Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Menelaah Urutan Kepangkatan TNI AD

OPINI | 16 December 2012 | 23:37 Dibaca: 943   Komentar: 0   1

Penulis : Aldi

Jika kita melihat urutan kepangkatan pada angkatan bersenjata diseluruh dunia, mayoritas tidak jauh berbeda. Paling perbedaan hanya berupa nama dan istilah yang digunakan. Urutan kepangkatan di Tentara Nasional Indonesia (TNI), khususnya TNI Angkatan Darat (AD),terlihat memiliki kesamaan dengan Tentara Amerika Serikat (US Army). Terutama pada level perwira tinggi, perwira menengah dan perwira pertama.

Pada institusi TNI dan Polri, kita mengenal urutan atau jenjang kepangkatan untuk perwira tinggi, perwira menengah, perwira pertama, bintara dan tamtama. Dimana,khusus di institusi TNI AD, untuk perwira tinggi berpangkat bintang satu di pundak, disebut dengan brigadir jendral (brigjen). Kemudian untuk  bintang dua, di sebut dengan mayor jendral (mayjen).

Selanjutnya untuk tanda pangkat dengan bintang tiga di pundak, TNI AD menyebutnya dengan letnan jendral (letjen), dan untuk tanda pangkat bintang empat, disebut dengan jendral. Melihat begitu tertatanya sistem kepangkatan di TNI AD, tentunya kita meyakini bahwa hal ini telah melalui pengkajian dan analisa yang sangat mendalam dari Mabes TNI AD.

Namun demikian, jika kita cermati lebih jauh, ada sejumlah pertanyaan yang muncul atas penamaan atau istilah kepangkatan yang saat ini diterapkan oleh TNI AD. Pertanyaan ini semakin mengemuka, setelah atau pasca Kepolisian Republik Indonesia (Polri) berpisah dengan TNI. Dimana seperti kita ketahui, sebelumnya, Polri merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Sebelum berpisah dari ABRI, urutan dan istilah kepangkatan Polri, sama dengan yang diterapkan oleh TNI AD.

Semenjak Polri, memisahkan diri dari ABRI,  terhitung dari tanggal 1 April 1999, yang kita ketahui merupakan amanat reformasi, dan bertujuan untuk menghapus norma, watak dan praktik militerisme dalam tubuh kepolisian (demiliterisasi). Pemisahan tersebut ditandai dengan Keputusan Presiden Habibie Nomor 89 Tahun 2000. Lalu dikuatkan oleh TAP MPR VI/2000 tentang Pemisahan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan dilanjutkan oleh TAP MPR VII/2000 tentang Peran Tentara Nasional Indonesia dan Peran Kepolisian Negara RI. Peran TNI dan Polri diatur secara operasional melalui UU No.2/2002 tentang Kepolisian Negara RI, UU No.3/2002 tentang Pertahanan Negara, dan UU No. 34/2004 tentang TNI.

Pasca pemisahan Polri dari ABRI, Polri menyikapinya dengan  melakukan restrukturisasi terhadap satuan yang ada di internalnya. Tidak itu saja, Polri juga melakukan perubahan terhadap urutan, tanda dan penamaan kepangkatan di institusinya. Dengan perubahan istilah kepangkatan tersebut, sekaligus menandai bahwa Polri resmi berpisah dengan ABRI, dan sekaligus Polri tidak lagi menjadi institusi militer, tapi sudah menjadi institusi sipil.

Terkait perubahan penamaan atau istilah kepangkatan, Polri melakukan perubahan mulai dari level tamtama sampai kepada level perwira tinggi. Sewaktu masih bagian dari ABRI, pada tingkatan tamtama, Polri menggunakan istilah prajurit dan kopral. Kemudian setelah berpisah dari ABRI, istilah kepangkatan tersebut berganti menjadi bhayangkara dan ajun Brigadir.

Selanjutnya untuk level bintara, sebelumnya Polri menggunakan istilah sersan, kemudian berganti menjadi brigadir. Hal yang sama juga dilakukan Polri pada tingkatan perwira pertama, dimana untuk letnan dua (letda), diganti menjadi inspektur dua (ipda). Kemudian letnan satu (lettu) diganti menjadi inspektur satu (iptu). Selanjutnya untuk kapten, Polri menggantinya menjadi ajun komisaris polisi (AKP).

Pada tingkatan perwira menengah, Polri merubah nama mayor menjadi komisaris polisi (kompol), letnan kolonel (letkol) dirubah menjadi ajun komisaris besar polisi (AKBP) dan yang terakhir kolonel berganti nama menjadi komisaris besar (kombes).

Beberapa perubahan nama, juga dilakukan Polri ditingkatan perwira tinggi. Dimana untuk perwira tinggi bintang dua, Polri mengganti mayor jendral (mayjen) menjadi inspektur jendral (irjen) dan letnan jendral (letjen) berganti menjadi komisaris jendral (komjen). Sedangkan untuk brigadir jendral (brigjen) dan jendral, Polri tetap menggunakan istilah tersebut.

Berdasarkan pergantian istilah atau penamaan kepangkatan yang dilakukan Polri, dari sinilah pertanyaan muncul. Jika kita simak pada level atau tingkatan perwira tinggi, mengapa Polri tidak melakukan pergantian nama untuk brigadir jendral ?. Jawabannya boleh jadi karena brigadir, adalah istilah kepangkatan yang ada di Polri, yakni berada pada level bintara. Sehingga, bisa saja karena merasa berhak dengan istilah tersebut, maka Polri merasa tidak perlu untuk mencari nama baru, untuk nama atau istilah brigadir jendral. Sehingga, jadilah kepangkatan brigjen dan jendral, digunakan oleh Polri dan TNI AD.

Memang, jika kita telaah, satu persatu istilah atau penamaan kepangkatan ditubuh TNI, khususnya TNI AD, kita tidak menemukan sama sekali adanya istilah kepangkatan dengan memakai nama brigadir. Pertanyaannya, mengapa sampai sekarang TNI AD masih menggunakan brigadir jendral untuk istilah jendral bintang satunya ?.

Kemudian, seperti kita ketahui sebelumnya, untuk jendral bintang dua, Polri mengganti mayor jendral, menjadi inspektur jendral. Selanjutnya untuk istilah bintang tiga, Polri menggantinya dari letnan jendral, menjadi komisaris jendral.

Penggunaan istilah yang dilakukan Polri untuk jendral bintang dua, dari mayjen menjadi irjen, serta untuk jendral bintang tiga dari istilah letjend menjadi komjend, dinilai sangat beralasan dan relevan, karena jika kita lihat dari urutan kepangkatan di Polri, memang pangkat komisaris lebih tinggi dari inspektur, sehingga sudah selayaknyalah jika komjen memiliki posisi kepangkatan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan irjen.

Hal berbeda, justru kita saksikan dalam istilah kepangkatan di TNI AD. Untuk pangkat dengan jendral bintang dua, TNI AD menggunakan istilah mayor jendral. Kemudian untuk jendral bintang tiga, TNI AD, menggunakan istilah letnan jendral.

Jika kita lihat dari urutan kepangkatan yang ada di level perwira pertama ditubuh TNI AD, jelas dinyatakan bahwa secara hierarki kepangkatan, pangkat mayor lebih tinggi dari pada pangkat letnan. Sehingga, akan menimbulkan pertanyaan, jika dalam kepangkatan di level perwira tinggi TNI AD, justru letnan jendral lebih tinggi dari mayor jendral.

Jika sekalipun jawabannya, terdapat pengecualian pada level perwira tinggi, dimana jejang kepangkatan yang lebih rendah pada level perwira pertama, justru akan menjadi lebih tinggi pada level perwira tinggi, mengapa Polri tidak menjadikan pangkat bintang dua di pundak memakai istilah komisaris (mayor) jendral dan untuk bintang tiga, menggunakan istilah inspektur (letnan) jendral. Sehingga, jika mengacu dari apa yang dilakukan Polri, jelas asumsi tersebut terbantahkan.

Tentunya, tulisan dengan judul ” melihat urutan kepangkatan TNI AD”  ini, sama sekali tidak dimaksudkan untuk melakukan gugatan atau mempermasalahkan kebijakan yang sudah diterapkan oleh institusi TNI AD sejak dahulu, namun semata-mata hanya berbentuk tulisan yang bersifat memberikan suatu telaah atas penamaan, urutan atau hierarki kepangkatan ditubuh TNI AD.Berbagai pihak tentu juga meyakini, bahwa sistem dan urutan serta penamaan kepangkatan yang diterapkan oleh TNI AD, telah melalui kajian mendalam dan memiliki makna sejarah dan berbagai makna potensial lainnya, atau bisa juga merupakan kebijakan yang mengadopsi hierarki dan penamaan kepangkatan angkatan bersenjata secara internasioanal.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 11 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 11 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 12 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: