Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Reza Doemai

menulis itu harus, membaca menjadi kewajiban dan doa oprang tua menjadi langkah menuju sukses

Mengupayakan Indonesia Bebas Konflik SARA

OPINI | 09 February 2013 | 19:47 Dibaca: 330   Komentar: 0   2

Indonesia adalah sebuah negara besar yang plural secara etnik, bahasa, dan agama. Keberagaman etnis dan geografis tersebut membuat Indonesia menjadi sebuah bangsa yang selalu dirundung potensi pertikaian dan perpecahan. Konflik berdimensi komunal merebak, konflik bercorak ‘separatis’ pasang naik, fenomena gerakan ‘fundamentalis’ keagamaan naik daun, sementara berbagai dimensi baru dalam konflik sosial-politik kian mengemuka.

Sebagai Negara yang berdaulat, tentu peran Negara dalam keberagaman tersebut menjadi begitu esensial. Terlebih ketika isu nasional begitu mudah dikomodifikasi oleh isu internasional akibat dari globalisasi dan kemajuan teknologi. Media menjadi seperti gurita dengan kaki kaki yang semakin memanjang akibat liberalisme ekonomi. Sebagai contoh adalah isu terkait dengan gambar kartun nabi Muhammad maupun pelecehan lain yang mengangkat isu agama atau kelompok etnis tertentu.

Negara dalam konsep globalisasi, meskipun batas kedaulatan menjadi samar akan tetapi terdapat suatu konvensi internasional yang saling terkait dan mengikat. Hal ini mengakibatkan penyampaian kepentingan nasional memiliki warna yang beragam dengan pilihan yang cerdas dan tepat. Begitu pula apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui figure Kepala Pemerintahaan saat turut serta menyuarakan persoalan SARA.

Dalam Debat Umum Sidang Majelis Umum ke-67 PBB di Markas PBB, seperti yang diutaran Menlu Marty Natalegawa, Indonesia mendorong pemberlakuan protokol internasional mencegah penistaan agama. Insiden film Innocence of Muslims dan pemuatan kartun nabi harus bisa dicegah. Terkait hal itu, Indonesia akan bekerjasama dengan negara lain di PBB

Dalam pidato di Debat Umum Sidang Majelis Umum ke-67 PBB di Markas PBB, Presiden SBY menyuarakan konsensus internasional untuk mencegah permusuhan berlatar agama seperti kasus Innocence of Muslims yang menggemparkan dunia.

SBY menekankan mengenai budaya universal saling toleransi dan menghargai keyakinan beragama satu sama lain. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi keragaman budaya dan agama, Indonesia menyerukan saling menghormati dan pengertian di antara orang-orang yang memiliki keyakinan berbeda-beda.

Meski Negara telah berperan lebih terkait dengan isu SARA, namun media dan masyarakat sendiri memiliki andil cukup besar. Kesadaran bersama menjadi poros yang harus kita usahakan bersama agar nilai kebhinekaan menjadi sebuah kebanggaan bersama.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membayar Zakat Fitrah di Masjid Turki, …

Gaganawati | | 27 July 2014 | 22:27

Kiat Menikmati Wisata dengan Kapal Sehari …

Tjiptadinata Effend... | | 27 July 2014 | 19:02

Indahnya Perbedaan :Keluarga Saya yang Dapat …

Thomson Cyrus | | 27 July 2014 | 19:45

Ini Rasanya Lima Jam di Bromo …

Tri Lokon | | 27 July 2014 | 21:50

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Temuan KPK: Pemerasaan Pada TKI Capai Rp 325 …

Febrialdi | 26 July 2014 22:14

KPK Lebih Dibutuhkan TKI Ketimbang TNI, …

Fera Nuraini | 26 July 2014 19:21

Taruhan Kali Ini Untuk Jokowi dan Demokrasi …

Hosea Aryo Bimo Wid... | 26 July 2014 19:19

Surat Lebaran untuk Emak …

Akhmad Mukhlis | 26 July 2014 14:40

Daftar Kompasioner yang Berkualitas …

Hendrik Riyanto | 26 July 2014 13:29

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: