Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Tasch Taufan

scenic artist, writers, visual artist

Premanisme

OPINI | 10 March 2013 | 02:28 Dibaca: 540   Komentar: 17   5

Apakah itu individu, kelompok, ormas, ataupun parpol. Apakah itu kelompok A atau B sampai dengan Z, yang bersifat mengganggu ketertiban masyarakat secara umum, luas dan berkala, sudah pasti merusak dan merugikan. Jenis ini disebut “Premanisme”, apapun alasannya. Jika kelompok-kelompok sipil tersebut berkelakuan melanggar hak-hak asasi manusia/bermasyarakat, dalam arti seluas-luasnya, mengurangi atau melarang hak masyarakat untuk bersosialisasi dalam arti positif, beribadah menurut agama dan kepercayaannya, ini juga di sebut “Premanisme”. Dan atau sekelompok orang, atau individu, memakai algojo sewaan, atau tukang pukul sewaan atau ajudan sewaan atau pengawal sewaan, untuk menakut-nakuti masyarakat atau lagi-lagi menggangu, ketertiban, lingkungan, kecil atau besar atau luas, ini juga jenis “Premanisme”.

“Premanisme”, bisa berwajah teror atau sparatis. Terorisme dan sparatisme, saudara kandung “Premanisme”, dengan kekuatan yang lebih besar dan  lengkap, memiliki atau memakai senjata ringan, sedang sampai berat. Kelompok-kelompok teror dan sparatis ini hidupnya seperti benalu atau bunglon, namun kelompok sparatisme atau terorisme muncul, akibat adanya fanatisme, atau dogma atau kultus, yang dibentuk oleh individu, organisasi, lembaga formal atau non formal, ada yang menyediakan dana operasi gerakan tersebut dengan tujuan, umumnya, gerakan makar, perebutan kekuasaan dan kepentingan politik, yang membentuk mereka bisa swasta bisa negara, tergantung sistem dan ideologi yang dianut oleh sebuah negara. Jika gerakan sparatis atau terorisme itu dibentuk oleh negara, untuk suatu tujuan tertentu, pada umumnya memakai sistem jejaring laba-laba intelejen, untuk berbagai kepentingan, penyusupan, mata-mata dan atau sistem intelejen terpadu, rigid, akurat, ahli, dan sakral (misi rahasia), perang bintang, satelit.

Rakyat sebetulnya punya “Power to the People”, ingat lagu semangat dari John Lennon?. Seharusnya rakyat tak perlu gentar atau takut dengan makhluk yang bernama “Premanisme”. Tentu jika aparat negara juga turut bekerjasama dengan rakyat. Jika kekuatan rakyat terbentuk untuk melawan “Premanisme”,  namun tidak didukung oleh negara, aparaturnya dan perangkatnya, ini akan memicu perang semesta atau perang saudara, seperti yang terjadi di negara Suriah, sebagai contoh. Oleh karena itu, seperti yang tertulis di UUD ’45, bahwa negara berkewajiban memberi kenyamanan dan perlindungan kepada rakyat, menjamin untuk berpolitik, beragama dan berorganisasi, di seluruh Nusantara. Dengan aturan dan ketentuan yang diatur oleh undang-undang dan pasal-pasalnya.

Jadi, itu artinya, sangat tidak boleh ada yang kebal hukum, atau semisal, jika ada orang-perorang, atau ormas atau parpol, yang melarang agama formal membangun rumah ibadah dilingkungannya, dalam kasus seperti ini, negara berkewajiban ikut bertanggung jawab, karena hal itu juga bentuk “Premanisme”. Ormasnya atau parpolnya dapat lansung dibubarkan, sesuai dengan mekanisme undang-undang yang ada. Jika negara melakukan pembiaran terus menerus, terhadap kasus-kasus seperti itu, artinya negara tidak mengindahkan dan melindungi rakyatnya dengan adil, makmur dan konsekuen. Artinya, rakyat dapat menggunakan haknya, untuk mengoreksi atau mengganti para aparatur negara tersebut. Tentu dengan mekanisme dan sistem yang berlaku ditata-kelola negara dan hukum positif. Bukankah demikian yang disebut “Demos-Kratos” atawa Demokrasi?

Kunci sukses demokrasi dalam suatu negara: Rakyat bersatu.

Premanisme? Lawan.

Jakarta, Indonesia, 3/10/13/Tasch.

Data terkait : http://www.kontras.org/index.php

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Akun Dinda Tidak Takut Komen Pedasnya Pada …

Febrialdi | 5 jam lalu

Prabowo Terancam Tidak Bisa Bertarung di …

Rullysyah | 6 jam lalu

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 15 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 15 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: