Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Doddy Hidayat

Ada yang panggil saya pemimpi, orang planet, ngawur dan sok pintar..dan itu betul semua :D http://www.konsultankreatif.com selengkapnya

Perang Malaysia dan Kesultanan Sulu itu Memalukan

OPINI | 08 March 2013 | 11:20 Dibaca: 11836   Komentar: 76   16

Konflik bodoh orang melayu

Konflik bodoh orang melayu

Kenapa saya sebut Perang Malaysia danKesultanan Sulu itu Memalukan? Karena dengan timbulnya konflik yang sampai saat ini sudah memakan korban di kedua belah pihak, menunjukkan rangkaian kegagalan dan kelemahan bangsa rumpun Melayu secara makro. Disaat bangsa lain seperti China, India mempersiapkan diri untuk menjadi pemain utama peradaban dunia menggantikan kegagalan modernisasi barat yang tidak cukup 100 tahun menunjukkan kehebatan suatu peradaban, bangsa rumpun Melayu justru “termakan” strategi dan provokasi intelegen murahan, yang tahu persis bahwa trend peradaban bagi rumpun Melayu seharusnya sekarang ini. Ya Melayu global revival, imperium hebat masa lampau yang gagal paham untuk mengulangi kegemilangannya sekali lagi.
Mari kita simak beberapa kegagalan yang menunjukkan Perang Malaysia dan Kesultanan Sulu itu memang Memalukan!

1. Kegagalan rumpun Melayu bersatu

Siapa itu rumpun Melayu? Kita semua yang berkulit sawo matang yang hidup sebagai warga negara Indonesia, Malaysia, sebagian Filipina, Singapura, sebagian Thailand, Brunei Darussalam, sebagian Australia Selatan, Suriname dan sebagaian Afrika Selatan. Hebat bukan? Sesungguhnya bangsa Melayu memang bangsa yang hebat. Demografi bangsa Melayu yang saya sebut hanyalah jejak historikal yang sesungguhnya menjadi suatu bukti bahwa bangsa Melayu pernah berkali – kali menjadi penguasa dunia dengan dominasi peradaban dan kebudayaan yang tinggi sejak ribuan tahun yang lalu. Perang Malaysia dan Kesultanan Sulu itu Memalukan sejarah dan merupakan kegagalan kepemimpinan bangsa – bangsa Melayu untuk memahami pentingnya kebangkitan Melayu melalui rumpun Melayu bersatu.

2. Kegagalan Peran Organisasi regional bernama ASEAN

Dibentuknya Organisasi ASEAN adalah suatu visi hebat yang mampu menangkap fenomena peradaban bahwa dunia ini akan secara alamiah terkelompok berdasarkan kesamaan latar belakang, tujuan dan masa depannya. Salah jika mengatakan jika ASEAN adalah organisasi negara – negara betetangga di Asia tenggara. Sesungguhnya hanya ada satu, yaitu nusantara atau Melayu Raya.
Melayu deli, Melayu Riau, Sabah, Sulu, jawa, Minang, Bugis adalah etnis – etnis dominan pembentuk Melayu raya. Coba anda jalan – jalan ke tempat – tempat yang saya sebutkan diatas.  Malaysia, dua generasi kemarin tidaklah lebih dari etnis – etnis jawa, minang dan bugis. Sembilan kesultanan di Malaysia harus mengakui bahwa raja – raja pendiri kerajaan di Malaysia adalah orang jawa, minang dan bugis.
Singapura, Brunei Darussalam dan sabah hanyalah bagian kecil dari kedaulatan bangsa Melayu yang sesungguhnya tidak berbeda dengan Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kepulauan Nusa, Semenanjung dan borneo atau kalimantan. Warga negara Indonesia timur seperti Bugis, mandar, makassar, Minahasa, Sangihe, maluku, halmahera dan kepulauan nusa, sesungguhnya masih bersaudara dengan warga di Filipina Selatan, termasuk etnis Moro dan kesultanan Sulu. Jadi Perang Malaysia dan Kesultanan Sulu itu jelas Memalukan dan menunjukkan kegagalan Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam dalam peranannya di organisasi ASEAN.

3. Kegagalan Politik Luar Negeri Malaysia

Perang Malaysia dan Kesultanan Sulu itu sangat Memalukan jika dilihat dari sudut politik luar negeri Malaysia. Bangsa Melayu jajahan Inggris ini sejatinya hanyalah orang kampung yang diberi kemerdekaan oleh tuannya yang bernama Inggris. Sayang jiwa kacung bangsa Melayu di malaysia tidak juga berubah, lebih silau melihat tuannya di Eropa dari pada melihat potensi persekutuan sesama bangsa etnis Melayu.
Seharusnya Malaysia tidak bangga dengan menjadi bagian dari Commonwealth. Istilah persemakmuran raya hanyalah hinaan dari bangsa Inggris kepada bangsa Melayu bahwa mereka lebih berakal dari bangsa Melayu. Kenapa begitu? Beratus tahun mereka hidup senang dan makmur diatas semua kekayaan alam yang mereka ambil dari bangsa Melayu.
Jadi Malaysia tidak perlu bangga bisa menjadikan saudaranya dari Indonesia menjadi pembantu rumah tangga mereka. Tetapi sesungguhnya Malaysia lebih setia dari pada anjing penjaga rumah karena beratus tahun masih mengaku dan bangga menjadi kacung  orang eropa. Perang Malaysia dan Kesultanan Sulu itu menjadi sangat Memalukan karena mengulangi sejarah bodoh bangsa – bangsa Arab yang mau saja di adu domba dan dipecah belah.

4. Kegagalan memahami globalisasi

Perang Malaysia dan Kesultanan Sulu itu akhirnya menjadi sangat Memalukan karena menunjukkan bahwa bangsa Melayu secara umum masih bodoh dan belum mengerti kenapa ada globalisasi. Sesungguhnya globalisasi hanyalah cara baru dengan konsep lama. Intinya tetap penjajahan. Kalau dulu memaksa dengan senjata, sekarang cukup dengan teknologi informasi.
Banyak contoh kegagalan bangsa Melayu menjadi pintar. Bayangkan kita yang punya coklat, kopi, rempah, ikan, hasil tambang tetapi London dan Newyork yang menentukan harga komoditi dunia, bodoh bukan?
Orang Melayu sudah pintar buat teknologi tinggi seperti IT, pesawat terbang, apalagi peralatan rumah tangga. Tetapi apa daya, karena mental Melayu yang bodoh dan terbelakang, maka potensi pasar sendiri yang jumlahnya ¼ captive market dunia ini, diserahkan dengan bebasnya kepada bangsa – bangsa kecil di Eropa dan kapitalis Amerika hanya karena merek, branding dan packaging alias gengsi – gengsian. Kenapa tidak buat sendiri, pasarkan sendiri dan untung sendiri?
Saking bodohnya memahami globalisasi, Black berry saja lenggang kangkung buat pabrik di Kualalumpur karena makin dekat dengan sasaran captive market terbesarnya, yaitu bangsa Melayu yang bodoh dan gengsian alias kita – kita ini, elo, gue, puan, tuan semuanya.
Walaupun sudah banyak profesor, sudah banyak jenderal, sudah banyak pengusaha, sudah banyak kaum intelektual, tetapi hakekatnya bangsa Melayu masih bodoh dan menjadi lebih bodoh dalam arus globalisasi ini. Perang Malaysia dan Kesultanan Sulu itu Memalukan bukan saja memalukan orang Malaysia dan etnis Sulu, tetapi memalukan kita semua, orang Jawa, orang sumatera, orang Brunei, orang kedah, orang sungai pattani, orang Minahasa dan seluruh manusia hidup yang berketurunan bangsa besar dahulu yang bernama nusantara atau melayu raya.
Konsultan Kreatif
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 7 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 7 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 11 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 14 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 7 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 9 jam lalu

V2 a.k.a Voynich Virus (part 19) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Meninjau Konsistensi kehalalan Produk …

Donny Achmadi | 9 jam lalu

Gojlokan Dian Kelana, Membuatku Kecanduan …

Seneng Utami | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: