Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

A Z

Bukan siapa-siapa

Kopassus Tetaplah Kopassus

OPINI | 05 April 2013 | 22:32 Dibaca: 1143   Komentar: 0   0

1365150606537417686

Foto: Rumgapres

Sabtu 28 Maret 1981 sekitar pukul 22.00 WIB Marskal Muda Teddy Rusdi dari Angkatan Udara, Jenderal Benny Moerdani dan Laksamana Sudomo dipanggil Presiden Soeharto di Cendana. ”Laksanakan opsi militer,” kata Soeharto setelah beberapa saat mereka bicara serius. Mereka yang datang pun langsung menyatakan siap untuk melaksanakan.

Pertemuan itu tidak lepas dari kejadian pagi sebelumnya. Pesawat Garuda Indonesia GA 206 tujuan Medan tinggal landas dari Bandara Talangbetutu, Palembang. Kapten Pilot Herman Rante, menerbangkan DC 9 Woyla berisi 48 penumpang itu dibajak.

Pembajak meminta pesawat terbang ke Kolombo, Sri Lanka. Permintaan tersebut tidak mungkin dipenuhi, sebab bahan bakar terbatas. Pesawat akhirnya mendarat di Bandara Don Muang, Thailand.

Wakil Panglima ABRI Laksamana Sudomo yang menerima kabar itu langsung memberitahu Kepala Pusat Intelijen Strategis Benny Moerdani. Tanpa pikir panjang, jenderal berwajah dingin itu langsung menghubungi Asisten Operasi Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) Letkol Sintong Panjaitan.

Keputusan untuk menggunakan militer bukan tanpa tekanan. Minggu Benny ditelepon Dubes Amerika Serikat Edward Masters mengkhawatirkan akan keselamatan warganya yang berada di GA 206 apabila opsi militer dilakukan. I am sorry sir, but this is entirely an Indonesian problem. It is an Indonesian aircraft,” jawab Benny. Indonesia berhak melakukan tindakan tanpa harus izin negara lain.

Namun kekhawatiran itu dijawab. Setelah latihan dua hari pembebasan oleh baret merah itupun sukses. Melalui sebuah operasi kilat, hanya dalam hitungan menit, pembajak berhasil dilumpuhkan. Operasi itupun langsung melambungkan nama Baret Merah sejajar dengan pasukan elite dunia.

Dengan peristiwa itu Indonesia menjadi tiga negara pertama di dunia yang mampu membebaskan warga negara dan pesawatnya yang dibajak di luar negeri. Sebelumnya pada 1976 operasi passus Sayeret Matkal Israel membebaskan pembajakan Entebbe Uganda. Sementara pasukan khusus GSG 9 Jerman sukses membebaskan pesawat yang dibajak di Somalia pada 1977 baru setelah itu Indonesia. Dan semua itu tidak lepas dari kecemerlangan Kopassanda yang akhirnya berganti nama dengan Komando Pasukan Khusus (Koppassus)

Sejarah kemudian membuktikan pasukan elite ini mengukir prestasi dalam berbagai operasi penting. Penumpasan DI/TII, operasi militer PRRI/Permesta, Operasi Trikora, Operasi Dwikora, Pepera di Irian Barat, Operasi Seroja di Timor Timur dan sebagainya adalah ajang pembuktian pasukan yang bersemboyan Lebih Baik Pulang Nama daripada Gagal di Medan Tugas tersebut.

Saat peristiwa pemberontakan PKI 1966, pasukan elite yang waktu itu masih bernama RPAK di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edi Wibowo yang berhasil mengambil alih sejumlah fasilitas penting seperti RRI. Pasukan ini pula yang menguasai Lubang Buaya dan berhasil menemukan sumur tua tempat para jenderal yang diculik PKI dikuburkan.

Pasukan loreng darah mengalir ini juga cukup disegani di kancah internasional. Bahkan dalam pertemuan Pasukan Elite Asia Pasifik Desember 2006, Kopassus berhasil mengalahkan pasukan elite SAS Australia dalam hal tembak jitu jarak jauh (sniper). Kopassus juga menempati urutan dua (dari 35) dalam hal keberhasilan dan kesuksesan operasi militer (intelijen - pergerakan - penyusupan - penindakan) pada pertemuan Elite Forces in Tactical, Deployment and Assault di Wina Austria. Kopassus hanya kalah dengan pasukan Delta Force USA.

Bahkan, negara-negara Afrika Utara hingga Barat pasukan elitenya dilatih Kopassus. Demikian juga dengan pasukan pengamanan Presiden Kamboja juga dididik oleh Baret Merah. Di sisi non perang, personel Kopassus bersama sejumlah kelompok pecinta alam pada 1990-an menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang menjejaki puncak Gunung Everest, puncak tertinggi di dunia.

Pada 2011 lalu, Kopassus bersama pasukan elite lain seperti Marinir dan Kostrad juga melakukan operasi cepat jarak jauh membebaskan Kapal MV Sinar Kudus yang dibajak perompak Somalia.

Discovery Channel Military edisi 2008 menyiarkan pasukan elite terbaik dunia. Para ahli dan analis militer dari seluruh dunia diundang untuk memberikan penilaiannya dan terpilihlah lima pasukan elite terbaik tersebut. Mereka adalah Special Air Service (SAS) dari Inggris, Mossad (Israel), Kopassus (Indonesia), Spetnaz (Rusia) dan GIGN (Prancis)

Jadi sesungguhnya, Kopassus adalah aset dan kekuatan penting yang dimiliki Indonesia. Banyak prestasi yang begitu membanggakan. Sayang, kasus penyerbuan Lapas Cebongan menjadi sebuah coreng di baju doreng mereka. Tetapi Kopassus tetaplah Kopassus. Pasukan khusus kebanggaan negeri ini.

*) Tulisan saya ini juga dimuat di Harian Jogja edisi Jumat 5 April 2013 dengan perubahan judul.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 7 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 8 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 9 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 11 jam lalu

Pengalaman Bekerja di Luar Negeri …

Moch Soim | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: