Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Palti Siahaan

hidup tak akan indah bila tiada tantangan..

Urusi Masalah Waduk Pluit, Komnas HAM Cari Sensasi

OPINI | 14 May 2013 | 09:02 Dibaca: 1702   Komentar: 33   0

Kisruh relokasi warga di sekitar waduk Pluit, Jakarta Utara hingga kini masih berlanjut. Pihak Provinsi DKI Jakarta pun hingga kini belum bisa merelokasi warga sekitar ke tempat yang dinilai lebih layak.

Bahkan permasalahan rencana relokasi warga sekitar Waduk Pluit tersebut telah “mengundang” Komnas HAM untuk turjun langsung ke lokasi, Senin (13/5). Siane Indriani, anggota Komnas HAM yang turun langsung ke Waduk Pluit dan berbincang dengan warga sekitar.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta Sayogo Hendro Subroto dalam berita Kompas.com bahkan terkejut dengan adanya langkah dari Komnas HAM yang turun ke Waduk Pluit, Jakarta Utara.

Saya sendiri sangat terkejut membaca berita tersebut. Komnas HAM langsung turun ke Waduk Pluit dan berbincang dengan warga sekitar. Komnas HAM ternyata sekarang “tipis kuping” dan “cepat” menanggapi aspirasi warga yang merasa hak - haknya dihilangkan.

Keterkejutan saya berubah menjadi rasa geli dihati bila mengingat ternayata kasus dugaan pelanggaraan masih banya yang belum tuntas dikerjakan Komnas HAM, walaukasus yang tuntas ditangi Komnas HAM saya tidak tau apakah ada atau tidak. Apa maksud Komnas HAM ini turun ke Waduk Pluit? Apa tidak ada lagi kasus dugaan pelanggaran HAM yang “lebih” dari permasalahan relokasi di sekitar Waduk Pluit?

Dalam berita Kompas.com, anggota komisioner Komnas HAM mengatakan mereka sebelumnya dapat pengaduan dari warga sekitar Waduk Pluit. Sehingga Komnas HAM pun turun ke lapangan.

Kisruh relokasi ini bermula dari niatan pihak Pemprov DKI Jakarta yang hendak melakukan normaliasi Waduk Pluit. Karena saat ini terjadi penyempitan waduk yang semula seluas 80 hektar menyusut jadi 60 hektar lantaran banyaknya permukiman warga sekitar.

Rencana relokasi ternyata ditolak warga sekitar. Banyak alasan yang diutarakan warga atas penolakan relokasi termasuk pemindahan ke rumah susun. Ada juga warga yang minta ganti rugi padahal tanah disekitar waduk merupakan milik negara.

Didalam proses negoisasi ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki disebut mengatakan menduduki tanah negara dan tidak mau pindah adalah ilegal. Juga terucap dari Basuki yang menyebut warga komunis karena menduduki tanah negara.

Menurut Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo penyelesaian relokasi warga di sekitar Waduk Pluit ini tidak bisa sebentar. Jokowi memperkirakan penyelesaian relokasi diperkitakan akan berlangung selama dua tahun ini.

Inilah yang membuat geli hati saya melihat langkah cepat Komnas HAM mendatangi warga sekitar Waduk Pluit. Pihak Pemprov DKI Jakarta sendiri menyebut proses negoisasi sedang berjalan.

Saya jadi bertanya - tanya, apakah kasus - kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia ini sudah selesai? Kalau belum mengapa langkah cepat Komnas HAM ke Waduk Pluit?

Saya akan bertanya, bagaimana nasib penganut Ahmadiyah di Bekasi dan daerah lainnya di Indonesia yang tidak bisa beribadah? Sudahkan selesai Komnas HAM?

Penganut Kristen yang merupakan umat GKI Yasmin di Bogor serta beberapa daerah lainnya di daerah Propinsi Jawa Barat? Sudahkah diinvestigasi dan diberikan solusinya Komnas HAM? Dan bagaimana sekarang kasusnya?

Saya bertanya lagi, begitu banyak kasus sengketa lahan di Indonesia ini, antara perusahaan dan masyarakat. Dan saya yakin masyarakat sudah pasti menyampaikan aspirasinya ke Komnas HAM. Tidak perlu jauh - jauh. Contoh kecil, permasalahan sengketa lahan PT RAKA dengan warga sekitar di Kabupaten Kampar, Riau. Rekan saya sudah melaporkan permasalahan ini langsung ke Komnas HAM. Satu orang pihak Komnas HAM datang namun mengatakan kedatangannya bukan atas nama institusi namun pribadi.

Kasus sengketa lahan lahan banyak terjadi. Di Riau, Sumatera Selatan, Sumatera Utara dan daerah lainnya. Sudahkan dituntaskan Komnas HAM?

15 tahun yang lalu, kasus Tragedi Trisakti 1998 hingga kini belum juga terungkap. Keluarga korban setiap tahun terus menuntut kasus ini terungkap. Namun apa yang terjadi Komnas HAM? Apa yang sudah kalian lakukan dan apa hasilnya Komnas HAM?

Masih banyak lagi kasus - kasus yang dugaan pelanggaran HAM sangat kuat. Namun hingga kini belum tersentuh. Inilah dasar saya menjadi geli setelah terkejut membaca berita bahwa Komnas HAM turun ke Waduk Pluit.

Selain geli, langkah Komnas HAM turun ke lokasi Waduk Pluit ini menurut saya tak lebih dari sekedar mencari sensasi sesaat. Sensasi saya katakan sebab kegiatan yang dilakukan Pemprov DKI saat ini menjadi sebuah magnet bagi dunia jurnalistik di Indonesia. Pemprov DKI Jakarta menjadi salah satu sorotan utama media untuk melihat gebrakan duet Jokowi - Ahok memimpin perubahan Jakarta.

Beberapa bulan lalu komisioner Komnas HAM yang ada sekarang ini sendiri ribut dalam membuat aturan yang mengatur proses pergantian ketua secara periodik. Dituding penggunaan mobil dinas bagi ketua menjadi motivasi pembuatan aturan yang mengatur proses pergantian ketua komisioner secara periodik tersebut.

Sudah sepatutnya, Komnas HAM fokus pada permasalahan yang menjadi perhatian publik serta yang dugaan pelanggaran HAMnya kuat. Tangani satu kasus dan tuntaskan. Jangan buat kasus tersebut mengambang seperti saat ini.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 12 jam lalu

Haru Biru di Kompasianival 2014 …

Fey Down | 17 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 20 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 22 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri iniā€¦ …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51


HIGHLIGHT

Aku Muak!!! [Lisal] …

Singgih Swasono | 10 jam lalu

Kalau di Tokyo Berada di Stasiun yang Salah …

Andre Jayaprana | 10 jam lalu

High Lifestyle, Low Happiness …

Azzahra Khairunnisa | 10 jam lalu

Is It Date? di Rumah Sakit? …

Irma Sri Nurwati Ut... | 10 jam lalu

Uang Penglaris …

Isti | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: