Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Prayitno Ramelan

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, selengkapnya

Kasad Bentuk Tim Investigasi Kasus Cebongan

OPINI | 31 March 2013 | 01:42 Dibaca: 575   Komentar: 0   2

1364643539511816486

Dalam konperensi pers di Mabes TNI AD Jakarta, Jumat (29/3), Kasad Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menyatakan TNI Angkatan Darat membentuk tim investigasi terkait penyerangan Lapas Cebongan, Sleman, DIY, yang terdiri dari sembilan orang yang dipimpin oleh Wakil Komandan Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI AD Brigjen TNI Unggul Yudhoyono. Pembentukan tersebut di dasarkan atas perintah Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono karena ada indikasi anggotanya terlibat.

“Setelah polisi melakukan investigasi, kemudian mereka berkomunikasi dengan Panglima TNI. Panglima TNI memerintahkan saya untuk membentuk tim investigasi dan kemarin baru kita buat. Pertanyaan mengapa? Karena ada indikasi keterlibatan oknum-oknum TNI yang berdinas di Jawa Tengah,” katanya. Tim tersebut tetap berkoordinasi dengan pihak kepolisian. “Sangat jelas kita berangkat dengan komunikasi dan koordinasi. Menyempurnakan hasilnya bersama-sama agar tidak miss komunikasi” katanya. Kasad menegaskan, “Siapa yang bersalah saya hukum, siapa yang benar saya bela” prinsip itu pegangan TNI AD, negara ini adalah negara hukum, semua harus mengikuti aturan yang berlaku. Jenderal Pramono berharap dengan dibentuknya tim ini dapat menuntaskan apa yang selama ini menjadi sorotan dan tanda tanya publik.

Dalam pernyataan sebelumnya,  Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (25/3) membantah ada anggota TNI yang  terlibat dalam penyerangan Lapas Cebongan, Sleman. Namun Agus berjanji akan menurunkan tim khusus dari TNI jika ada anak buahnya yang terlibat dalam kasus itu. Berdasarkan hasil kordinasi dengan pihak kepolisian, terindikasi ada anggota TNI di Jawa Tengah yang terlibat dalam kasus Cebongan tersebut.

Menanggapi kesalahan informasi yang disampaikan oleh Pangdam IV/Diponegoro dilakukan sesaat setelah kejadian itu, Pramono memaklumi hal tersebut. Alasannya, informasi yang disampaikan sesaat setelah kejadian. ”Pangdam menyampaikan itu sesaat setelah kejadian dan saat itu informasi belum lengkap,” katanya. Tak hanya itu, kata dia, yang disampaikan Pangdam semata-mata hanya ingin memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat di Jateng. ”Beliau hanya ingin memberikan jaminan keamana kepada masyarakat agar jangan panik karena masalah ini (penyerangan LP Cebongan, Sleman),” kata Kasad.

Menanggapi indikasi yang disampaikan pihak Polri kepada Panglima TNI, Kasad menyatakan, ”Karena ini ada indikasi awal, ini yang jadi pegangan. Tidak akan saya sebutkan apa bunyinya, akan saya dalami, karena temuan itu dari pihak lain. Percayalah saya ingin menyelesaikan dengan setuntas-tuntasnya,” katanya. Dia meminta seluruh pihak mengawasi kasus yang menjadi sorotan masyarakat itu.

“Karena kami sudah bentuk tim investigasi, percayakan kepada kami, awasi kami, kalau butuh informasi komunikasilah kepada kami,” tegasnya. Dia menjelaskan, sembilan personel diterjunkan dalam tim investigasi tersebut, salah satunya dari jajaran Kopassus. ”Tim terdiri dari orang-orang yang memungkinkan melancarkan kegiatan investigasi. Ada POM (Polisi Militer), Kodam, Korem. Itu integrasi yang kita lakukan,” imbuhnya.

Nah, nampaknya pihak Polri mulai menemukan indikasi adanya oknum TNI yang terlibat dan masalah serius ini kini di selidiki lebih dalam oleh dua tim investigasi, Polri dan TNI AD. Penulis yakin tidak lama lagi kasus akan terkuak, karena barrier birokrasi di militer sulit diintervensi kalangan sipil. Seperti yang pernah dicoba oleh Komnas HAM yang mencoba masuk ke kesatrian Kopassus Kandang Menjangan Kertosuro. Sebaiknya memang dalam kasus pelanggaran hukum yang terlibat dengan pembunuhan, penanggung jawab pengusutan adalah pihak Polri. Setelah Polri dalam pengembangan penyelidikan mendapatkan informasi adanya oknum TNI yang terlibat, kini TNI AD dengan serius menurunkan tim investigasi.

Dari hasil investigasi Tim Labfor Mabes Polri, ditemukan selongsong peluru kaliber 7,62 mm di Lapas Sleman usai terjadi penyerangan kelompok bersenjata. Dari informasi tersebut, Kasad tidak  menampik bila peluru tersebut masih digunakan. “Masalah amunisi 7,62 jujur masih tetap kita gunakan, senjata juga kita gunakan,” kata Pramono dalam jumpa pers di Markas AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Jumat (29/3/2013).  Peluru kaliber 7,62 mm digunakan untuk keperluan-keperluan tertentu. Dia mencontohkan senjata regu penembak jitu. “Karena lebih akurat,” katanya. Senjata dengan amunisi tersebut juga digunakan di beberapa satuan Angkatan Darat (AD), khususnya untuk Bantuan Tempur (Banpur) dan satuan kewilayahan. Kasad menjelaskan, ”Ada senjata G3, AK 47 itu pakai 7,62. SP itu juga 7,62,” katanya.

Nampaknya indikasi awal kordinasi antara Polri-Mabes TNI berawal dari penemuan selongsong serta anak peluru 7,62 mm tersebut. Dari sinilah tim investigasi  TNI AD akan berangkat, disamping kasus keributan sebelumnya yang melibatkan Sertu Santoso dengan keemppat korban yang tewas ditembak.

Proses serta prosedur ini yang menurut penulis paling tepat, karena tanpa dasar yang kuat, tidak mungkin TNI membentuk tim investigasi. TNI menurut UU adalah institusi yang bertanggung jawab terhadap pertahanan negara, apabila kemudian dalam sebuah kasus terindikasi adanya oknum TNI yang terlibat pelanggaran hukum berat, maka proses yang kini dilakukan sangat tepat.

Penulis mengenal Jenderal Pramono Edhie sejak kecil, sebagai putra Letjen Sarwo Edhie (Alm), penulis meyakini TNI AD dibawah kepemimpinannya akan membuka kasus secara jujur dan terbuka apabila nanti terbukti ada oknum TNI AD yang terlibat. Berita di media massa saat ini jelas sangat merugikan baik nama ataupun citra Kopassus, yang dituduh berbagai pihak terlibat dalam kasus pembantaian di Lapas Cebongan.

Di era demokrasi kebebasan masa kini, dalam setiap kasus, keterbukaan menjadi suatu hal yang sulit ditutupi. Kasad faham bahwa gerakan tim investigasi bentukannya  akan terus diawasi dan dimonitor baik oleh Komnas HAM, Kontras, media serta penggiat kemanusiaan lainnya. Mari kita tunggu hasilnya, dan tidak perlu terlalu vulgar dan kasar dalam menanggapi pemberitaan dan ulasan, terlebih apabila masih dalam koridor independen. Yang penting kita waspada terhadap setiap pemberitaan yang sumbernya tidak jelas dan kurang dapat dipertanggung jawabkan.

Oleh : Preyitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net

Ilustrasi gambar : nasional.kompas.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Taufik Mihardja dalam Sepenggal Kenangan …

Pepih Nugraha | | 27 August 2014 | 22:34

Ini yang Harus Dilakukan Kalau BBM Naik …

Pical Gadi | | 27 August 2014 | 14:55

Cinta dalam Kereta (Love in The Train) …

Y.airy | | 26 August 2014 | 20:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Hilangnya Acara Budaya Lokal di Televisi …

Sahroha Lumbanraja | 2 jam lalu

Lamborghini Anggota Dewan Ternyata Bodong …

Ifani | 3 jam lalu

Cara Mudah Latih Diri Agar Selalu Berpikiran …

Tjiptadinata Effend... | 4 jam lalu

3 Kebebasan di K yang Buat Saya Awet Muda …

Hendrik Riyanto | 5 jam lalu

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: