Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Black Horse

Black Horse; Nomaden, single fighter defence http://www.occupytogether.org/

Ratu Elizabeth II Tikam Pinggang Sir Susilo Bambang Yudhoyono

OPINI | 05 May 2013 | 05:15 Dibaca: 3666   Komentar: 209   33

13677056471734585982

Sumber: http://freewestpapua.org/

Di antara hal yang dianggap tak penting oleh pers Jakarta hari-hari ini adalah mengenai peristiwa 28 April 2013 pekan lalu. Berita bilang, kantor Organisasi Separatis Papua (OPM) di Oxford, Inggris secara resmi di buka. Turut hadir pembukaan tersebut walikota Oxford, Mohammaed Niaz Abbasi, anggota Parlemen Inggris, Andrew Smith, dan mantan Walikota Oxford, Elise Benjamin. “Kami sangat senang mengumumkan markas baru kami di Oxford, UK kini resmi dibuka,” demikian pengumuman itu dalam situs, freewestpapua.org. http://freewestpapua.org/2013/04/28/new-free-west-papua-campaign-office-opens/

Pers Jakarta, seperti bisa ditebak, menstensil pernyataan koordinator Free West Papua Campaign (FWPC), Benny Wenda dalam situs itu tanpa kritisisme dan, … kali ini kita bisa menebaknya sendiri, pers kita gagal mendeteksi tikaman maut belati Ratu Ellizabet tepat di jantung Republik dari dalam, sebuah kedaulatan negara yang semestinya dilindungi dengan ongkos apapun dan siapapun.

Dan nampaknya, pers Jakarta lebih memilih diam dan bungkam, termasuk Kompas.

Pembukaan kantor perwakilan Papua Merdeka (OPM) tersebut, tentu sudah merobek lambung Republik Indonesia, khususnya  betapa tak berharganya anugerah gelar kesatria, “Knight Grand Cross in the Order of the Bath” yang didapat Susilo Bambang Yudhoyono dari Ratu Inggris pada 29/10/2012 lalu.  Sebuah hadiah dan “kaleng minuman” baru yang dengan itu Jakarta bersedia menyerahkan ladang minyak dan gas di Tangguh, Papua, kepada gergasi minyak dan gas raksasa Inggris, British Petroleum (BP).

Tapi, bungkamnya pers mengenai berita diatas mengesankan kalau Ratu Elizabeth memang sebagai pelindung, sebangsa malaikat penjaga kebenaran, dan karenanya insan pers Jakarta akan tetap tenang tidurnya sekalipun Indonesia menderita berdarah-darah.

Kata berita detik.com pada Sabtu, 04/05/2013, melalui Menlu Marty Natalegawa, pemerintah Indonesia telah mengirimkan nota protes ke pemerintah Inggris. Marty bilang, “Atas instruksi kami, Dubes RI di London telah menyampaikan posisi Pemerintah tersebut kepada Pemerintah Inggris”.

Berita bilang, Marty menilai pembukaan kantor tersebut tidak sesuai dan bertolak belakang dengan hubungan bersahabat yang selama ini terjalin di antara kedua negara. Dan bahkan posisi Pemerintah Inggris sendiri yang selama ini mendukung integritas wilayah NKRI termasuk di dalamnya Papua dan Papua Barat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah NKRI.

Tapi, ini kecerobohan ganda, sebab hal serupa pernah dimegavonkan Inggris dua tahun lalu saat London memfasilitasi OPM untuk menggelar konggres “West Papua? The Road to Freedom” di East School of the Examination Schools, 75-81 High Street, Oxford, Inggris dan Kongres Papua Merdeka beberapa bulan sebelumnya. Tapi itulah hebatnya anugerah “Knight Grand Cross in the Order of the Bath“, mampu membungkam SBY yang seolah tidak memandang penting Papua sebagai wilayah dan bagian dari kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

http://westpapuamedia.info/2011/07/26/west-papua-the-road-to-freedom-conference-oxford-uk-aug-2/

http://id.berita.yahoo.com/kongres-papua-iii-dibubarkan-karena-nyatakan-papua-merdeka-102337370.html

Dan komplikasi London itu kian nyata,  sebab Inggris yang notabene telah membaptis dirinya sebagai pilar kesadaran hukum dunia, justru akan mengeluarkan jantung Republik Indonesia dengan meminjam ‘tangan besi’ OPM. Inggris seolah-oleh lupa pada jingoisme dan teriakan nafas-nafas rakyat Skotlandia yang dalam dekade terakhir berontak ingin merdeka dari cengkraman kolonialisme Inggris yang kolot.

Dan nampaknya pers Jakarta perlu sedikit kemotherapi yang bungkam pada soal ini tanpa sebaris kritisisme. Sebuah keteledoran dan kemalasan berfikir yang fatal, yang menjadikan London begitu terlihat selalu nampak lebih mulia, berakhlak lebih tinggi, dan sebab itu punya hak untuk cawe-cawe dan bahkan berani mempreteli kedaulatan negara ini. Republik Indonesia.

Inikah yang sebenarnya balasan di balik puji-puji Cameron saat datang ke Republik ini? Inikah yang sebenarnya di balik kemurahan hati gelar Ratu Inggris kepada SBY itu? Lalu, jika semua ini benar adanya, kemana perginya Kemitraan Strategis kedua negara yang digadang-gadang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan hingga kini terus dicekokkan kesemua kalangan muda kita?

Di Papua sana, kita telah memberikan hampir segalanya untuk London (tentu saja dengan Washington) tapi setengah abad lebih lepas merdeka, tak ada yang kita dapat kecuali kehinaan dan kehinaan. Dan begitu seterusnya. []

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 9 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 11 jam lalu

ILC dan Rakyat yang Mata Duitan …

Jonny Hutahaean | 11 jam lalu

Belum Semua Kartu Jokowi Terbuka …

Hanny Setiawan | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: