Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Hendra Budiman

Setiap tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru

Denjaka Juga Pasukan Antiteror

HL | 05 May 2013 | 20:16 Dibaca: 10521   Komentar: 32   4

13677644021181008646

Ilustrasi/Admin (Kompas.com)

Ingatkah kita dengan Suud Rusli? Mantan kopral dua marinir yang pernah membuat heboh pemberitaan tahun 2003. Sekedar mengingat kembali. Pada 19 Juli 2003, Suud Rusli dan mantan letnan dua Marinir Syam Ahmad terlibat dalam pembunuhan Dirut PT Asaba Boedyharto Angsono dan pengawalnya Sertu (Kopassus) Edi Siyep. Seberapa hebatkah, Suud Rusli dan Syam Ahmad hingga mampu menembak mati anggota pasukan khusus (Kopassus). Bukan seperti kasus di Hugo Cafee, Yogya, dimana anggota Kopassus dikeroyok oleh banyak preman. Kopasus Edi ditembak dalam posisi berhadapan dengan Suud Rusli, yang keduanya siap memegang senjata. Man to man.

Suud Rusli melarikan diri dan kemudian tertangkap pada tanggal 31 Mei 2005 di Malang. Pelarian Suud ini untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya dia ditangkap dan berhasil meloloskan diri dari Tahanan Polisi Militer (POM) Pangkalan Utama TNI AL (Lamtanal) II Gunung Sahari. Saat ditangkap di Malang, dia sempat dihadiahi tembakan oleh petugas yang memburunya, karena berusaha meloloskan diri. Pemburu menembak Suud. Dua peluru bersarang di kaki sebelah kanan dan satu peluru lainnya di kaki kiri. Polisi Militer AL tidak ingin Suud kecolongan lagi. Dalam posisi kaki terluka terkena tembakan, tangan dan kakinya diborgol dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Militer Cimanggis. Namun, lagil-lagi, Suud berhasil melarikan diri. Suud berhasil melepaskan ikatan rantai kedua kakinya, lantas menggergaji jeruji besi di kamar tahanannya. Selanjutnya, melompat pagar rumah tahanan tersebut untuk melarikan diri. Padahal saat penangkapan di Malang, jajaran TNI AL mengerahkan hampir satu peleton tim gabungan. Pelarian Suud berakhir, setelah dia digrebek di satu gubuk tengah sawah di Subang. Tidak kurang dari tiga puluh aparat - gabungan dari TNI AL-AD dan Polda Metro Jaya. Saat turun dari mobil, leher, tangan, dan kaki Suud diikat menggunakan tali tambang dan hanya mengenakan celana dalam. Dia dimasukan ke sel khusus. Merasa belum cukup, kaki Suud juga diikat tali yang disambungkan ke pintu sel.

Seorang komandan penyergab Suud mengatakan bahwa mereka tidak bisa gegabah. Suud dikenal mempunyai kemampuan luar biasa, tidak sekedar jago tembak. Dia mempunyai pengalaman dalam berbagai operasi khusus. Untuk melukiskan kemampuan Suud, ada yang menganggap kemampuannya setara dengan sepuluh pasukan biasa. Suud memang diajarkan survival. Sehingga celah sedikitpun bisa dia pergunakan untuk melarikan diri. Kabarnya rantai kapal aja bisa dia patahin. Makanya borgol di kakinya berhasil dicopot tanpa dirusak waktu kabur dulu.

Baik Suud maupun Syam Ahmad Sanusi adalah anggota pasukan Intai Amfibi (Taifib) Angakatan Laut. Mereka bukan tentara biasa. Pasukan inti di Kesatuan Marinir yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Kemampuan tersebut diraih setelah ditempa melalui pendidikan yang sangat ketat serta melewati ujian yang sangat berat.Jadi kalau misalnya Marinir atau Kopassus menembak ke sasaran pakai pisau (komando) itu dari depan. Kalau pasukan Taifib, membelakangi sasaran juga bisa, dan tepat sasaran. Pasukan ini direkrut dari kesatuan Marinir AL. Selain fisik prima, calon Taifib juga dituntut memiliki IQ tinggi. Sebab, pasukan elite yang sering digunakan untuk penyusupan di daerah operasi itu harus mampu menghadapi berbagai masalah, baik secara individu mapun kelompok. Mereka dituntut mampu melaksanakan tugas rahasia secara sempurna di baik di hutan, laut bahkan udara. Mereka harus mampu menyusup dengan terjun payung, bergerak lincah di laut dengan daya tahan tinggi, serta survive di darat.

Marinir adalah pasukan khusus dari AL, setara dengan Kopassus sebagai pasukan khusus AD. Sedangkan Taifib adalah pasukan lebih khusus lagi atau prajurit pilihan dari Marinir. Batalyon Taifib / inti amphibi marinir bergabung dengan Komado Pasukan Katak (Kopaska) menjadi satu kesatuan yakni Detasemen Jalan Mangkara atau biasa dikenal DENJAKA. Yang membedakan tugas pokok DENJAKA adalah anti teror dan anti sabosate. Dalam menjalankan misi rahasia anti teror, DENJAKA hanya bisa diperintah lewat Panglima TNI bukan oleh KSAL. Pendek kata DENJAKA adalah pasukan elit yang dimiliki oleh TNI AL. Pasukan ini kerap melakukan latihan gabungan dengan pasukan elit Amerika US Navy Seals dan US Marsoc.

Pernah disatu waktu, KPK diserbu oleh dua kompi (200 orang) bersenjata lengkap dari Mabes Polri untuk menangkap Kompol Novel Baswedan berkaitan dengan kisruh kasus korupsi Irjen Djoko Susilo. Ikut dalam penyerangan itu, Densus 88. Untuk menanggulangi ini, entah perintah dari mana, DENJAKA turun hanya kurang dari 30 orang untuk melindungi KPK. Dari sisi jumlah, DENJAKA lebih sedikit ketimbang provost dan Densus 88. Tetapi dari sisi kualitas tentu DENJAKA lebih terlatih. Ketika Densus 88 dan beberapa provost sudah memegang senjata laras panjang siap menyerbu DENJAKA hanya bilang: ”Kalau ada tembakan maka Denjaka terpaksa ikut campur”.

Jika seorang Suud sendiri dapat mengalahkan satu pleton pasukan militer dan kepolisian, dapata dibayangkan bagaimana kemampuan satu group DENJAKA. Misalnya dalam menangkap tersangka teroris. Yang selama ini ditangani oleh Densus 88 . Karena DENJAKA juga satu kesatuan anti teror, saya lebih memilih DENJAKA untuk mengatasi tersangka teroris. Dalam menjalankan operasinya lebih silent, rahasia dan efektif tanpa harus ada liputan media. Bravo DENJAKA.

Sumber:

http://news.detik.com/read/2007/08/17/160233/818535/10/syam-marinir-cerdas-yang-pernah-sekolah-ke-korea

http://news.liputan6.com/read/113804/suud-rusli-tiba-di-lp-militer-surabaya

http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/10/nas12.htm

http://www.kaskus.co.id/post/515ff1e21cd7190105000004

http://jihad-defence-indonesia.blogspot.com/2012/08/penangkapan-suud-rusli-pasukan-elit-tni.html

http://www.beritajatim.com/detailnews.php/4/Hukum_&_Kriminal/2012-02-28/128073/Kubu_Teroris_Vs_Suud_Rusli,_Lapas_Surabaya_Mencekam

http://tforce2009.wordpress.com/2009/06/05/denjaka-detasemen-jala-mengkara-salah-satu-pasukan-elit-indonesia/

http://bpn16.wordpress.com/2010/09/10/sulitnya-meraih-baret-intai-amfibi-pasukan-elite-marinir-dengan-kaki-dan-tangan-terikat-dibuang-ke-laut/

http://www.indonesiasik.com/2012/10/asik-mengenal-denjaka-elit-trooper.html

http://forum.detik.com/konflik-kpk-vs-polri-menjadi-denjaka-vs-densus-88-t542465.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Menanti Doraemon Menjadi Nyata …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 December 2014 | 11:36

Admin Kompasiana ‘Tertangkap …

Harja Saputra | | 22 December 2014 | 12:45

Mengintip Bali Orchid Garden …

Benny Rhamdani | | 22 December 2014 | 09:36

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 5 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 13 jam lalu

Waspada Komplotan Penipu Mengaku dari …

Fey Down | 15 jam lalu

Dear, Bapak Jonru… …

Wagiman Rahardjo | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: