Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Premanisme

OPINI | 10 March 2013 | 02:28 Dibaca: 581   Komentar: 17   5

Apakah itu individu, kelompok, ormas, ataupun parpol. Apakah itu kelompok A atau B sampai dengan Z, yang bersifat mengganggu ketertiban masyarakat secara umum, luas dan berkala, sudah pasti merusak dan merugikan. Jenis ini disebut “Premanisme”, apapun alasannya. Jika kelompok-kelompok sipil tersebut berkelakuan melanggar hak-hak asasi manusia/bermasyarakat, dalam arti seluas-luasnya, mengurangi atau melarang hak masyarakat untuk bersosialisasi dalam arti positif, beribadah menurut agama dan kepercayaannya, ini juga di sebut “Premanisme”. Dan atau sekelompok orang, atau individu, memakai algojo sewaan, atau tukang pukul sewaan atau ajudan sewaan atau pengawal sewaan, untuk menakut-nakuti masyarakat atau lagi-lagi menggangu, ketertiban, lingkungan, kecil atau besar atau luas, ini juga jenis “Premanisme”.

“Premanisme”, bisa berwajah teror atau sparatis. Terorisme dan sparatisme, saudara kandung “Premanisme”, dengan kekuatan yang lebih besar dan  lengkap, memiliki atau memakai senjata ringan, sedang sampai berat. Kelompok-kelompok teror dan sparatis ini hidupnya seperti benalu atau bunglon, namun kelompok sparatisme atau terorisme muncul, akibat adanya fanatisme, atau dogma atau kultus, yang dibentuk oleh individu, organisasi, lembaga formal atau non formal, ada yang menyediakan dana operasi gerakan tersebut dengan tujuan, umumnya, gerakan makar, perebutan kekuasaan dan kepentingan politik, yang membentuk mereka bisa swasta bisa negara, tergantung sistem dan ideologi yang dianut oleh sebuah negara. Jika gerakan sparatis atau terorisme itu dibentuk oleh negara, untuk suatu tujuan tertentu, pada umumnya memakai sistem jejaring laba-laba intelejen, untuk berbagai kepentingan, penyusupan, mata-mata dan atau sistem intelejen terpadu, rigid, akurat, ahli, dan sakral (misi rahasia), perang bintang, satelit.

Rakyat sebetulnya punya “Power to the People”, ingat lagu semangat dari John Lennon?. Seharusnya rakyat tak perlu gentar atau takut dengan makhluk yang bernama “Premanisme”. Tentu jika aparat negara juga turut bekerjasama dengan rakyat. Jika kekuatan rakyat terbentuk untuk melawan “Premanisme”,  namun tidak didukung oleh negara, aparaturnya dan perangkatnya, ini akan memicu perang semesta atau perang saudara, seperti yang terjadi di negara Suriah, sebagai contoh. Oleh karena itu, seperti yang tertulis di UUD ’45, bahwa negara berkewajiban memberi kenyamanan dan perlindungan kepada rakyat, menjamin untuk berpolitik, beragama dan berorganisasi, di seluruh Nusantara. Dengan aturan dan ketentuan yang diatur oleh undang-undang dan pasal-pasalnya.

Jadi, itu artinya, sangat tidak boleh ada yang kebal hukum, atau semisal, jika ada orang-perorang, atau ormas atau parpol, yang melarang agama formal membangun rumah ibadah dilingkungannya, dalam kasus seperti ini, negara berkewajiban ikut bertanggung jawab, karena hal itu juga bentuk “Premanisme”. Ormasnya atau parpolnya dapat lansung dibubarkan, sesuai dengan mekanisme undang-undang yang ada. Jika negara melakukan pembiaran terus menerus, terhadap kasus-kasus seperti itu, artinya negara tidak mengindahkan dan melindungi rakyatnya dengan adil, makmur dan konsekuen. Artinya, rakyat dapat menggunakan haknya, untuk mengoreksi atau mengganti para aparatur negara tersebut. Tentu dengan mekanisme dan sistem yang berlaku ditata-kelola negara dan hukum positif. Bukankah demikian yang disebut “Demos-Kratos” atawa Demokrasi?

Kunci sukses demokrasi dalam suatu negara: Rakyat bersatu.

Premanisme? Lawan.

Jakarta, Indonesia, 3/10/13/Tasch.

Data terkait : http://www.kontras.org/index.php

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 10 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 11 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 13 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 14 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Kompasianer dan Tantangannya (ke Depan) …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Dimanakah Guru Tanpa Tanda Jasa Itu Kini? …

Trisni Atmawati | 8 jam lalu

Menulislah dengan Ketulusan …

Banyumas Maya | 8 jam lalu

Wow, Ternyata Salah Konstitusi!!! …

Azis Nizar | 8 jam lalu

Politik Vs Media, yang Menang …

Eka Putra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: