Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Dwi Okta Nugraha

Mantan anggota pasukan khusus SAA (Special Assault Armor) Angkatan Darat Republik Regium "The Jackal" dengan selengkapnya

Ujian bagi Pasukan Baret Merah

REP | 11 April 2013 | 10:01 Dibaca: 1971   Komentar: 18   2

1365649197820041935

red-beret.forumotion.com

Baru baru ini di Facebook telah muncul sebuah aksi 1 juta dukungan bua Kopassus terkait kasus penyerangan LP Cebongan Maret lalu, banyak pro kontra terjadi antara yang mendukung tindakan pasukan ini demi memberikan shock terapi bagi para pelaku premanisme dan memberikan rasa aman bagi masyarakat serta yang menyesalkan tindakan Baret merah yang tidak mengindahkan sisi kemanusiaan dan hukum. Kasus Cebongan terus bergulir tanpa akhir yang pasti, meski tim penyedik gabungan dari TNI AD sudah memberikan pernyataan siapa pelaku dan motif pembunuhan, namun seperti tak bisa di bendung kasus ini mulai memasuki ranah politik dan yang lebih tinggi lagi tercium aroma Konspirasi.

Dari semula kasus pembunuhan seorang anggota Kopassus/Kodim dengan latar belakang premanisme, berlanjut ke masalah kartel narkoba dan kini berkembang ke ranah politik. Ada yang beranggapan terjadi sebuah usaha konspiratif untuk melemahkan Militer terutama pasukan Baret Merah demi tujuan tertentu, ada juga kejadian ini dimanfaatkan oleh TNI untuk memperbaiki dan memperkuat citra TNI etelah kasus penyerangan Mapolres OKU sebagai Ksatria, pelindung rakyat dan penjaga keutuhan NKRI. Mana yang benar belum bisa dibuktikan, bola terus begerak mengikuti siapa saja yang berbeut untuk menyepaknya. Adanya unsur tindakan ketidakdisiplinan berat oknum anggota Kopassus juga perlu diselidiki lebih mendalam. Kejadian ini perlu segera ditangani sebagai bahan evaluasi internal kopasus,

Apapun yang terjadi dan yang dilakukan oleh Kopassus, rasa bangga ane terhadap pasukan elit ini tak akan pudar. Predikat yang disandang kopasus sebagi pasukan elit ketiga di dunia versi Discovery Channel (lupa kapan tahunnya) membuktikan bagaimana ketangguhan Kopasus yang diakui oleh banyak negara di dunia. Awalnya ane sedikit percaya dengan tulisan yang dibuat oleh akun Idjon Janbi bahwa kopasus bukanlah pelaku nya melainkan oknum korps Bhayangkara, dimana tulisan ini menjelaskan kronologis yang lengkap, adanya surat bon tahanan dari Kepolisian, serta pasukan penyerah mengetahui seluk beluk LP.

Secara teknis, agak sulit menerima fakta bahwa pasukan se elit Kopasus melakuan penyerbuan ke LP Cebongan secara terbuka dan meninggalkan banyak saksi serta jejak sehingga mudah di espos media. Dalam sepak terjang nya selama ini, Kopasus selalu melaksanakan misi dalam keadaan sunyi, jauh dari pemberitaan sehingga secara tak langsung menjaga kerahasiaan pasukan ini dari pihak2 yang berkepentingan. Kopasus adalah kesatuan elit yang dilatih dan diperlengkapi sehingga memiliki keahlian sebagai mesin pembunuh yang mampu melakukan penetrasi dan melakukan serangan awal mematikan dan sulit dicegah oleh lawan. hal ini membuat Pasukan Elit menjadi salah satu unsur pertahanan negara yang sangat diperhitungkan oleh negara-negara lain. Hampir Tak ada toleransi untuk kesalahan yang dilakukan anggota secuil apapun, semua pasukan khusus atau elit di tuntut untuk tidak pernah gagal selama menjalankan misi.

Kini masih banyak hal yang perlu di ungkap secara transparan ke publik, kasus penyerangan ke LP cebongan disinyalir bukanlah semata-mata karena unsur balas dendam dalam kasus terbunuhnya Serka Heru Santoso oleh ke 4 Korban. Kredibilitas dan citra Kopasus harus terpelihara sebagai kesatuan elit yang di banggakan bangsa dan negara. Jangan sampe ada pihak yang memanfaatkan Kopassus, ntah demi pengalihan isu karena kasus penyerbuan LP cebongan langsung menenggelamkan kasus besar lain atau memang ada usaha menyudutkan TNI khususnya Kopassus. So, Segera lakukan pembenahan dan waspada terhadap upaya negatif apapun. Semakin cepat selese tugas2 Komnas HAM juga bisa segera ‘diringankan’ .

Berharap tak ada campur tangan agen2 Mossad di Indonesia :-D .

Bravo Kopassus ! BERANI BENAR BERHASIL

by Kasamago

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Kasus PR Habibi, ketika Guru Salah Konsep …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Abraham Lunggana, Ahok, Messi, dan Pepe …

Susy Haryawan | 13 jam lalu

Tentang 6 x 4 …

Septin Puji Astuti | 14 jam lalu

Jokowi dan Kutukan Politik …

Angin Dirantai | 15 jam lalu

PPP dan Kudeta Marwah …

Malaka Ramadhan | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 8 jam lalu

(H-16) Jelang Piala Asia U-19 : Uzbekistan …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Pingin Body Kayak Artis …

Ifani | 8 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Diari Santri: #7 Tamu Misterius …

Syrosmien | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: