hutan Poso, mereka meluaskan ancaman terornya bahkan ke propinsi Sulawesi Selatan Tenggara. Teroris di Poso ini menggeliat setelah terbongkarnya jaringan di Solo, Depok dan Jakarta. Rupanya beberapa sisa teroris yang sempat mengikuti latihan di Poso masih berada di propinsi Sulawesi Tengah. Pihak Densus kemudian melakukan pengejaran lebih intensif setelah dua anggota polisi Polres Poso dibunuh di Tamanjeka. Bersama dengan personil intel TNI AD, pihak polisi terur menyisir kawasan hutan yang umumnya masih perawan.

Penyisiran membuahkan hasil, dimana aparat Densus berhasil melakukan penangkapan. Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri berhasil menangkap tiga terduga teroris, satu orang di antaranya tewas dalam baku tembak di Desa Halora, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Rabu (31/10). “Dua orang yang ditangkap berinisial NR dan RH,” ujar Karo Penmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar  di Jakarta Rabu (31/10). Proses penangkapan tiga terduga teroris tersebut menurut Boy  tidak mudah. Sebab, di lokasi pelatihan militer yakni di Gunung Biru, Poso sudah banyak terpasang bom ranjau. Saat penangkapan tersebut tiga terduga teroris tersebut juga sempat melakukan perlawanan sehingga Densus terpaksa melepaskan tembakan.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai menjelaskan, terduga teroris yang tewas itu bernama Jipo asal dari Pesantren Umar bin Khatab, Bima, Nusa Tenggara Barat,  dan sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) kasus teroris. Selain menangkap terduga teroris, polisi juga menemukan sepucuk pistol dan tujuh bom aktif rakitan serta bahan-bahan pembuat bom. Dua di antara bom itu telah diledakkan tim penjinak bom (Gegana) di lokasi peristiwa.

Pada hari Sabtu (2/11/2012), Densus 88 Antiteror berhasil melakukan penyergapan dua terduga anggota kelompok teroris. Menurut Karo Penmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar,  yang ditangkap hidup bernama Sutomo bin Sudarto alias Mohamad Yasin dan yang ditembak mati atas nama Abdul Halif Tumbingo alias Kholid. Keduanya memiliki peran penting di balik serangkaian aksi teror di Sulawesi Tengah belakangan ini. Selain mengetahui aksi pembunuhan dua anggota Polri, mereka juga terlibat perencanaan penembakan anggota Polri yang berjaga di Kantor BCA Palu awal tahun  2011.

Selanjutnya Boy menjelaskan, mereka diketahui berhubungan dengan buronan terduga tokoh teroris Santoso dan membuat tempat latihan teroris di Poso. Keduanya  mengajak kelompok teroris Solo pimpinan Badri Hartono untuk melatih pembuatan bom terhadap kelompok Poso. Bahkan, Abdul Halif juga berperan menampung peserta pelatihan teror dari Bima, Nusa Tenggara Barat. “Hal ini berdasarkan keterangan dari para tersangka teroris yang sudah ditangkap lebih dulu,” kata Boy. Dari hasil penggeledahan di kediaman tersangka yang beralamat di Jalan P. Tarakan, Desa Gebang Rejo Kecamatan Poso Kota, polisi menyita tiga buah bom rakitan, tiga unit perangkat komputer, beberapa dokumen, dan sejumlah alat perakit bom.

Kepala BNPT Ansyaad mengatakan penangkapan terduga teroris itu adalah terkait dengan pengejaran terhadap buron terduga teroris Santoso dan Upik Lawanga. Dalam pengejaran itu, Ansyaad mengakui ada kesulitan dari aparat keamanan dalam melakukan pengejaran mengingat medan yang sangat sulit dilalui. Pusat latihan dan basis pertahanan mereka masih ada di dusun Taman JK dan gunung biru dengan total kekuatan belasan hingga 20 orang. Selebihnya ditempatkan di luar wilayah tersebut.

Kekuatan secara pasti belumlah jelas, karena ada perkiraan sekitar 30-40 yang telah mengikuti pelatihan semi militer di Poso. Kini sebagian telah berpencar, terbukti dari aksi pelemparan bom di tempat Gubernur Sulawesi Selatan beraktivitas. Tidak dapat dibayangkan apabila bom rakitan meledak di panggung, kisah ceritanta akan menjadi ramai. Mengingat polisi masih dijadikan target utama, sebaiknya Polri lebih menekankan pengamanan baik pribadi, informasi, materiil dan kegiatan kepada anggotanya.

Sulit memperkirakan waktu dan tempat serangan, karena inisiatif berada di penyerang. Karena itu, peningkatan peran intelijen perlu lebih di galakkan, karena para teroris lebih berani dan terencana dalam melakukan serangan. Semoga bermanfaat.

Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Akun Dinda Tidak Takut Komen Pedasnya Pada …

Febrialdi | 5 jam lalu

Prabowo Terancam Tidak Bisa Bertarung di …

Rullysyah | 6 jam lalu

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 15 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 15 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: