Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Reza Doemai

menulis itu harus, membaca menjadi kewajiban dan doa oprang tua menjadi langkah menuju sukses

Mengupayakan Indonesia Bebas Konflik SARA

OPINI | 09 February 2013 | 19:47 Dibaca: 329   Komentar: 0   2

Indonesia adalah sebuah negara besar yang plural secara etnik, bahasa, dan agama. Keberagaman etnis dan geografis tersebut membuat Indonesia menjadi sebuah bangsa yang selalu dirundung potensi pertikaian dan perpecahan. Konflik berdimensi komunal merebak, konflik bercorak ‘separatis’ pasang naik, fenomena gerakan ‘fundamentalis’ keagamaan naik daun, sementara berbagai dimensi baru dalam konflik sosial-politik kian mengemuka.

Sebagai Negara yang berdaulat, tentu peran Negara dalam keberagaman tersebut menjadi begitu esensial. Terlebih ketika isu nasional begitu mudah dikomodifikasi oleh isu internasional akibat dari globalisasi dan kemajuan teknologi. Media menjadi seperti gurita dengan kaki kaki yang semakin memanjang akibat liberalisme ekonomi. Sebagai contoh adalah isu terkait dengan gambar kartun nabi Muhammad maupun pelecehan lain yang mengangkat isu agama atau kelompok etnis tertentu.

Negara dalam konsep globalisasi, meskipun batas kedaulatan menjadi samar akan tetapi terdapat suatu konvensi internasional yang saling terkait dan mengikat. Hal ini mengakibatkan penyampaian kepentingan nasional memiliki warna yang beragam dengan pilihan yang cerdas dan tepat. Begitu pula apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia melalui figure Kepala Pemerintahaan saat turut serta menyuarakan persoalan SARA.

Dalam Debat Umum Sidang Majelis Umum ke-67 PBB di Markas PBB, seperti yang diutaran Menlu Marty Natalegawa, Indonesia mendorong pemberlakuan protokol internasional mencegah penistaan agama. Insiden film Innocence of Muslims dan pemuatan kartun nabi harus bisa dicegah. Terkait hal itu, Indonesia akan bekerjasama dengan negara lain di PBB

Dalam pidato di Debat Umum Sidang Majelis Umum ke-67 PBB di Markas PBB, Presiden SBY menyuarakan konsensus internasional untuk mencegah permusuhan berlatar agama seperti kasus Innocence of Muslims yang menggemparkan dunia.

SBY menekankan mengenai budaya universal saling toleransi dan menghargai keyakinan beragama satu sama lain. Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi keragaman budaya dan agama, Indonesia menyerukan saling menghormati dan pengertian di antara orang-orang yang memiliki keyakinan berbeda-beda.

Meski Negara telah berperan lebih terkait dengan isu SARA, namun media dan masyarakat sendiri memiliki andil cukup besar. Kesadaran bersama menjadi poros yang harus kita usahakan bersama agar nilai kebhinekaan menjadi sebuah kebanggaan bersama.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Endah Kreco, Kartini dari Keong Sawah …

Junanto Herdiawan | | 21 April 2014 | 07:31

Mempertanyakan Kelayakan Bus Transjakarta …

Frederika Tarigan | | 21 April 2014 | 10:22

Cara Menghadapi Lansia (Jompo) Pemarah …

Mohamad Sholeh | | 21 April 2014 | 00:56

Danau Linow Masih Mempesona …

Tri Lokon | | 21 April 2014 | 07:01

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 2 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 3 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 4 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 6 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: