Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Fajarbaru

menulis untuk melawan proses amnesia sejarah

Tragedi Lapas Sleman, Tragedi Paling Memalukan Supremasi Hukum Indonesia

OPINI | 28 March 2013 | 14:30 Dibaca: 2379   Komentar: 11   4

13644305841893762398

Membaca opini di berbagai media terkait Tragedi Lapas Cebongan yang membeberkan latar belakang dari keempat korban pembantaian sadis di Lapas Sleman bisa saja kemudian mengaburkan publik akan persoalan utama yang harus diusut tuntas oleh Polri yakni: Lapas Diserang! Lapas yang menjadi simbol kedaulatan negara sebagai negara hukum telah digoyang! Jika Lapas saja bisa diserang, apalagi yang tersisa dari kebangaan rakyat Indonesia terhadap kedaulatan hukum di negeri ini?

Siapapun itu, apapun motifnya tidak bisa seenaknya merangsek masuk ke Penjara dan membunuh tahanan. Masyarakat pun tidak perlu memuji tindakan ke-17 oknum bersenjata ini sebagai Super Hero yang pantas diapresiasi. Jika masyarakat mengapresiasi tindakan ini, maka bubarkan saja NKRI karena masyarakat Indonesia tidak lagi menghargai kedaulatan hukum di negeri ini. Biarkan saja Indonesia hidup seperti pada zaman batu saja, tanpa hukum, tanpa penegak hukum, siapa pun boleh membunuh sesamanya, di mana yang kuatlah yang bertahan tanpa perlu lagi melalui mekanisme hukum.

Tindakan ketujuh belas malaikat maut seolah mau menertawakan hukum di negeri ini. Mereka terbahak-bahak di luar sana sambil berakata dalam hati: “penjara di negeri ini ternyata mudah dibobol!” Karena itu, mereka akan terus bermain menjadi hakim sekaligus malaikat maut dengan tidak lagi mengindahkan proses hukum yang berlaku.

Karena itu, Tragedi Lapas Cebongan tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan menegakkan keadilan semau gue, tetapi tindakan terang-terangan untuk merong-rong kedaulatan hukum negeri ini. Inilah yang harus menjadi daya dorong yang memotivasi para penegak hukum yang terkait untuk bekerja keras menuntaskan penyingkapan “tabir” yang menutupi para malaikat maut tersebut.

Jika dirasa perlu dan mendesak, maka Presiden bisa membentuk team independen untuk mengusut tuntas kasus ini. Polri juga tidak perlu merasa takut untuk bekerja sama dengan pihak lain, jika kesulitan untuk mengungkap kasus ini oleh karena minimnya alat bukti/jejak yang ditinggalkan pelaku.

Intinya, kasus ini jangan sampai dianggap sebelah mata, karena fokus utama kasus ini adalah mengungkap secara tuntas para pelaku yang telah melakukan tindakan terbuka melawan negara, hukum, dan merong-rong kedaulatan NKRI oleh anaknya, warga negaranya sendiri!

Terkait:

Tragedi Hukum Paling Memalukan

Petrus Zaman Orba Vs Petrus Zaman Reformasi

Gunung Es Tragedi Lapas Sleman

Tragedi Lapas Sleman Masalah Nasional?

Tragedi Lapas Sleman dan Opini Publik

Tragedi Lapas Sleman, Sebuah Pesan

Terima kasih bagi teman-teman yang telah dan mau berpartisipasi memberikan opini dari berbagai sudut pandang dan pertimbangan melalui kolom komentar ini. Semua komentar akan saya baca, cerna, dan tanggapi dalam artikel lainnya..

“berbeda pendapat itu diberi ruang dan dihargai, asal tetap mengutamakan dialog yang mengedepankan akal sehat dan sopan santun”
salam damai selalu

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 5 jam lalu

Pemerintahan Jokowi-JK Terancam …

Pan Bhiandra | 7 jam lalu

Demi Demokrasi, Koalisi Jokowi Harus Dukung …

Aqila Muhammad | 7 jam lalu

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 14 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

“Happy” Andien Fashionable di La Fayette …

Irvan Sjafari | 10 jam lalu

Perpustakaan adalah Surga …

A Fahrizal Aziz | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 10 jam lalu

Memandangmu, Tanpa Kata …

Ryan. S.. | 10 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: