Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Profesionalisme TNI Tidak Pandang Bulu, Anak Presiden Tetap Ikut Seleksi Seskoad

OPINI | 17 June 2013 | 17:22 Dibaca: 1813   Komentar: 1   0

Reformasi TNI telah dihembuskan pasca reformasi pemerintahan pada tahun 1998 yang ditandai dengan berpisahnya TNI dan Polri melalui disahkannya UU Nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara. Sejak saat itu, upaya meningkatkan profesionalisme prajurit TNI terus dilakukan dengan berpedoman kepada UU Nomor 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, khususnya Pasal 2 Ayat d UU Nomor 34 tahun 2004 tentang TNI, yaitu, “tentara profesional adalah tentara yang terlatih, terdidik, diperlengkapi secara baik, tidak berpolitik praktis, tidak berbisnis, dan dijamin kesejahteraannya, serta mengikuti kebijakan politik negara yang menganut prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional, dan hukum internasional yang telah diratifikasi.”

Berdasarkan hal di atas, upaya peningkatan profesionalisme TNI diwujudkan dalam pelaksanaan pendidikan, latihan, serta dengan membangun perlengkapan dan Alutsista yang canggih. Upaya tersebut tentunya tidak akan terwujud apabila TNI tidak dijauhkan dari politik praktis sebagai peninggalan Dwi Fungsi TNI pada masa Orde Baru. Hal lain yang menjadi perhatian adalah memutuskan aktivitas TNI aktif dalam kegiatan bisnis sehingga lebih fokus terhadap tugas yang diberikan. Sebagai konsekuensinya, kesejahteraan prajurit TNI harus diperhatikan.

Indikator selanjutnya dalam profesionalisme TNI adalah kepatuhan terhadap supremasi sipil dan prinsip-prinsip demokrasi. Dengan demikian TNI harus menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia serta tunduk kepada ketentuan hukum nasional maupun internasional yang telah diratifikasi. Hal ini penting dilakukan untuk mengembalikan citra TNI di mata dunia yang kerap diberitakan sebagai tentara yang tidak memahami kaidah-kaidah Hukum Humaniter dan Hak Azasi Manusia.

Peningkatan bidang pendidikan sebagai syarat TNI yang profesional merupakan bagian dari bidang pembinaan personel yang secara utuh meliputi penyediaan, pendidikan, penggunaan, perawatan dan pemisahan. Seluruh kegiatan pembinaan tersebut terkait satu sama lain. Khusus kegiatan penggunaan, hal ini memiliki hubungan yang erat dengan pola pembinaan karir dimana prajurit penggunaan prajurit adalah dengan ditempatkan dalam jabatan-jabatan sesuai dengan kompetensinya. Selain berdasarkan pada pendidikan, pola karir juga mempertimbangkan prestasi selama berdinas khususnya dalam penugasan operasi.

Dalam rangka mendukung profesionalitas prajuritnya, maka TNI sangat memperhatikan aspek pendidikan. Pendidikan itu sendiri dibagi menjadi 2, yaitu pendidikan umum dan pendidikan militer. Yang dimaksud dengan pendidikan umum adalah pendidikan yang ditempuh diluar institusi militer baik sebelum maupun selama menjadi prajurit TNI. Pendidikan ini meliputi pendidikan dari jenjang SD, SMP dan SMA sampai dengan Perguruan Tinggi.

Sementara itu, pendidikan militer terdapat pendidikan pengembangan spesialisasi dan pendidikan pengembangan umum. Pendidikan spesialisasi adalah pendidikan yang diberikan kepada prajurit dalam rangka meningkatkan kemampuan mereka berdasarkan spesialisasi jabatan yang didudukinya. Sedangkan yang dimaksud dengan pendidikan pengembangan umum adalah pendidikan berjenjang sebagai syarat untuk pindah golongan. Disebut pendidikan berjenjang karena harus melalui pendidikan sebelumnya, misalnya untuk mengikuti Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat), maka seorang Perwira TNI AD harus pernah mengikuti pendidikan Diklapa (Pendidikan Lanjutan Perwira - level Perwira Pertama menuju Perwira Menengah). Sementara untuk mengikuti Diklapa harus melalui Sussarcab (Kursus Dasar Kecabangan - level taruna menuju Perwira).

Tujuan dilaksanakannya Seskoad adalah menyiapkan Pamen terpilih untuk menduduki jabatan Golongan V dan eligible Golongan IV. Bagi Perwira Menengah TNI AD, proses menuju bangku Seskoad di Jl Gatot Subroto Bandung ini sangat berat karena melalui proses seleksi yang sangat panjang waktunya (hampir 1 tahun) dan melelahkan karena terdiri dari beberapa Tahap dengan Materi yang beragam. Adapun materi yang diujikan meliputi Kelengkapan Administrasi, Kesegaran Jasmani, Kesehatan, Psikologi dan Kesehatan. Sedangkan tahapan tes dilaksanakan mulai dari satuan asal, Kotama tempat Perwira tersebut bertugas, sampai dengan tingkat pusat di Seskoad Bandung. Aspek lain yang menjadi penilaian adalah kinerja dan prestasi selama Perwira tersebut bertugas. Terkait dengan hal ini, dipastikan bahwa Perwira yang pernah menghadapi permasalahan selama pelaksanaan tugasnya tidak akan mendapatkan kesempatan pertama untuk mengikuti seleksi Seskoad.

Proses seleksi Seskoad ini, tanpa terkecuali juga diikuti oleh Putra Presiden SBY, yaitu Mayor Inf Agus Harimurti Yudhoyono yang saat ini bertugas di Brigade Infanteri 17/L Kostrad. Kepala Seksi Operasi satuan elit Angkatan Darat ini mengikuti seluruh rangkain tes bersama dengan Perwira lain yang sebagian besar adalah rekan seangkatannya Perwira lulusan Akademi Militer tahun 2000. Memang masih ada beberapa senior yang belum berhasil pada tahun sebelumnya mencoba mengikuti tes ini lagi pada tahun ini.

Tidak ada keistimewaan bagi Mayor Agus selama mengikuti tes ini dan memang tidak ada keinginan baik dari yang bersangkutan apalagi Ayahandanya, Presiden SBY, agar Mayor Agus mendapatkan keistimewaan. Hal ini merupakan wujud komitmen dari Presiden terhadap profesionalisme TNI yang selalu beliau tekankan kepada Pimpinan TNI dalam berbagai kesempatan. Bersama dengan peserta seleksi Seskoad yang lain, Mayor Agus telah melalui Tes Administrasi, Kesehatan dan Kesegaran Jasmani Tingkat Daerah.

Tes Administrasi dilaksanakan paling awal karena bertujuan menyeleksi riwayat penugasan calon peserta tes. Tim Seleksi akan memastikan bahwa calon kandidat tidak memiliki catatan khusus selama penugasannya yang meliputi pelanggaran maupun kelalaian saat menduduki berbagai jabatan selama karirnya. Selanjutnya kandidat melaksanakan Tes Kesehatan untuk memastikan bahwa mereka dalam keadaan sehat dan mampu melaksanakan pendidikan selama satu tahun penuh dan terutama lagi agar kandidat tidak memiliki kendala dalam melanjutkan karir yang lebih strategis selepas menyelesaikan Seskoad. Materi tes lain yang dilaksanakan kandidat Siswa Seskoad adalah Tes Psikologi dan Kesehatan Jiwa yang bertujuan mengukur kondisi psikologis dan kesehatan jiwa Perwira untuk dapat melaksanakan tugas-tugas dalam kondisi tertentu. Tes ini sangat penting karena dalam kondisi penugasan sebenarnya, banyak Perwira yang dipaksakan untuk menduduki jabatan tertentu mengalami kegagalan karena hal-hal yang bersifat psikologis, misalnya ketidakstabilan emosi yang berakibat pada permasalahan dengan senior maupun penanganan permasalahan di satuan yang dipimpinnya.

Selanjutnya Perwira kandidat siswa Seskoad menjalani Tes Kesegaran Jasmani yang meliputi lari 3,2 Km, push up, sit up, pull up dan shuttle run. Ada nilai tertentu yang harus dilalui dan masing-masing peserta berkompetisi untuk mendapatkan nilai tertinggi. Setelah tahap ini selesai, maka Perwira menunggu pengumuman untuk mengikuti Tahap Seleksi berikutnya, yaitu Seleksi Akademik yang saat ini sedang dilaksanakan dari tanggal 17 – 20 Juni 2013. Seleksi Akademik meliputi tes pengetahuan umum, taktik tingkat Angkatan Darat, Bahasa Inggris dan menulis esai. Selanjutnya, Perwira yang lolos pada Tahap ini akan melanjutkan ke Tahap Seleksi Akhir yang dilaksanakan di Seskoad Bandung pada akhir tahun ini dengan materi yang hampir sama dan ditambah dengan tes esai dan memaparkannya dihadapan Tim Seleksi.

Pelaksanaan prosesi seleksi pendidikan Seskoad merupakan bagian dari Pembinaan Karir yang sangat menentukan karena selain membekali Perwira Menengah dengan pengetahuan yang lebih tinggi, juga bisa menjadi salah satu saringan bagi Perwira untuk menduduki jabatan Staf dan Komando yang lebih tinggi dan strategis. Turut sertanya Mayor Agus dalam proses seleksi Seskoad ini merupakan Komitmen yang tentunya menjadi semangat positif bagi seluruh Perwira TNI dimana kompetisi karir di TNI berlangsung sangat terbuka bagi siapapun yang mampu. Pendidikan yang professional dan kompetitif dalam Pola Binkar TNI AD merupakan komitmen TNI untuk mewujudkan profesionalisme prajuritnya. Profesionalisme yang sebenarnya, tidak memandang asal usul dan latar belakang Perwira dalam karir. Siapa yang mampu dan berprestasi, maka dia akan dapat meneruskan karirnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Kejutan Tingkah Polah Remaja di Lokasi …

Dhanang Dhave | | 22 December 2014 | 11:47

Rimba Beton dalam Labirin Kota …

Ratih Purnamasari | | 22 December 2014 | 11:25

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 6 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 10 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 10 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 18 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 18 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: