Back to Kompasiana
Artikel

Hankam

Muhammad

Seorang pengagum kejujuran, meski jujur itu sulit, tapi menjadi jujur lebih berharga dari sebongkah permata. selengkapnya

Setelah Timor-Timur (Timor Leste) Kini (Freedom Frotilla) Australia Melirik Papua

REP | 13 September 2013 | 22:34 Dibaca: 1030   Komentar: 2   0

Tulisan ini bisa jadi dianggap terlalu tendensius karena menjadikan Australia sebagai subyek terjadinya konflik di Papua dan terlepasnya Timor-Timur dari bumi pertiwi. Tapi memang tulisan ini sekedar memberikan gambaran bahwa di balik segala bentuk konflik di Indonesia sebenarnya berawal dari terpikatnya Australia kepada bumi Cendrawasih. Sebuah pernyataan yang mungkin menurut orang-orang intelek dianggap terlalu berlebihan lantaran selama ini hubungan baik antara Indonesia dan Australia dianggap baik dalam tanda kutip.

Kenapa langsung menganggap Australia sebagai penyebab lepasnya Timor Timur dan saat ini papua dirundung konflik yang tidak ada habis-habisnya, karena begitu mudahnya OPM mendapatkan akses persenjataan taktis yang tentu saja sulit diperoleh kalau tidak mendapatkan bantuan dari negara ini. Padahal dari sisi masyarakat Papua sebenarnya masyarakat papua menginginkan perdamaian. Namun demikian sampai saat ini ternyata konflik ini tidak juga berhenti hingga memakan korban baik dari warga sipil maupun aparat keamanan yang tentu saja menjadikan tanah papua berdarah-darah dan dirundung duka. Seperti halnya yang yang terjadi di tanah Timor Leste pra kemerdekaan dengan begitu banyak konflik yang terjadi sampai memakan banyak korban.

Seperti dipublikasikan dalam penelitian mahasiswa FIS UNY bahwa Timor Leste adalah sebuah negara baru yang melepaskan diri dari Indonesia melalui jajak pendapat yang dilakukan pada 30 Agustus 1999 dan merdeka pada 20 Mei 2002. Sebelum menjadi negara merdeka, wilayah ini bernama Timor Timur. Timor Timur merupakan provinsi dari negara Indonesia dari tahun 1976-1999. Akhirnya Timor Timur melakukan referendum dan Australia menjadi negara yang terlibat dalam permasalahan di Timor Timur.

Hasil penelitian tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa sebenarnya memang Australia sengaja menjadikan Papua sebagai negara boneka yang tentu saja karena tanah papua adalah salah satu wilayah yang sangat kaya, kandungan emas yang sampai saat ini belum habis dikeruk oleh perusahaan AS, hutan dan hasil laut yang berlimpah serta kekayaan lain di bumi intan hitam ini yang sampai saat ini belum tergali.

Karena kekayaan yang begitu berlimpah menjadikan negara asing dalam hal ini Australia yang dimotori oleh kelompok freedom frotilla berusaha menjadikan isu hak asasi manusia dan ketimpangan dari sisi ekonomi sebagai tameng misi mereka dalam menyerukan pembebasan papua. Walau tidak ada bukti empiris yang menunjukkan keterkaitan pemerintah Australia dan LSM Freedom Frotilla dalam proses infiltrasi ke wilayah NKRI akan tetapi keberadaan lembaga swasta yang digerakkan oleh suku Aborijin tentu saja sedikit banyak merupakan indikator keusilan Australia atas keutuhan NKRI dengan dalih bahwa selama ini rakyat Papua dianggap tidak kondusif, tidak aman dan ada ketimpangan ekonomi. Meski dengan alasan tersebut menunjukkan bahwa Fredom Frotilla sudah berusaha membuka bara yang kini tengah diredam dengan kehadiran pasukan keamanan sebagai wujud kepedualian kedamaian bumi cendrawasih.

Tindakan Freedom Frotilla ketika melakukan penyusupan ke wilayah NKRI sedikit banyak sudah berani unjuk gigi dan sengaja memancing ikan di air keruh atas apa yang dialami masyarakat Papua. Seperti dirilis dalam situsnya:

Rombongan aktivis Australia yang menamakan diri Freedom Flotilla berhasil masuk ke wilayah teritorial Indonesia dan melakukan persembahan air dan abu secara simbolis kepada pemimpin adat Papua. Kepada ABC, koordinator aktivis Izzy Brown menjelaskan, rombongan perahu layar itu menerobos wilayah Indonesia Kamis (12/9/2013) malam setelah menempuh pelayaran 5000 km dari Australia. Upacara simbolis itu berlangsung di perairan selatan Papua, namun lokasi pastinya dirahasiakan demi pertimbangan keamanan.

Entah berita ini sekedar mencari sensasi atau upaya provokatif akan tetapi upaya untuk menyusupi dan mempengaruhi dunia internasional amat kentara dengan tujuan agar konflik di papua dapat dijadikan alasan yang menguatkan mereka akan kemerdekaan papua. Padahal jika dilihat kondisi masyarakat papua secara umum mereka masih menghendaki kedamaian papua. Oleh karena itu gerakan ini tidak dapat dianggap sebelah mata, atau justru ada gerakan bawah tanah yang difasilitasi masyarakat asli Papua yang sengaja memanfaatkan situasi ketidakstabilan masyarakat Papua.

http://freedomflotillawestpapua.org/2013/09/13/papua-us-aktivis-freedom-flotilla-tiba-di-merauke-tebarkan-abu-dan-air-diatas-tanah-papua/

http://library.fis.uny.ac.id/index.php?p=show_detail&id=1017

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 9 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 10 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 13 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 14 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: