Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Ay_satriya Tinarbuka

Mahasiswa abadi jurusan Filsafat Sastra Mesin di kampus kehidupan ... :D

Dibalik Berita Penyadapan SBY

OPINI | 06 August 2013 | 14:56 Dibaca: 465   Komentar: 0   1

Enggak kayak Jaelangkung, intelejen datang tak terlihat dan pergi tanpa jejak. Tapi kenapa Intelejen Australia justru gembar-gembor berhasil menyadap SBY?

Bukankah gembar-gembor itu bikin pemerintah Indonesia makin waspada sehingga intelejen Australia makin sulit menyadap lagi? Atau Intelejen Australia udah menganggap bahwa Indonesia engga bakalan mampu menangkal penyadapannya? Walah, ini parah!

Tapi kalo mau jujur, sistem politik di Indonesia memang membuka peluang bagi intelejen asing untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi.

Sebelum membahas lebih lanjut, kita buka lagi beberapa lembar sejarah. Kwik Kian Gie pernah sewot karena ada seorang pejabat yang rajin “melapor” ke Amerika terkait kebijakan yang diambil pemerintah. Pak Kwik boleh sewot, sedangkan saya menganggap bahwa pejabat itu niatnya engga melaporkan, tapi berkonsultasi dengan Amerika. Maklum, pejabat itu jebolan universitas di Amerika, amat wajar jika sang murid berkonsultasi dengan gurunya. Hanya saja, materi konsultasi itu bisa dimanfaatkan oleh intelejen ekonomi.

Sang pejabat di atas mungkin tak merasa bahwa dirinya menjadi alat penyadap yang efektif, meskipun pejabat tersebut tidak memiliki profil sebagai orang yang tega menjual negara. Beliau hanya bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral yang beliau percayai. Hanya saja, mungkin masih kurang pengetahuan tentang liciknya dunia intelejen.

Jadi, menyadap kebijakan pemerintah tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. Pejabat yang bermoral dan penuh dedikasi pun bisa dijadikan alat penyadap. Akan lebih mudah lagi jika ada pejabat yang narsis, pasti mudah banget merekrutnya. Padahal, banyak pejabat kita yang diangkat dari kaum politisi, dan kaum politisi sudah pasti narsis untuk meningkatkan elektabilitasnya.

Sistem politik tidak hanya membuka peluang merekrut pejabat untuk penyadap informasi, tapi juga mampu membuat orang biasa berhasil memanfaatkan kebijakan pemerintah. Coba kita lihat Ahmad Fathanah. Apakah ia seorang pejabat? Apakah kader partai? Bukan! Tapi dia adalah orang yang banyak menerima kenikmatan dari kebijakan impor daging sapi berkat kekuatan partai! Nah lo! Bagemana klo orang kayak Ahmad Fathanah dimanfaatkan intelejen asing?

Terlebih saat ini jagad intelejen tengah diguncang oleh kasus Edward Snowden, maka intelejen akan bergerak dengan memanfaatkan orang-orang yang punya akses seperti Ahmad Fathanah untuk menghindari adanya pegawai yang tiba-tiba beralih menjadi peniup peluit kayak Edward Snowden.

Eh, kok malah ngelantur … balik lagi ke penyadapan …

Berita penyadapan SBY oleh Intelejen Australia cuman heboh di Indonesia, sedang di Australia sendiri adem-adem aja. Hal ini menunjukkan bahwa berita ini memang didesain untuk menghebohkan Indonesia, bukan kedua belah pihak. Dengan kata lain, berita itu sendiri sudah menjadi sebuah misi intelejen.

Lalu apa tujuannya? Entahlah … Apapun tujuannya, kemunculan berita ini sudah menjadi bola salju, tak ada yang bisa menghentikanya.

Kalopun kita tahu tujuannya, kayaknya akan sia-sia. Karena intelejen selalu “bertaruh untuk kedua sisi mata uang“.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Apakah Rumah Tangga Anda dalam Ancaman? …

Agustinus Sipayung | | 23 July 2014 | 01:10

Mudik? Optimalkan Smartphone Anda! …

Sahroha Lumbanraja | | 23 July 2014 | 02:49


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: